| Senin, 11 Juli 2005 | SEMARANG |
Dikritik karena PusarZAMAN memang telah berubah. Kesantunan pun sepertinya berubah mengikuti perkembangan di masyarakat, termasuk di antaranya cara berpakaian. Kalau diamati, tak sedikit wanita berpakaian mengikuti tren, seperti mengenakan blus pendek, sehingga pusar ikut dipamerkan. Hal itu masih ditambah celana ketat. Mode seperti itu sudah bukan barang baru lagi, termasuk di kalangan mahasiswi. Karena itulah, Rektor IKIP PGRI Semarang, Drs Sulistiyo MPd, banyak menerima kritik mengenai penampilan mahasiswanya. ''Terus terang saya banyak mendapat kritik, tak hanya soal penampilan dalam berbusana, namun juga soal rambut gondrong sejumlah mahasiswa,'' tuturnya usai melantik pengurus organisasi kemahasiswaan perguruan tinggi itu di kampus Jl Lontar 1 Semarang. Dia menyatakan, kritik yang bagaimana pun harus diterima dengan baik. Karena kritik merupakan cara untuk memperbaiki kondisi. Para mahasiswa sebagai calon guru, harus selalu tampil sopan. Bukan tidak boleh berpenampilan aneh, karena hal itu merupakan hak azasi. Misalnya rambut disemir warna-warni atau rambut gondrong. ''Tapi sadarilah, sebagai calon pendidik tak perlu ikut arus. Jadi kalau tidak suka, ya mohon maaf.'' Sulistiyo ingin membangun IKIP PGRI yang lulusannya siap bekerja untuk menjadi guru yang baik. ''Ke depan, saya ingin kualitas yang dinomorsatukan, setelah sopan dan rapi dengan penampilan yang bagus,'' tambahnya. Ia menilai pendidikan di Indonesia tidak menyiapkan generasi yang siap bekerja. Hal ini disebabkan pembelajarannya ya itu-itu saja. IKIP PGRI jangan menambah persoalan tersebut. Banyak lembaga pendidikan dikritik karena tidak mengantisipasi lulusannya. Misalnya, sekolah teknik mesin, namun mesin yang ada untuk praktik adalah mesin buatan tahun 1960-an, sehingga tak sesuai dengan mesin kendaraan zaman sekarang. (Agustadi-60) |