logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 SALA
Line

"Yang Diruwat Itu Orang, Bukan Bumi"

KOTA - Sampai saat ini masih terdapat salah pengertian sebagian masyarakat soal tradisi ruwatan. Menurut dalang kondang Ki H Manteb Soedharsono yang juga dikenal sebagai dalang ruwatan, tradisi itu hanya untuk orang-orang yang dianggap memiliki sukerta(hal-hal yang tidak baik) dalam kehidupannya.

"Sejatosipun, mboten wonten naminipun ngruwat bumi. Pramila kula mboten purun menawi dipun dawuhi ngruwat bumi. Ingkang wonten sedekah bumi (Sebenarnya tidak ada namanya ruwatan bumi. Oleh sebab itu, saya tidak mau kalau diminta meruwat bumi. Yang ada itu sedekah bumi)."

Ungkapan itu disampaikan Ki Manteb Soedharsono lewat dialog pergelaran wayang kulit ruwatan, Sabtu lalu di Hotel Sahid Raya. Acara tradisi budaya itu merupakan rangkaian Peringatan HUT Kelompok Usaha Sahid Wilayah Jateng dan DIY. Malam sebelumnya di tempat yang sama, Ki Manteb juga menggelar wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Abiyoso Madeg Pandito. Mereka yang diruwat adalah anak dan cucu KP Prof Dr Sukamdani Sahid Gitosardjono.

Dalam dialog itu, Ki Manteb menyebutkan, ruwatan merupakan tradisi budaya yang harus dilestarikan. Sebenarnya, dalam tradisi budaya, ruwatan yang dimaksudkan untuk membantu orang-orang yang memiliki sukerta agar bisa terbebas dari penderitaan yang digambarkan menjadi santapan Dewa Bathara Kala.

"Yang diruwat itu orang yang mempunyai sukerta dalam jiwa maupun perilakunya. Kalau disuruh meruwat orang sukerta saya bersedia, tapi kalau meruwat bumi, saya tidak mau. Sebab, bumi banyak memberikan kehidupan kepada manusia. Jadi, kalau ada bencana alam, itu akibat ulah para manusia yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh bumi. Sebaliknya, kalau disuruh melakukan sedekah bumi, saya bersedia," tambahnya.

Dikatakan Ki Manteb, sedekah bumi merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada manusia melalui bumi. Selama ini, bumi telah menyediakan semua kebutuhan manusia, namun sebaliknya, manusia tidak pernah berterima kasih. "Malah bumi dirusak oleh manusia. Penebangan liar berlangsung terus dan tanah diracuni oleh limbah-limbah yang akhirnya merusak bumi," ujarnya.

Menurut dia, ruwatan merupakan kebudayaan. Kegiatan itu tidak hanya bisa dilakukan lewat pergelaran wayang kulit, tetapi juga lewat tradisi keagamaan. "Kula elek-elek nggih ngaji, gadah donga-donga kangge ngruwat," selorohnya disambut tertawa dari pengunjung.

Seusai pergelaran wayang kulit, acara ruwatan diteruskan dengan pemotongan rambut dan siraman terhadap mereka yang diruwat. Selanjutnya dilakukan pelepasan sejumlah burung. (sri-42h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA