logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 RAGAM
Line

Sadar Akan Misi Hidup

BOSAN itulah kata yang sering kali muncul di benak kita, manakala rutinitas hidup mendera batin. Bosan dengan tugas dan kebiasaan monoton yang terkadang tidak kita nikmati, bahkan tidak kita pahami makna dan tujuannya. Lantas kita pun melarikan pengembaraan hati ke tempat-tempat hiburan, memburu dan membeli ketentraman batin. Yang kita dapatkan kelegaan sesaat, kenikmatan instan di zona remang-remang yang disyubhatkan oleh Allah SWT. Astaghfirullah, pulang ke rumah, ternyata dahaga batin belum kunjung terpuaskan.

Tertipu, itulah kata paling tepat yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyebutkan orang yang terlena oleh kenikmatan dan kemegahan duniawi. Tetapi lupa tujuan (misi) utama dari hidupnya. Tertipu oleh gemerlapnya kesuksesan duniawi yang semu. Allah SWT mengingatkan kita di dalam Al-Quran :''Maukah Kami tunjukkan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya ? Mereka itu adalah orang-orang mengira bahwa mereka telah beramal yang terbaik, padahal sebenarnya mereka telah tersesat. (QS. Al Kahfi: 103-104).

Tertipu, seringkali kita mengira dengan uang kita dapat membeli pahala, bahkan surga. Padahal yang dapat mengantarkan kita ke surga sebenarnya hanyalah cinta dan ridho Allah SWT. Sadar akan misi hidup Qolbun Salim, kemudian merefleksikannya dengan penuh ketulusan dan istiqomah, insya Allah dapat menghadirkan cinta Allah.

1. Ibadah adalah misi hidup yang utama. ''Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.''(QS. Adz Dzariyat:55). Mestinya apa pun yang kita perjuangkan di dunia ini hendaklah dalam rangka beribadah. Mencari nafkah untuk ibadah. Menjadi kaya untuk ibadah. Mendapatkan pangkat dan kedudukan juga untuk ibadah.

Semua untuk Allah SWT. Bukan yang lain. Bisa atau tidak harus bisa. Sadar misi hidup berarti sadar ibadah dalam segala situasi dan kondisi. Itu berarti juga senantiasa sadar akan pengawasan dan kebersamaan dengan Allah SWT. Pada shalat ada seluruh cinta dan ketulusan kita. Agar Dia sudi membagi cinta-Nya. Bagaimana mungkin Allah SWT memberikan cinta-Nya, sementara tak tersimpan sedikit pun kerinduan di hati kita kepada-Nya ?

Bagaimana bisa salim qolbu kita sementara shalat belum utama di hati kita. Selalu kita jadikan shalat sebagai pekerjaan sampingan. Shalat kita yang hambar tanpa rasa adalah bukti betapa sebenarnya kita malas menyebutkan nama-Nya. Tanda yang jelas bahwa kita belum menjadi hamba yang bersyukur. Bagi seorang Qolbun Salim shalat adalah kebahagiaan sejati. Shalat adalah misi hidup yang utama, bersama ibadah-ibadah lainnya.

2. Allah SWT lebih dicintai dari apa pun. Sadar akan misi hidup sangat istimewa di sisi Allah SWT. Lebih istimewa lagi jika kita mampu memelihara kesadaran tersebut kapan dan dimana pun kita berada. Memelihara kesadaran akan kebersamaan dengan Allah merupakan refleksi cinta seorang hamba kepada Tuhannya walaupun dengan cara yang paling bersahaja.

Alhamdulillah kita masih bisa mengaji, tilawatil Quran, silaturahim, berinfaq, dan lain-lain semuanya adalah ekspresi cinta seorang Qolbun Salim kepada-Nya. Semuanya merupakan bukti kesetiaan kepada-Nya. Pada saat yang sama cinta memang senantiasa menuntut pengorbanan. Allah SWT telah berfirman :''Katakanlah jika bapak ibumu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, kekayaan yang engkau perjuangkan, bisnis yang engkau kuatirkan kerugiannya, dan rumah megah yang engkau sukai lebih engkau cinta dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah saatnya Allah akan mendatangkan adzab-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah-Nya kepada orang-orang yang fasik.''(QS At-Taubah:24).

Ketika seorang hamba berkorban demi cintanya kepada Tuhannya, sekilas terasa dirinya telah kehilangan sesuatu. Tetapi sejatinya dirinya telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih bernilai dan bermakna untuk hidupnya, bahkan dia telah mendapatkan maqom kemuliaan di sisi Allah SWT.

3. Dunia hanyalah persinggahan, Allah SWT adalah tujuan. Abdullah bin Mas'ud RA pada suatu pagi masuk kebilik Rasulullah SAW, tidak ada alas tidur yang layak di situ kecuali selembar tikar anyaman daun kurma dan sebuah bongkol pelepah kurma.

Dia dapatkan beliau baru bangun dari tidurnya, ada bekas-bekas anyaman tikar bercap di pipi beliau yang mulia Ibnu Mas'ud berkata sambil menangis, ''Jika engkau inginkan ya Rasulullah, kami sanggup menghadirkan peraduan mahligai raja-raja Persia kehadapanmu! Mengapa tak engkau lakukan ya Rasulullah ?''.

Dengan penuh kearifan beliau menjawab, ''Saudaraku, apalah artinya dunia buatku, kecuali aku hanyalah seperti seorang pejalan kaki yang singgah sejenak di bawah naungan pohon (dunia) ini, istirahat sejenak, kemudian meninggalkannya.'' Pada saat yang lain Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kita, ''Bersikaplah kalian di dunia ini sebagai tamu atau kelana.''

Bukan berarti beliau SAW membenci orang kaya, tetapi beliau ingin kekayaan dan kesuksesan duniawi kita ini, kita persembahkan sebagai sebuah pengabdian yang tertulus dan terindah, bukti cinta dan kesetiaan kita kepada Allah.(Tim Kajian Qolbun Salim-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA