logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 Juli 2005 PANTURA
Line

Tanpa Pembatas, Kwh Meter Socket Bisa Membahayakan

KAJEN - Penggunaan kwh meter tanpa pembatas bisa membahayakan, tidak hanya bagi pelanggan tapi juga anggota masyarakat di sekitarnya. Pasalnya, kwh tanpa pembatas bisa mengakibatkan kerusakan jaringan instalasi PLN ataupun pelanggan.

Pernyataan tersebut disampaikan pakar teknik elektro dari UGM Dr Tumiran. Sistem kelistrikan memiliki kapasitas yang tidak bisa dilampaui. Kelebihan kapasitas bisa berakibat pada kerusakan salah satu sistem atau terhentinya operasi dan pelayanan.

''Demikian pula yang dialami dengan kwh meter untuk mencatat besarnya daya listrik,'' ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara sosialisasi penggantian kwh meter socket di aula lantai I Setda Kabupaten Pekalongan, kemarin.

Kwh meter tipe socket yang masih banyak digunakan oleh para pelanggan di Kabupaten Pekalongan, ujar dia, adalah salah satu kwh meter yang tanpa alat pembatas.

Meskipun digunakan dengan daya kontrak 450 VA, dapat dipakai hingga 22.000 VA. Selain tanpa pembatas, kwh meter berbentuk bulat tersebut juga tidak akurat dalam pengukurannya.

''Akibatnya, kontinuitas pelayanan listrik sering terganggu dengan seringnya trafo meledak karena pemakaian kwh meter socket yang los setrum,'' tandasnya.

Pembicara lain adalah Prof Dr Sri Redjeki dari Fakultas Hukum Undip. Dia berpendapat, PLN sudah waktunya mengganti semua alat teknis yang tidak memenuhi persyaratan dan sudah tidak tepat teknologi demi keamanan semua pihak.

''Salah satunya adalah penggantian meteran socket jika itu memang dinilai tidak tepat lagi. Itu demi menciptakan keadilan yang sesungguhnya,'' tegasnya.

Redaktur Pelaksana Suara Merdeka Zaini Bisri yang juga menjadi pembicara menegaskan pentingnya peranan media dalam mengubah perilaku masyarakat. Persoalan pemakaian kwh meter socket di lingkungan APJ Pekalongan, kata dia, sejatinya bagaimana mengubah pandangan masyarakat pengguna tersebut.

Melalui Media Massa

''Wacana penggantian meteran socket dengan kwh meter standar bisa dibangun dan dirancang dengan menyebarluaskan melalui media massa.''

Amirudin, pengajar Komunikasi Fisip Undip mengkhawatirkan munculnya kecemburuan sosial dari pengguna kwh meter standar jika masih ada pelanggan yang tetap menggunakan kwh meter socket.

Sementara itu, Manajer PLN APJ Pekalongan Fajar Munikah menandaskan, di Kabupaten Pekalongan masih ada 10.225 pelanggan yang menggunakan meteran socket. Dari jumlah tersebut, sebagian untuk rumah tangga, industri konfeksi, tempat ibadah, dan usaha lain. ''Tahun lalu rencananya diganti untuk 2.000 pelanggan. Namun baru selesai 77 pelanggan, kegiatan itu terhenti karena ada penolakan dari masyarakat,'' ujarnya.

Sementara itu, Bupati Pekaloangan Drs H Amat Antono dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya sosialisasi. Bagaimanapun bagus sebuah konsep, jika tidak disosialisasikan juga akan percuma.

''Untuk itu saya minta dalam acara ini kita bisa saling mendengarkan sehingga semua bisa tercapai sesuai dengan harapan,'' tandasnya.

Sosialisasi penggantian meteran socket yang dipandu oleh Public Relation Consultant PLN Pekalongan Novel Ali tersebut diikuti oleh para kades, camat, akademisi, tokoh agama, LSM, dan elemen masyarakat yang lain.

Setelah acara tersebut, ujar Novel, PLN juga akan menggelar berbagai sosialisasi lanjutan baik melalui forum-forum resmi maupun media lain termasuk silaturahmi dengan berbagai tokoh masyarakat.(G16-17j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA