logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Anak Autis Seks untuk Diri Sendiri

YOGYAKARTA - Aktivitas yang mungkin muncul pada anak-anak penyandang autis yang mengalami masa puber, antara lain tidak ada perasaan malu saat berjalan telanjang, memperlihatkan penis atau payudaranya, membuka celana di luar kamar, dan masturbasi di tempat umum.

Seksualitas anak autis juga tidak terfokus pada orang lain. Keinginan seksualnya hanya untuk diri sendiri. Tidak berminat terhadap hubungan seksual tetapi lebih berminat terhadap ciri-ciri seseorang, seperti keharuman tubuhnya, keindahan rambutnya, atau kehalusan kulitnya.

Hal itu dikemukakan oleh dokter Bambang Hastha Yoga SpKJ dari Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak (P3TKA) Yogyakarta pada Seminar ''Seksualitas pada Anak Autis'' yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Anak Khusus Samara Bunda dan Forum Pemerhati Anak Autisme di Yogyakarta, Sabtu lalu.

Menurut keterangan Hastha Yoga, anak autis biasanya bersifat pasif dan menganggap seksualitas terutama untuk diri sendiri. Kadang-kadang memang ada keinginan untuk berhubungan seks dengan orang lain, sering meniru anak remaja lain, tetapi hubungan yang resmi jarang terjadi.

Sejak masa pubertas, seksualitas merupakan topik yang favorit bagi anak tersebut. Hanya pengertian tentang kedewasaan minimal sekali, begitu pula dengan pengertian tentang kekurangan diri untuk hidup mandiri.

Kadang-kadang seksualitas dan hubungan intim adalah dua topik yang berbeda bagi anak autis. Orientasi seksualnya bisa terfokus pada anak kecil atau orang yang lebih tua.

Karena itu, dalam menangani dorongan seksual pada anak penyandang autis harus bijaksana. Karena bagaimanapun, dorongan seksual merupakan kebutuhan biologis yang harus dapat tersalurkan dengan baik dan benar sehingga tidak merugikan orang lain. Demikian halnya pada anak penyandang autis.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan jika menjumpai anak penyandang autis dengan problem seksual, antara lain mengajarkan kepadanya keterampilan bersosial dan kemandirian secara umum, memberi pengertian bahwa seksualitas tidak hanya terdiri atas hubungan fisik saja tetapi juga meliputi perasaan cinta, komunikasi, perhatian, sikap sosial, serta yang tidak kalah penting adalah menerima kelemahan orang lain.(P12-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA