logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Mirota Jadi Pusat Batik dan Jamu

YOGYAKARTA - Sejak sebelum gedung Mirota Batik di Jalan A Yani Yogyakarta terbakar, waktu itu sudah mulai menjual jamu secara kecil-kecilan, termasuk lulur, kemenyan dan lain-lain. Sekarang, setelah dibangun lebih luas, dilengkapi pula dengan menjual jamu mahkota dewa, kunir putih dan temu lawak.

Ternyata hasilnya lumayan dan terhitung cukup laris dengan menjual jamu-jamu tradisional dan tanaman seperti mahkota dewa. Selain itu juga menyediakan ratus, cerutu, tembakau drum dan lain-lain.

''Karena itulah Mirota Batik saya kembangkan menjadi pusat batik, kerajinan, dan jamu tradisional,'' kata Hamzah Hendro Sutikno, pemilik Mirota Batik yang juga pengurus Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) DIY kepada Suara Merdeka di rumahnya Kotabaru Yogyakarta, kemarin.

Dikatakan, jamu-jamu yang dijual di tempat usahanya bukan ramuan seperti buatan pabrik, tetapi jamu-jamu tradisional yang masih berupa bahan mentah atau harus direbus dahulu sebelum diminum.

Hal itu ternyata sesuai dengan nuansa Kejawen yang selalu ditekankan di tempat usaha itu, seperti mbok emban yang selalu menyambut tamunya di pintu masuk, kemudian para pengujung diputarkan gending-gending Jawa, sedangkan para pembatik bersiap untuk berdemo. Selain itu juga ada penjahit yang memberikan layanan kepada konsumen yang ingin menjahitkan atau mengecilkan dan mengubah busana yang dibeli.

Masa liburan panjang kali ini, Mirota Batik mendapat banyak kunjungan para wisatawan nusantara. Mereka umumnya membeli batik dalam bentuk daster dan barang kerajinan berupa suvenir-suvenir kecil yang mudah dibawa. (P12-39d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA