| Senin, 11 Juli 2005 | WACANA |
Agro Expo, Keberpihakan pada PetaniOleh: Agus WariyantoDI Soropadan, Kabupaten Temanggung, 11-17 Juni 2005, dilaksanakan Soropadan Agro Expo (SAE) II-2005, tidak hanya semacam pameran seperti biasanya. Kegiatan ini memperlihatkan tekad tinggi dan obsesi yang mengandung nilai strategis dalam mengangkat derajat dan keberpihakan pada petani. Keterpurukan petani yang seolah bersifat permanen adalah gambaran kondisi faktual yang dihadapi petani kita. Pertanyaannya, masih adakah peluang bagi petani untuk keluar dari kubangan keterpurukan dan ketidakberdayaan? Dibutuhkan strategi dan komitmen semua pihak dalam sektor pertanian yang akan membuat petani sejahtera dengan semua keterbatasan yang dimiliki. Melalui momentum SAE hakikatnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik terhadap kinerja penerapan teknologi dan hasil konkret pembangunan pertanian di Jateng. Sekaligus sebagai wujud nyata penjabaran program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden SBY (11/6/2005) di kawasan Waduk Ir H Juanda, Jatiluhur, Jabar. Konsepsi penyelenggaraan Agro Expo ini mengandung beberapa sasaran mendasar. Pertama, mengangkat berbagai potensi agro di Indonesia. Pasalnya, petani belum bisa lepas dari stereotip tradisional dalam pengelolaan usahanya, serta selalu dihantui kekhawatiran ketidakpastian pasar dan harga. Petani juga lekat dengan nilai-nilai kepasrahan yang bersumber dari ketidakberdayaan. Kedua, Agro Expo sebagai ajang bertemunya para pengusaha agro sehingga mampu memperluas jejaring bisnis pertanian. Ketiga, mempromosikan berbagai produk unggulan agro di seluruh wilayah Tanah Air dan membuka peluang pasar baru, yang pada gilirannya untuk meningkatkan pendapatan petani. Terlebih, dimaklumi visi bisnis sekarang ini makin luntur dari kehidupan para petani. Akibatnya, mereka tak mampu membaca pasar dan tak sempat memikirkan peluang untuk berkembang. Ke depan, perlu ada rekayasa sosial untuk menanamkan kembali nilai-nilai bisnis dan kewirausahaan di kalangan petani agar mereka dapat menjadi petani yang tangguh. Mengefektifkan Penyuluhan Dalam mengakselerasi pengembangan pertanian di daerah, maka mengefektifkan kegiatan penyuluhan merupakan ujung tombak menuju suksesnya bisnis pertanian. Banyak pakar meyakini, pameran seperti halnya Agro Expo sebagai metode penyuluhan dengan pendekatan massal, sungguh efektif untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pada gilirannya, memungkinkan terjadi perubahan perilaku secara signifikan. Berbeda dengan metode pertemuan yang lain, dalam penerapan metode pameran penyuluhan disampaikan baik secara lisan, tertulis, terproyeksi, atau bahkan dengan peragaan dan demonstrasi-demonstrasi. Tujuan pameran itu sendiri juga sangat beragam. Pertama, mengenalkan sesuatu yang "baru", atau yang selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. Kedua, menjelaskan produk/cara yang sudah dikenal dan diterapkan oleh masyarakat, tapi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut agar mereka lebih menyukai atau dapat melaksanakannya dengan lebih baik. Ketiga, mengkomparasikan keunggulan sesuatu produk atau teknologi dengan produk/teknologi lainnya yang telah dikenal oleh masyarakat, atau bahkan yang pada saat bersamaan ikut dipamerkan. Efektivitas metode pameran, tak hanya terletak pada cara penyampaian pesan yang bisa dilakukan dengan berbagai cara (lisan, media-cetak, terproyeksi, dan demonstrasi) yang menarik. Tapi, dalam kesempatan tersebut petani dapat: satu, berkomunikasi langsung dengan penyuluh untuk memperoleh penjelasan lebih rinci. Dua, mengamati peragaan yang didemonstrasikan. Tiga, merasakan atau menikmati produk-produk yuang dipamerkan atau empat, mencoba sendiri segala yang diperagakan. Teknologi produksi dan pengolahan hasil pertanian belum tersosialisasikan secara optimal di masyarakat petani. Akibatnya, nilai tambah yang diperoleh petani relatif rendah. Di bidang pemasaran produk pertanian masih dihadapkan pada kurangnya sarana distribusi, kelembagaan, dan jaringan informasi pasar. Berkenaan dengan investasi di bidang agro, persoalan yang dihadapi yaitu masih rendahnya tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi iklim usaha, lemahnya sistem informasi, kurangnya sarana dan prasarana, serta belum mantapnya keterpaduan pelayanan instansi terkait. Muaranya, di masa mendatang out put dan out come yang hendak diwujudkan tak lain menjadikan kebijakan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan senantiasa berpihak pada kepentingan petani, khususnya dalam upaya mengangkat daya beli petani yang diukur dengan meningkatnya nilai tukar petani (NTP). Disadari dalam dekade mendatang, dunia akan sangat membutuhkan produk-produk pertanian yang berkualitas. Kondisi sosiokultural bangsa Indonesia sangat memungkinkan jika sektor pertanian secara tegas dijadikan tulang punggung perekonomian bangsa. Dengan demikian, salah satu keberhasilan pembangunan pertanian adalah apabila menjadi kekuatan perekonomian nasional. Peluang ini dimungkinkan mumpung kita dalam suasana revitalisasi pertanian. Konsekuensinya, tentu dana dan daya yang dimiliki saat ini sebagian besar dicurahkan untuk pembangunan dan modernisasi sektor pertanian. Refleksi ke Depan Refleksi pengembangan pertanian ke depan perlu mendapat perhatian semua pihak untuk terus dicermati. Pertama, guna mendukung akselerasi pembangunan agribisnis, penumbuhan inovasi institusi bisnis pertanian bukan hanya sebagai "syarat kecukupan", tapi merupakan "syarat keharusan". Kedua, mendorong penerapan inovasi teknologi tepat guna di pedesaan yang didukung pengkajian yang intensif. Dengan demikian, perlu dibangun jaringan penyuluhan pembangunan yang efektif didukung SDM yang profesional. Ketiga, memperluas peluang dan iklim investasi yang kondusif bagi terbangunnya pusat pertumbuhan baru bisnis pertanian dan mendorong SDM intelektual muda terjun menggeluti dan meminati kembali bidang pertanian. Kondisi nyata pengembangan pertanian saat ini dicirikan beberapa hal. Umumnya petani mempunyai lahan relatif sempit, dengan teknologi dan keterampilan yang rendah. Berdasar Sensus Pertanian, jumlah petani gurem meningkat dari 10,80 juta rumah tangga petani (RTP) tahun 1993 menjadi 13,68 juta RTP tahun 2003. Atau setiap hari sebanyak 789 keluarga berubah menjadi petani gurem. Rata-rata lahan yang dikuasai petani selama 10 tahun menurun dari 0,5 ha (tahun 1993) menjadi 0,3 ha (tahun 2003). Implikasinya, dengan penguasaan lahan yang kian sempit maka meski produktivitas per satuan lahan tinggi, namun pendapatan petani tak memadai dan rendah. Sesungguhnya, globalisasi pertanian adalah fondasi dan hidup-matinya sebuah negara. Mengingat pengalaman liberalisasi pertanian menghasilkan tren negatif bagi petani dan pertanian. Agaknya, berbagai dampak telah mulai dirasakan. Pertama, memosisikan petani sebagai objek yang disetir oleh kepentingan modal yang ditanamkan di sektor pertanian. Kedua, dihapuskannya subsidi bagi sektor pertanian yang menimbulkan makin lemahnya dukungan negara. Ketiga, tidak adanya proteksi yang substansial bagi petani agar tetap aman dalam kegiatan pertanian. Keempat, membanjirnya produk pertanian impor yang menggerus daya saing produk pertanian kita. Dalam kaitannya, adalah relevan dengan tema SAE yang diketengahkan yakni "Produk Agro Nusantara Menembus Pasar Global". Harapannya, mengangkat kembali eksistensi dan image produk pertanian di tengah era kesejagatan.(11) - Agus Wariyanto, Wakil Sekretaris DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jateng, staf Biro Perekonomian Daerah Pemprov Jateng. HexWeb XT DEMO from HexMac International |