| Senin, 11 Juli 2005 | INTERNASIONAL |
Logistik Hambat Kehadiran Senjata LaserARLINGTON - Selama bertahun-tahun militer AS berupaya keras mendapatkan senjata ampuh yang punya tembakan maut presisi tinggi. Tidak perlu diisi ulang mesiunya, bagaikan senjata-senjata yang dipakai dalam film Star Wars atau Star Trek. Senjata tersebut berupa sinar yang bersumber dari energi elektromagnetik. Pulsa-pulsa "energi yang diarahkan" tersebut dapat disetel, sesuai dengan situasi: untuk membunuh seketika, atau hanya untuk melumpuhkan lawan. Senjata seperti itu sudah hampir berhasil diciptakan. Yang jadi kendala justru masalah logistiknya, sehingga ia belum bisa diuji coba di medan tempur sungguhan, seperti medan perang Irak, misalnya. "Teknologi yang sungguh hebat. Tetapi, saya kira lingkungannya tidak cukup mendukung," kata James Jay Carafano, anggota Heritage Foundation yang beraliran konservatif. Dia menyalahkan Pentagon (Departemen Pertahanan AS) dan Kongres, karena dianggapnya tidak mendukung penyediaan dana yang cukup bagi terciptanya dengan segera senjata tersebut. Kehebatan senjata itu adalah, tidak ada manusia atau objek mekanik yang dapat menghindar dari bidikannya. Sebab, ia bergerak secepat cahaya. Pada frekuensi sedang-sedang saja, ia dapat menembus tembok tebal. Karena amunisinya ringan, berupa gelombang radio, kemampuan senjata tersebut hanya dibatasi oleh suplai listrik. Selama suplai tersedia, ia bisa digunakan kapan saja dan di mana saja. Tidak ada bahan kimia atau proyektil, yang penggunaaannya bisa saja melanggar perjanjian internasional atau secara tidak sengaja melukai atau membunuh mereka yang bukan jadi sasaran. Faktor Keluwesan "Bila kita menghadapi musuh yang siap mati, dengan senjata ini kita dapat memberikan mereka pilihan," kata George Gibbs, seorang insinyur sistem yang bekerja di Marine Expeditionary Rifle Squad Program (MERSP). MERSP-lah yang mengawasi proyek energi yang diarahkan tersebut. "Yang ingin saya ciptakan adalah, cara menembak yang tidak membahayakan nyawa musuh," katanya. Seluas spektrum elektromagnetik itu sendiri, senjata energi yang diarahkan dapat dibuat dalam berbagai bentuk. Paling sederhana dan tidak mahal adalah senjata ringan laser yang dapat membutakan sementara penglihatan musuh (sudah digunakan di Irak). Senjata frekuensi radio lain, yang sedang dalam pengembangan, mampu menyabot eletronika ranjau darat. Dan yang lebih besar serta lebih kuat: laser yang dapat menghancurkan sasaran sejauh puluhan kilometer. Keluwesan senjata-senjata energi yang diarahkan sungguh vital, sebab konflik militer yang melibatkan peperangan besar semakin jarang terjadi belakangan ini. Namun teknologi tersebut menghadapi sejumlah hambatan praktis, misalnya bagaimana memperkecil ukuran antena penembakan sinar dan menyediakan suplai tenaga (listrik). Sulit Para pejabat militer AS juga mengatakan, masih banyak yang perlu dilakukan untuk menjamin masyarakat internasional bahwa senjata-senjata laser yang dibuat untuk melumpuhkan musuh tidak akan membunuh musuh atau melukai warga sipil. Isu semacam itu baru-baru ini memaksa Pentagon menunda Project Sheriff. Proyek itu bertujuan melengkapi kendaraan-kendaraan militer AS di Irak dengan senjata kombinasi (untuk membunuh dan tidak membunuh), termasuk senjata energi gelombang mikro yang membuat musuh merasakan kulitnya bagaikan terbakar. Sheriff diharapkan dapat mulai dipakai pada 2006. "Lebih baik melangkah mundur, guna meyakinkan bahwa kita sungguh-sungguh memahami apa yang akan kita lakukan dengan senjata ini," kata David Law, kepala Bidang Sains Teknologi Joint Non-Lethal Weapons Directorate. Komponen energi yang diarahkan dalam proyek tersebut adalah Active Denial System, yang dikembangkan oleh para periset US Air Force (AU AS) dan dibuat oleh Raytheon Co. Komponen itu menghasilkan pancaran gelombang energi satu milimeter yang dapat menembus sedalam 1/64 inci (satu inci = 2,5 sentimeter) kulit manusia. Musuh yang terkena bakal merasa kepanasan dan memaksanya berhenti melakukan apa pun. Para penyidik militer mengatakan, riset selama puluhan tahun telah menunjukkan sinar laser tidak akan membunuh seseorang yang jadi sasaran, selama penyinaran dibatasi waktunya. Berapa lama? Itulah yang masih dirahasiakan. Yang pasti dalam hitungan detik, bukan menit. Jarak tembak senjata laser masih dirahasiakan. Active Denial telah melakukan pengembangan selama 11 tahun dengan biaya 51 juta dolar AS (sekitar Rp 510 miliar). "Terbukti, betapa sulitnya menghadirkan model senjata laser yang tidak mematikan," kata Law. (yahoo-ed-58) |