logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 SEMARANG
Line

Ayam Goreng di Jl Trengguli Disuguhkan Ala Prasmanan

MERASAKAN kenikmatan ayam goreng, mungkin sudah tidak asing lagi bagi lidah kita. Namun, coba saja merasakan ayam goreng yang dijual warung makan di Jl Semarang-Kudus Km 40 atau tepatnya di Desa Trengguli, Wonosalam, Demak. Ada rasa yang beda dengan ayam goreng yang biasa dijual di warung umum itu.

Tidak percaya? Coba saja sekali-kali mampir untuk merasakan hidangan di salah satu warung tersebut. Selain ayamnya hangat karena baru saja dimasak dan dihidangkan dengan sambel yang terasa tidak pedas, para pembeli juga merasa puas karena disuguhkan dengan cara prasmanan.

Pembeli tidak perlu mengkhawatirkan kantongnya, sebab semua warung mematok harga yang sama, Rp 7.000 per porsi. Itu pun sudah termasuk minumannya.

Di sepanjang jalan itu, tidak kurang dari 25 warung, khusus menjajakan makanan ayam goreng dan ayam bakar. Uniknya, meski semua warung menjual makanan yang sama dan berjajar, tetapi semuanya selalu kebanjiran pembeli.

Seperti warung makan Mbak Tari yang berada tepat di seberang jalan depan SPBU Trengguli, tidak pernah sepi dari pembeli. Salah seorang pekerja di warung tersebut, Prayitno mengatakan, setiap harinya bisa menjual 700 - 1.000 porsi ayam goreng maupun bakar.

"Di sini kami hanya menghitung porsi ayam. Jadi pembeli diperbolehkan menambah nasi sampai perut kenyang tanpa ada tambahan harga, sehingga konsumen tertarik untuk mengenyangkan perut di sini," katanya sembari menambahkan bahwa warung buka selama 24 jam.

Kebanyakan konsumennya dari luar daerah, terutama yang sedang dalam perjalanan, baik dari Jepara, Kudus, Rembang, Pati, Semarang dan dari luar Jateng.

Maraknya ayam goreng di daerah itu, kali pertama dimulai oleh Mbak Tun yang memiliki satu warung di dekat pertigaan Trengguli, sekitar tahun 1996. Karena warungnya ramai pembeli, terutama supir truk, menarik tetangga kanan kirinya untuk membuka bisnis serupa.

Puncaknya pada awal era reformasi tahun 1997, masyarakat memanfaatkan tanah milik PSDA Jateng di sepanjag bantaran sungai Trengguli dengan mendirikan bangunan permanen untuk warung ayam goreng.

Pelayan di warung makan Mbak Tun menuturkan, ayam yang dijualnya dipasok oleh sejumlah peternak ayam di wilayah sekitar. Ayam yang didatangkan diharuskan masih segar dan baru dipotong. (Hasan Hamid-51d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA