logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 SALA
Line

Tanah Longsor Tidak Asing Lagi di Sepanjang Jalan Boyolali-Selo

BENCANA tanah longsor di sepanjang jalan Boyolali-Selo tampaknya sudah akrab dengan warga di sepanjang jalan tersebut. Jalan sepanjang 25 kilometer itu setiap musim hujan tidak luput dari longsoran tanah. Reruntuhan tanah yang berasal dari tebing itu terkadang menimbulkan kemacetan arus lalu lintas. Rawan longsor disebabkan di sepanjang jalan tembus menuju Magelang itu banyak tebing. Dampaknya, setiap musim hujan tebing sering kali ambrol sehingga memenuhi ruas jalan.

Sartono (35), warga Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, menuturkan, sejak satu minggu belakangan ini sudah empat kali terjadi tanah longsor di sepanjang jalan tersebut. Tetapi bencana alam itu tidak menimbulkan kemacetan arus lalu lintas menuju Selo atau Magelang. Sebab, begitu longsor warga sekitar segera kerja bakti membersihkan reruntuhan tanah.

Yang dikhawatirkan adalah bila tebing yang berada di kanan-kiri jalan itu runtuh secara bersamaan dalam skala besar. Hal itu akan menimbulkan kemacetan arus lalu lintas dan untuk membersihkan longsoran tanah dibutuhkan alat-alat berat.

Padahal yang dipunyai warga hanya cangkul, linggis, dan alat pertanian yang sederhana. ''Karena itu saya meminta kepada pemerintah agar menyediakan alat-alat berat sehingga bila terjadi bencana tanah longsor dapat segera diatasi,'' kata Sartono.

Bila Dibutuhkan

Camat Selo Luwarno mengatakan, bencana tanah longsor memang tidak asing lagi bagi warga Selo. Bahkan rawan tanah longsor tidak hanya terjadi di sepanjang jalan Boyolali-Selo saja, tetapi beberapa desa yang berdekatan dengan Gunung Merapi-Merbabu, pada musim penghujan juga rawan dengan tanah longsor.

Bencana rumah roboh belum lama ini menimpa sejumlah warga di Desa Jeruk. Karena itu, pihaknya memutuskan agar rumahnya dipindah di daerah yang lebih aman.

Bila masih bertahan akan kembali terkena bencana alam lantaran berada di kaki Gunung Merbabu. Mengenai rawan longsor di sepanjang jalan Boyolali-Selo, Luwarno menuturkan, sebenarnya bisa diatasi dengan membentengi bangunan beton di pinggiran tebing, tetapi hal itu memerlukan biaya yang sangat besar.

Untuk menekan longsoran tanah pihaknya mengimbau kepada warga masyarakat agar melakukan penghijauan dengan menaman pohon di pinggiran jalan.

Cara ini lebih efektif dan murah. Selain itu bila curah hujan tinggi hendaknya berhati-hati bahkan kalau perlu menunda perjalanan. ''Ini langkah preventif untuk menghindari ancaman tanah longsor,'' kata Luwarno.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perhubungan dan Kebersihan (DPUPK), Moch Ashuri mengatakan, pemerintah bergerak cepat mendatangkan alat-alat berat bila longsoran tanah menimbulkan kemacetan. Hal ini sering dilakukan sehingga arus lalu lintas tidak macet. ''Jadi, kami menyediakan alat-alat berat tetapi baru digunakan bila dibutuhkan,'' kata dia. (Suti Harjoyo-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA