| Senin, 11 Juli 2005 | SEMARANG |
Sahabat Rohim Ahmad JamalMulai Beradaptasi dengan Anus BarunyaMASIH ingatkah Anda pada Sahabat Rohim Ahmad Jamal? Pertengahan bulan lalu, bocah berusia 1,5 tahun asal Desa Kadilangu, Trangkil, Pati itu baru saja menjalani operasi penutupan lubang anus di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RS St Elisabeth. Tindakan medis yang ditangani dokter Yulianto SpBA itu merupakan kelanjutan operasi postro sagita ano recto plasti (PSARP) terkait dengan kelainan yang dideritanya, yakni tak punya anus sejak lahir. Sabtu (9/7) kemarin, Suara Merdeka bersua dengan anak bungsu pasangan Sarkawi (alm)-Kaseh tersebut. Kendati masih belum senormal anak sebayanya, bocah lucu itu sudah mulai terbiasa dengan anus barunya. Kini Sahabat sudah layaknya anak-anak lain, melakukan buang air besar lewat jalan yang semestinya. ''Ya, dia sudah mulai terbiasa. Buang airnya juga lancar. Ning nggih niku, maeme tesih radi angel (tapi ya itu, dia makannya masih sulit),'' cerita Kaseh, ibunya. Sebelumnya, dia buang air besar lewat lubang anus sementara yang dibuat di sisi kiri lambungnya. Pertengahan bulan lalu, Sahabat menjalani operasi terakhir di IBS RS St Elisabeth berupa penutupan lubang anus sementara dan pembuatan anus baru. Operasi itu bisa terlaksana atas bantuan para karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang terketuk hatinya setelah membaca derita Sahabat di Suara Merdeka. ''Kami terenyuh juga membaca tulisan tentang Sahabat (Suara Merdeka, 20/5). Di situ kan ditulis, orang tua anak itu kesulitan biaya operasi ketiga untuk menutup anus sementara anaknya,'' ujar Samekto, dari Kanwil BRI Semarang. Dana Zakat Ya, mengingat keadaan ekonomi keluarganya, Kaseh kebingungan atas biaya pengobatan bagi putra ketiganya itu. Padahal bocah lucu itu masih harus menjalani operasi sekali lagi, yakni untuk menutup lubang anus sementara yang berada di sisi kiri lambungnya. Sekadar informasi, operasi tahap sebelumnya bisa terlaksana atas bantuan pembaca Suara Merdeka dan beberapa anggota Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia (APPMI) Jateng. ''Duka, kula mboten ngertos. Setahu saya, bantuan yang kemarin hanya untuk biaya operasi ndamel lubang, mboten ngantos nutup sing teng lempeng,'' ucap Kaseh, seperti dimuat di Suara Merdeka 20 Mei 2005. Samekto mengaku para koleganya dari Jakarta menelepon setelah pemberitaan tentang Sahabat itu dimuat di koran. Mereka tergerak untuk membantu meringankan beban Sahabat. ''Kebetulan, kami memiliki sejumlah dana sosial yang berasal dari zakat mal para karyawan. Kalau yang di Semarang dialokasikan untuk beasiswa, zakat teman-teman yang di Jakarta diprioritaskan untuk bantuan biaya pengobatan bagi keluarga kurang mampu,'' imbuh Samekto. Gayung bersambut, Samekto segera menghubungi RS St Elisabeth untuk maksud mulianya itu. Dari Humas RS St Elisabeth Dra Probowatie Tjondronegoro MSi, dia memperoleh kisah yang lebih komplet tentang Sahabat. Singkat cerita, setelah sejumlah persyaratan administrasi terpenuhi, pihak BRI pun menyanggupi biaya operasi ketiga bagi Sahabat. ''Lemah teles, namung Gusti Allah ingkang saget mbales,'' tutur Kaseh lirih. (Achiar M Permana18n) |