logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 SEMARANG
Line

Hati-hati, jika Anak Sulit Mengucapkan Kata

SEMARANG - Orang tua perlu mewaspadai setiap gangguan berbahasa pada anak. Sebab, peran orang tua amat diperlukan untuk mendeteksi perkembangan bahasa anak sejak dini. Dengan begitu, terapi dan intervensi bisa dilakukan secara tepat, sesuai dengan sebab yang melatarbelakanginya.

Demikian disampaikan pakar kesehatan anak, dokter Hendriani S Notosoegondo SpA MARS dalam ceramah awam "Kiat Mempersiapkan Anak Cerdas sejak Dini" di ruang Khatarina RS St Elisabeth, baru-baru ini. Dalam ceramah itu juga menghadirkan psikolog Drs ML Oetomo.

"Ada sejumlah gangguan berbahasa yang sering dialami anak. Mulai dari gangguan suara akibat kelainan anatomi, gagap, disartria atau gangguan pada fisik otot percakapan, hingga autisme," papar Hendriani.

Gangguan suara, kata dia, bisa disebabkan oleh infeksi, lendir yang mengganggu jalan pernapasan, kelumpuhan baik karena tumor maupun kerusakan syaraf, dan kelainan kongenital semacam sumbing atau lidah pendek.

Gangguan berupa gagap pada anak normal terjadi pada usia dua setengah sampai empat bulan. Hal itu ditandai dengan kelainan pada jumlah dan ritme percakapan. "Harus diwaspadai kalau anak mengalami kesulitan ketika memulai pengucapan kata. Jangan-jangan dia punya gangguan gagap akibat persoalan genetik atau gangguan pada otak," imbuhnya.

Autisme

Kewaspadaan yang sama juga diperlukan ketika anak mengalami disartria dan autisme. Disartria merupakan gangguan fisik pada otot percakapan yang disebabkan oleh gangguan pada otak.

Gejalanya, wajah menyeringai, kesulitan makan atau minum, inteligibilitas atau kelambatan berbahasa, dan menunjukkan gejala keterbelakangan mental.

Sementara autisme merupakan gangguan perkembangan perilaku, yang ditengarai oleh hiperaktivitas, gangguan berbahasa, perilaku mengulang-ulang, dan keterlambatan auditori reseptif.

Dosen Ilmu Kesehatan Anak FK Undip itu menjelaskan, gangguan terebut bisa juga diminimalkan dengan melakukan stimulasi dini bahasa baik di rumah, sekolah, maupun klinik terapi bermain. Stimulasi itu bertujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi melalui terapi bermain dalam bentuk bahasa dan bicara.

"Media yang bisa digunakan bermacam-macam, mulai dari bercerita dengan kosa kata, mengajak anak lebih banyak berinteraksi, hingga mengupayakan perbendaharaan kata secara bertahap." (H9-37d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA