| Senin, 11 Juli 2005 | SEMARANG |
Kepadatan Jalan Pemuda DikeluhkanSEMARANG - Kepadatan lalu lintas di Jalan Pemuda Kota Semarang yang terus bertambah, semakin menyusahkan para pengguna jalan. Para pengendara mengeluhkan tentang semakin seringnya kemacetan di jalan protokol tersebut. Keluhan lain adalah kian sulitnya menyeberang jalan yang dibangun pada era kolonial Belanda ini. Sejumlah warga yang sering memanfaatkan Jalan Pemuda mengemukakan, meski sekarang memasuki libur sekolah, kemacetan sering terjadi di ruas jalan tersebut. Tidak jarang, akhir-akhir ini polisi lalu lintas turun ke jalan untuk mengatasi kemacetan itu. Retno W, warga Kelurahan Srondol Wetan yang akan mengurus surat-surat di Balai Kota mencontohkan, dirinya sulit menyeberang jalan setelah turun dari bus kota di depan Markas Kodim. ''Lalu lintasnya padat sekali,'' tutur perempuan ini. Trimo, salah seorang pegawai di lingkungan Setda Pemkot Semarang mengatakan, warga yang akan menyeberang ke kantor Balai Kota sekarang sering mengalami kesulitan. Dia yang mengendarai sepeda motor setiap berangkat dan pulang kantor, sulit menyeberang jalan. Lembaga Pendidikan Dia berpendapat, salah satu penyebabnya adalah makin banyaknya sekolah/lembaga pendidikan dan perkantoran yang beroperasi di Jalan Pemuda. ''Apalagi, pekan kemarin berbarengan dengan musim pendaftaran siswa baru, sehingga orang tua maupun siswa menyerbu sekolah-sekolah di sepanjang jalan itu,'' katanya. Beberapa sekolah itu memang telah lama berdiri. Dari arah Tugu Muda berdiri kompleks perguruan SD Marsudirini, kemudian SMA Negeri 3, dan SMA Negeri 5. Lebih ke utara lagi berdiri Kampus Unaki. Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kota Semarang, Djunaedi menambahkan, rata-rata para siswa di beberapa sekolah itu berasal dari kalangan menengah ke atas. ''Kelas mereka tidak lagi naik sepeda motor atau angkutan kota, melainkan memakai mobil, meski ada yang diantar jemput sekolah. Hal ini menjadi salah satu pemicu kian padatnya Jalan Pemuda,'' ungkap dia. Kehadiran sejumlah sekolah, sambungnya, tidak sepenuhnya menjadi penyebab kemacetan. Hadirnya perkantoran, jasa, pusat belanja, dan pertokoan di daerah itu juga diindikasikan menjadi penyebab kemacetan. Yang perlu dikendalikan adalah bagaimana mengatur pemanfaatan lahan-lahan kosong yang sekarang masih ada di jalan itu. ''Alangkah baiknya beberapa lahan kosong yang belum terbangun, nantinya setelah dibangun gedung pemanfaatannya dibatasi, misalnya tidak untuk pusat belanja yang mengundang orang banyak.'' Ketua Komisi A itu menambahkan, makin banyak becak yang beroperasi di daerah itu juga menjadi penyebab kian padatnya ruas jalan protokol tersebut. Menurut dia, perlu segera dilakukan penataan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Dia mencontohkan, di beberapa ruas jalan perlu diberlakukan sistem satu arah. (G17-37d) |