SUARA MERDEKA
 
INDEKS NASIONAL Minggu, 10 Juli 2005

UNGARAN - Kendati empat calon bupati dan wakilnya menolak menghadiri undangan pengambilan undian nomor urut pasangan calon, KPUD Kabupaten Semarang tetap menjalankan salah satu tahapan pemilihan bupati (pilbup) tersebut. Lembaga penyelenggara pesta demokrasi langsung itu bahkan memberi kesempatan dua kali kepada para calon untuk mengambil nomor urut.

MANILA - Para uskup Katolik Filipina tampaknya ragu-ragu untuk mengeluarkan seruan yang menuntut Presiden Gloria Macapagal Arroyo agar mundur. Hal itu membuat Arroyo bisa bernapas lega untuk sementara. Laporan-laporan sebelumnya memberikan kesan, Konferensi Uskup Katolik Filipina (CBCP) akan menyerukan Arroyo agar meletakkan jabatan. Seruan itu menurut rencana disampaikan pada pertemuan CBCP, Sabtu kemarin.

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, Sabtu (9/7) sekitar pukul 11.00 di kediamannya di Jl Diponegoro Jakarta Pusat, mengundang sejumlah menteri untuk membahas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Menteri yang hadir dalam rapat dengan Wapres tersebut di antaranya Menhub Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Jusuf Anwar, Kepala Bappenas Sri Mulyani,

GURUH Soekarno Putra yang bertindak selaku penggagas dan pengarah seni sandiwara musikal Mahadaya Cinta benar-benar menggembirakan penontonnya. Pertunjukan perdana yang berlangsung pukul 16.00-18.45 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, kemarin itu seolah terasa singkat.

SEMARANG - Satu poin yang bisa diraih di Stadion Teladan Medan pada putaran pertama lalu membuat Indriyanto Nugroho dan kawan-kawan lebih percaya diri saat menghadapi PSMS Medan pada putaran kedua Kompetisi Liga Djarum Indonesia yang digelar di Stadion Jatidiri sore ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlihat sumringah saat melaksanakan perhelatan putera pertamanya, Lettu Infantri Agus Harimurti Yudhoyono yang menikahi bintang iklan dan presenter televisi, Annisa Larasati Pohan.

Selama beberapa hari belum lama ini, Humaini As, wartawan Suara Merdeka, ke Singapura untuk memenuhi undangan National University Hospital (NUH) dalam rangka promosi rumah sakit tersebut. Berikut laporannya.

Suasana panas dan kering terasa ketika memasuki kota Wonogiri, walaupun kadang-kadang daerah itu dikunjungi hujan juga. Beranjak ke Selatan, memasuki kompleks Waduk Gajah Mungkur, hamparan air bisa mengurangi rasa panas dan kering. Para pedagang ikan bakar dan makanan lain di sana tampak kesepian. Sebagian kios tutup. Dan, mereka yang buka,

Bukan tanpa alasan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan menterinya berkunjung ke Kabupaten Wonogiri pada 17 Juni lalu. Label dari kunjungan itu memang "Pencanangan Program Ekonomi Kerakyatan". Tapi tidak banyak yang tahu bahwa kehormatan dikunjungi kepala pemerintahan tertinggi itu berawal keberhasilan Pemkab menentukan "titik" yang menjadi inti dari perubahan, dan menjadikan daerah itu menjadi Pelopor Pengembangan Daerah Tertinggal untuk skala nasional.

Kabupaten Wonogiri dikenal memiliki sisi-sisi yang kontras. Alamnya tergolong miskin dan gersang. Tetapi di balik itu, warganya tergolong ulet. Banyak dari mereka yang menjadi kaum boro dan sukses berusaha di luar daerah. Di era otonomi daerah ini, mereka menjadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Potensi yang mereka miliki akan dipadukan dengan potensi-potensi yang ada di dalam wilayah kabupaten. Bagaimanakah hal itu dilakukan? Berikut petikan wawancara dengan Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi SH:

DALAM Undang-undang No 32 Tahun 2004, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota terdiri atas Bupati/Walikota dan DPRD. Itu artinya, harus ada sinergi gerak, langkah dan sepak terjang ekskutif bersama legislatif, dalam upaya memajukan daerah dan menyejahterakan masyarakatnya. Ketua DPRD Wonogiri Sugimin Djoko Suwondo ST,

Bergerak dari Kota Wonogiri ke arah Timur lewat jalan utama yang menuju Kabupaten Magetan Jawa Timur, kita akan melewati wilayah Kecamatan Ngadirojo. Jaraknya sekitar 8 km dari Wonogiri kota. Pemandangan yang berbeda dari daerah itu dibanding daerah-daerah lainnya, adalah banyaknya pohon mete ditanam di pekarangan-pekarangan.

Pernahkah Anda naik angkutan kota (angkota) di Surabaya? Mungkin ada yang menukas, apa sih istimewanya? Paling-paling rasanya sama dengan angkota-angkota di daerah daerah lainnya, sumpek dan berimpit-impitan di dalam dan sering ngetem pula.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA