logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Sekolah Diimbau Bina Siswa yang Tak Lulus

TEMANGGUNG - Sekolah-sekolah di Kabupaten Temanggung yang pada kelulusan 2005 ini tidak dapat meluluskan semua siswanya, mendapat imbauan agar membina siswa-siswa yang tidak lulus tersebut.

Pembinaan itu dengan memberikan semacam bimbingan kepada mereka tentang mata pelajaran yang akan diujikan lagi pada ujian nasional (UN) tahap II (22-24 Agustus). Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Temanggung Endro Martono, Selasa (12/7).

Menurut keterangannya, meskipun siswa yang tidak lulus tersebut kini juga dapat pula terdaftar sebagai siswa di sekolah lanjutan tingkat atasnya tetapi sekolahnya semula atau yang ditinggalkan masih memiliki tanggung jawab moral membinanya.

Sebab, lanjutnya, persentase kelulusan dapat pula mencerminkan sejauh mana pertanggungjawaban sekolah itu kepada masyarakat. Dengan kata lain, bila suatu sekolah hanya dapat meluluskan sedikit siswanya maka pertanggungjawaban kepada masyarakat akan mendapat nilai kurang dan demikian pula sebaliknya.

Akan Berpengaruh

Di samping itu, persentase kelulusan juga akan berpengaruh pada reputasi sebuah sekolah di mata masyarakat. Masyarakat biasanya akan menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah yang mampu meluluskan sebagian besar atau bahkan semua siswanya.

Endro Martono berpendapat, meski para siswa yang tidak lulus telah menjadi siswa baru di sekolah lanjutannya, mereka tidak akan terlalu jenuh mengikuti pembinaan dari sekolah semula. Karena pada praktiknya, pada awal tahun pelajaran baru proses pembelajaran di sekolah-sekolah belum penuh (efektif).

Secara terpisah, Ketua PGRI Temanggung Sumardi juga telah memberikan arahan kepada para guru untuk membimbing siswanya yang tidak lulus. Dan para guru itu pun, ujarnya, dapat memahami arahan tersebut. Pemahaman para guru tersebut selain didasarkan oleh rasa tanggung jawab kepada siswanya yang tidak lulus, juga karena mereka paham akan kemampuan tiap-tiap siswa dalam menyerap mata pelajaran tidak sama.

Menurut pandangannya, sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih menggunakan sistem kelas. Yaitu semua siswa yang berada dalam satu kelas dianggap kemampuan menyerap pelajarannya sama, padahal tidaklah demikian. (hsf-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA