| Jumat, 08 Juli 2005 | WACANA |
Surat PembacaBBN Subsidi Bikin Bangkrut NegaraPemandangan SPBU, semua antre, semua jengkel. Yang lebih jengkel lagi dalam antrean ada Innova keluaran 2005 yang boros bensin dengan 2000 cc berkapasitas tangki 70 liter ikut antre bersama motor yang kapasitas tangkinya 6-9 liter. Yang di mobil enak-enak pakai AC, pakai motor kepanasan dipanggang matahari. Lihat juga di koran, nelayan tidak bisa melaut karena solar habis, ancaman serius untuk kehidupan mereka. Untuk di kota, Isuzu diesel juga enak-enak pakai AC, nunggu antrian. ,Adilkah, tentu tidak. Gimana supaya adil, prinsip umum yang kaya wajib subsidi yang miskin. Tentu lewat kebijakan cepat pemerintah. Yang boleh beli premium bersubsidi hanya motor dan mobil keluaran di bawah tahun 2000. Mobil keluaran di atas tahun itu harus pakai pertamax atau premium nonsubsidi. Mobil keluaran di atas tahun 2000 harganya di atas Rp 100 juta. Untuk diesel, solar bersubsidi hanya dijual di jalur bus kota, bus umum dan angkutan truk luar kota dan SPBU khusus nelayan dengan sistem kupon. Solar di dalam kota dijual dengan harga nonsubsidi. Pemerintah hanya punya Rp 70 triliun untuk subsidi BBM. Padahal kebutuhan nyata dengan harga kartel gila-gilaan model Amerika setelah mendapatkan ladang minyak di Irak, butuh Rp 110 triliun. Duit dari mana?. Lebih baik uang subsidi itu untuk pendidikan. kesehatan dan pengentasan kemiskinan. Negara yang lebih miskin misal India dengan pendapatan per kapita 300 US dolar/tahun, harga premium Rp 10.000/liter. Indonesia yang perkapitanya 1200 US/tahun, harga premium Rp 2.400. Kenapa, karena India tidak mensubsidi BBM, serahkan pada pasar bebas. Bayangkan saja, setiap saya menginjak pedal gas mobil, saya sudah bakar habis uang subsidi negara yang bisa dipakai membantu orang lain yang tidak mampu, sesama anak bangsa. Dokter Arya H SH Jl Erlangga Raya 39, Semarang *** Salam Persatuan dan Kesatuan Ada satu prinsip yang oleh Aristoteles disebut mimesis. Menurut prinsip ini, bahwa seni itu mengikuti alam. Alam sebagai hasil mahakarya Sang Pencipta memang layak menjadi satu-satunya sumber keindahan. Alam bukan hanya bumi, tetumbuhan, hewan tapi mencakup manusia dengan segala perilakunya. Ketika penduduk Indonesia 135 juta, Rhoma Irama mencipta lagu, "Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia." Dan saat hiruk-pikuk reformasi dia menggubah pula lagu "Reformasi". Dalam seni sastra bahkan lebih tajam lagi. Ketika perilaku korup makin menggurita maka penyair Taufik Ismail menulis Gurindam Satu sbb: Secoret parafku memancarkan komisi seratus juta. Bertahun-tahun begitu sampai mataku buta. Dalam bentuk singkatan dan akronim juga mengikuti gejala alam. Sejak saya SD sampai sekitar tahun dua ribuan, KPK itu ditemukan dalam pelajaran matematika, berasal dari Kelipatan Persekutuan Terkecil. Tapi ketika penjaga keadilan menurut DPR, tidak memadahi untuk memberantas korupsi maka dibentuklah KPK. Lembaga ini bukan lagi konsumsi anak SD, tapi dambaan anak bangsa yang menginginkan negara bebas korupsi minimal menurunkan "peringkat" di dunia internasional. Usulan saya, jangan hanya yang kelas kambing sampai kakap, tapi kelas hiu atau paus "mbok" segera dinusakambangankan. Nanti keburu hilang lho. Yang berobat ke Australia konon terlanjur meninggal. Padahal konon pula dia membawa uang rakyat Rp 10 triliun. Nanti yang "berobat" ke Singapura keburu hilang pula kalau tidak cepat dijemput pulang. Asal tidak kaget konon hiu ini menelan uang rakyat lebih fantastis, ruaar biasa: Rp 28 triliun. Dengan uang rakyat sebesar itu berapa ribu gedung sekolah dapat dibangun. Berapa juta buku dapat diberikan gratis pada anak didik, silakan pembaca menghitung sendiri. Tapi memang diperlukan keberanian memberantas korupsi. Koruptor itu konon menurut pujangga Jayabaya bagai ular berbisa, yang bukan hanya keluar dari mulutnya namun keluar pula dari duburnya. Parsum Kalisalak Rt 3/Rw 12 Kebasen, Banyumas *** Tanggapan Telkomsel Menanggapi permasalahan yang disampaikan Bp Tonny Joko Partono 2 Juli 2005 mengenai aplikasi kartuHALO, kami telah menyelesaikannya dengan yang bersangkutan langsung. Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak atas kepercayaan dan kesetiaannya menggunakan kartuHALO dari Telkomsel, semoga segala masukan yang bapak berikan, menjadi bahan untuk meningkatkan pelayanan kami. Yanto Santoso CorpCommunication Reg Jateng & DIY *** Nikah dan Nyumbang Teman kuliah saya di Undip dulu, sedang pusing tujuh keliling. Keluarganya ingin mengadakan resepsi pernikahan anaknya di gedung tapi si anak tidak setuju, cukup di rumah saja. Lebih tidak setuju lagi mendengar si anak tidak mau mencantumkan gelarnya. Sebagai kawan saya hanya bisa menasihati, tetaplah berlemah-lembut terhadap orang tua. Ingatlah firman Allah pada surat Thaahaa ayat 20, Allah perintahkan Nabi Musa dan Harun untuk lemah-lembut dalam menghadapi Fir'aun yang terkenal dengan kedzholimannya. Bukan hanya berlemah-lembut saja, tetapi juga berdiskusi dengan baik, karena bisa jadi pada pendapat orang tua ada kebenaran yang belum terengkuh oleh si anak. Misalnya, resepsi di gedung itu lebih memudahkan daripada di rumah karena harus beres-beres. Misalnya, gelar dicantumkan adalah juga simbol kebahagiaan orang tua karena punya anak yang sukses sekolahnya. Juga penyantuman gelar itu belum tentu masuk kategori sombong, malah bisa positif. Oh ya, sekalian saya ingin bertanya kepada pembaca. Sudah menjadi tradisi bila ada resepsi pernikahan, orang lebih suka memberi amplop (berisi uang tentunya) daripada hadiah. Alasannya lebih praktis. Tapi anehnya, bila yang punya hajat orang yang disegani atau orang kaya, kita memberi sumbangan uang yang besar ketimbang bila yang punya hajat saudara atau teman/tetangga yang notabene hidup pas-pasan. Kok terbalik? Joko Suprayoga Jl Raya Sapen 99 Sukorejo, Kendal *** PLN Ingkar Janji Nasib rakyat kecil Desa Ngrayung Kalangbandar Kecamatan Geyer, Grobogan terabaikan khususnya para pelanggan/konsumen listrik baru. Mereka terdiri dari para petani kecil merasa dirugikan akibat PLN Area Semarang yang ingkar janji. Mereka berlangganan listrik dengan sistem abonemen artinya listrik dapat menyala tanpa menggunakan meteran. Janjinya 4 bulan sudah dipasang meterannya namun kenyataannya sudah 6 bulan belum ada tanda-tanda dipasang. Padahal petani sebagai pelanggan setiap bulannya harus bayar rekening. Ini semua dirasa berat bagi petani yang penghasilannya pas-pasan. Sedang desa tetangga Monggot yang baru 2 bulan sudah dipasang meterannya. Dengan meteran maka pelanggan akan bisa menghemat listrik. . Mugiyono Kalangbancar Rt 4/Rw 1, Grobogan |