| Senin, 11 Juli 2005 | SALA |
Kinerja Tim Teknis Dipertanyakan
KOTA - Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pembangunan Kembali Pasar Nusukan DPRD Surakarta Bimo Putranto mempertanyakan kinerja Tim Teknis Pemkot yang tidak segera menyosialisasikan ke warga. "Tim Teknis seharusnya bisa segera menyosialisasikan karena masih ada sejumlah warga yang menolak pembangunan pasar darurat di Lapangan Prawit. Saya khawatir permalasahannya akan semakin berkembang jika tidak segera diselesaikan," ungkap dia kepada Suara Merdeka, Minggu (10/7). Tim yang beranggotakan DPU, Dinas Pengelolaan Pasar, Bagian Hukum dan HAM, Bappeda, serta Kantor Keuangan Daerah itu diharapkan tidak menunda pelaksanaan sosialisasi. Sebab, cepat tidaknya pelaksanaan pembangunan Pasar Nusukan sangat bergantung pada kepastian pembangunan pasar darurat. "Saya sudah menelepon Jumat (8/7) lalu karena katanya sosialisasi akan dilakukan hari itu. Katanya diundur Sabtu tapi ternyata sampai sekarang juga belum dilakukan." Anggota Fraksi PDI-P ini menegaskan, Pansus tidak memiliki wewenang untuk menyosialisasikan kepada warga di sekitar lapangan yang berlokasi di RT 1 RW 2, Kelurahan Nusukan itu. "Sosialisasi memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab tim teknis. Meski demikian, bukan berarti kami lepas tangan. Pansus akan selalu siap bila dilibatkan karena memang permasalahannya tidak sederhana." Hingga kini, masih ada sejumlah penolakan warga terkait dengan rencana penggunaan Lapangan Prawit menjadi pasar darurat. Sementara itu, 15 sekolah yang semula menyatakan keberatannya lantaran khawatir bisa mengganggu kegiatan pembelajaran akhirnya bisa menerima rencana tersebut. Sebab, sejumlah sekolah tersebut masih bisa menggunakan sepertiga lahan lapangan untuk kegiatan olahraga. Masih Konsolidasi Kasubdin Kebersihan dan Pemeliharaan Pasar pada Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Yob S Nugroho yang juga anggota tim teknis mengemukakan, belum terealisasinya sosialisasi yang menurut rencana digelar pekan lalu karena kini Pemkot masih terus berkonsolidasi intern sehingga belum memungkinkan untuk menggelar acara tersebut sesuai dengan rencana. "Kami memiliki beberapa kesibukan lain sehingga belum memungkinkan untuk mengadakan sosialisasi pada pekan lalu. Kami baru akan menggelarnya pada pertengahan pekan ini," tutur dia ketika dihubungi, kemarin. Pada bagian lain, dia menyatakan Pemkot bakal pusing tujuh keliling jika rencana pembangunan pasar darurat untuk pedagang Pasar Nusukan di Lapangan Prawit tetap ditolak warga. Sebab, Pemkot tidak mungkin membuat penampungan sementara di sepanjang Jalan Kapten Pierre Tendean ataupun Jalan Adisumarmo yang tak jauh dari pasar terbesar di Solo utara tersebut. "Pembangunan pasar darurat di sepanjang jalan akan menuai protes yang lebih besar lagi karena bukan hanya menyangkut warga sekitar melainkan juga masyarakat yang lebih besar, yaitu pengguna jalan lain." Alasan lain tidak mungkin ada penempatan pedagang di jalan adalah kekawatiran Pemkot pascakonstruksi pasar yang dibangun investor. Dia memperkirakan, ada kemungkinan pedagang enggan masuk pasar dan memilih berjualan di tepi jalan. Hal itu akan membuat jalan yang lebarnya tak seberapa tersebut kian semrawut. Berbeda jika mereka menempati lapangan yang akan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas yang akan dibongkar sehingga mau atau tidak mau pedagang akan pindah pascakonstruksi. Bimo mengemukakan, keberadaan pasar darurat bakal memunculkan gangguan terutama akibat aktivitas pasar. Namun keberadaannya bakal berdampak positif, antara lain untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi para penganggur di wilayah setempat. (G18,G13-42j) |