| Senin, 11 Juli 2005 | SEMARANG |
Unika Kaji Solusi Kali BringinSEMARANG - Alur Kali Bringin, sekitar tahun 1970 ternyata pernah dipindahkan karena sering meluap. Ironisnya, dalam beberapa tahun terakhir ini alur sungai yang sudah dipindahkan itu justru menimbulkan masalah banjir. Hal itu terungkap dalam Forum Group Fiscussion (FGD) yang diselenggarakan di Lembaga Penelitian Unika Soegijapranata, baru-baru ini. Peneliti Unika yang melakukan kajian itu, Ir Sri Rejeki MT, Yovita Indrayati SH MHum, dan Ir Bambang Sudarsono MSi. Yovita mengatakan, penelitian mendapat dana dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) sekitar Rp 69 juta. Dana tersebut kemudian dibagi dengan Universitas Gadjah Mada melalui program Penelitian Kerja Sama Antarperguruan Tinggi. ''Jika Dirjen Dikti terus memberi dana, kami akan melakukan penelitian secara multiyears.'' Dalam acara yang dihadiri wakil dari unsur Pemkot itu, sebagian besar peserta mengemukakan bahwa Kali Bringin harus ditangani secara terpadu. Wilayah penanganan daerah aliran sungai (DAS) itu bukan hanya di hilir, tetapi juga bagian tengah dan hulu. Di antara peserta juga ada yang mengemukakan perlunya grand design untuk sungai tersebut. Pindah Sementara itu, Kasi Pembangunan Kecamatan Tugu Djaka Sukawijaya menuturkan, semula alur sungai itu berada di sebelah barat, yakni di tengah-tengah permukiman. ''Karena sering meluap, alur sungai kemudian dipindahkan ke sebelah timur,'' kata dia. Lurah Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Dalhar SSos juga mengemukakan hal serupa. Warga asli Kampung Ngebruk itu menuturkan, wilayah di sebelah timur yang kini menjadi lokasi Kali Bringin semula bukan permukiman, tetapi sawah dan tambak milik warga. Karena itulah, sebagian dari mereka memiliki berbagai dokumen kepemilikan tanah, mulai dari leter D sampai sertifikat. Lahan tersebut kemudian ''dipecah-pecah'' dan dijual kepada warga. Setiap pemilik baru kemudian memperoleh sertifikat. Saat ini, di wilayah yang semula sawah dan tambak tersebut telah berdiri rumah-rumah warga yang masuk ke Kelurahan Mangkang Wetan. Dalhar memperkirakan, jumlah rumah tersebut kini sudah mencapai lebih dari 100 unit. Menurut catatan Suara Merdeka, persoalan muncul karena Kali Bringin setiap tahun saat hujan lebat selalu meluap. Genangan tidak hanya terjadi di Jalan Raya Mangkang yang merupakan jalur nasional, tetapi juga di wilayah permukiman, lahan sawah, dan tambak. Hal itu antara lain akibat penyempitan alur sungai, dan perubahan tata guna lahan di wilayah hulu. (G6-37d) |