| Jumat, 08 Juli 2005 | WACANA |
Ahmadinejab Vs Tekanan ASOleh: Eddy MaszudiKEMENANGAN telak (61,6%) kubu garis keras, Mahmoud Ahmadinejab dalam Pemilu Iran 24 Juni 2005 membuat AS merah padam. Ahmadinejab (48) bersaing dengan kubu reformis dan status quo Ali Akbar Hashemi Rafsanjani (70) yang direstui mantan Presiden Khatami dan mempunyai sikap moderat dengan barat (AS)-meraih 38,4% suara. Dalam kampanye politiknya Ahmadinejab selalu mengusung isu populis yakni pemberantasan kemiskinan, korupsi dan tampil sangat bersahaja. Di bidang politik luar negeri bersikap tegas seperti Iran akan tetap melanjutkan program nuklir untuk energi dan pertahanan, serta berani mengatakan tidak terhadap semua keinginan Presiden AS George Walker Bush untuk menekan Iran. Dengan isu perubahan dan berani menantang Barat, maka generasi muda mengharapkan presiden barunya mampu membawa Iran kembali semangat Revolusi 1979. Lewat revolusi itu pemimpin spiritual Iran dan Syiah Imam Khomaeni mampu menggulingkan raja Reza Pahlevi yang sangat pro-barat. Sejak saat itu Iran menjadi model praktik demokrasi Islam secara modern dan negara yang terus berani berkata tidak dengan AS dan Barat. Tekanan AS dan sekutunya tidak mampu membuat Teheran tunduk. Sebaliknya seluruh rakyat bersatu melawan rekayasa barat untuk melemahkan spirit revolusi. Perang delapan tahun dengan Irak yang didukung monarki Arab dan AS tidak mampu membuat Teheran tunduk. Oleh karena itu di tengah kepungan AS di Afghanistan dan Irak yang mempunyai perbatasan langsung dengan Iran, sekarang ini rakyat Iran membutuhkan pemimpin yang mampu membawa semangat baru revolusi Iran. Kembalinya Spirit Revolusi ? Di bidang teknologi nuklir, Ahmadinejab mengatakan, Iran menginginkan nuklir untuk membuat pembangkit tenaga listrik, bukan untuk bom. Iran sejauh ini setuju membekukan beberapa aktivitas nuklirnya hingga Juli 2005. Oleh karena itu naiknya kubu konservatif dan garis keras Iran dalam pentas politik mampu membuat AS, Inggris, Perancis kebakaran jenggot. Merunut ke belakang, hubungan Teheran-Washington ada pada titik nadir sejak penyanderaan 444 hari terhadap 52 warga AS, 4 November 1979 di Kedubes AS di Teheran. AS memutus hubungan diplomasi dengan Iran. Semenjak saat itu hubungan diplomatik kedua negara tersebut selalu diwarnai ketegangan. Meskipun demikian di era pemerintahan Ronald Reagan sempat terjadi negosiasi antara Washington-Teheran dalam Skandal Iran-Contra, tapi di masa pemerintahan Bill Clinton, AS kembali meningkatkan derajat ketegangan dengan menerapkan kebijakan dual containment untuk mengisolasi Iran (Indriana Kartini, LIPI, 2005). Setelah Khatami mampu menjadi orang nomor satu di Iran 1997, ia menjalankan kebijakan dÈtente terhadap AS. Clinton ketika itu merespons dengan memberi sinyal positif kepada Iran dan menjanjikan pengurangan sanksi ekonomi. Tapi, relasi Teheran-Washington kembali menegang di masa pemerintahan Bush Jr yang menjuluki Iran sebagai axis of evil bersama Irak, dan Korea Utara. Bagi rakyat Iran, AS dan Barat selama ini tidak pernah mempunyai niat yang baik terhadap negerinya. Setelah revolusi 1979 sampai sekarang ini, Iran selalu menjadi negara target operasi militer AS. Mengapa demikian? Dengan semangat revolusi Iran dan ideologi Syiah-nya, Iran adalah sumber ancaman ideologis terhadap semua kepentingan barat di Timur Tengah. Apalagi mayoritas rakyat di Timur Tengah sebetulnya adalah penganut Islam aliran Syiah. Jika revolusi Iran tidak dihambat, maka Irak, Arab Saudi, Yordania akan berubah menjadi republik Islam dan Iran sebagai modelnya. Sekarang ini AS bersama Inggris sedang mencari-cari kesalahan Ahmadinejab dengan mengaitkan dirinya apakah terlibat langsung dalam drama penyanderaan 444 hari kedutaan AS di Taheran tahun 1979. Bila pemimpin baru Iran yang tidak diprediksikan tersebut terlibat secara langsung, maka AS mempunyai alasan untuk masuk lebih luas dalam masalah internal dalam negeri Iran. Apakah Bush Jr berani menyerang Teheran seperti halnya menghujani Bagdad dengan bom untuk menurunkan Saddam Hussein? AS dan sekutunya sekarang ini belum 100% mampu menguasai Kabul dan Bagdad, bahkan bisa dikatakan AS sudah kewalahan dalam menghadapi perang gerilya. Jika Bush dan Blair memperluas medan perang di Timteng dengan mengempur Taheran, maka aksi menentang perang akan semakin besar baik di dalam negeri AS maupun di seluruh dunia. Tekanan Bush Jr AS yang menguasai di Afghanistan dan Irak yang mempunyai perbatasan langsung dengan Iran mempunyai kepentingan yang besar terhadap Iran. Apalagi pengaruh Iran di Irak sangat besar pascatumbangnya Saddam Hussein. AS tidak menginginkan adanya pemimpin Iran garis keras yang muncul di Teheran. Oleh karena itu Bush Jr akan menggunakan cara-cara diplomatis hingga invasi untuk menggiring Iran berada dalam wilayah pengaruh AS . Permasalahan sekarang adalah apakah Ahmadinejab bersama rakyat Iran akan begitu saja tunduk terhadap kemauan Gedung putih? Jika presiden baru Iran mengikuti irama Gedung Putih dan tidak berani berkata tidak terhadap kepentingan barat dan AS, maka popularitas akan menurun di dalam negeri. Rakyat Iran menginginkan kebangkitan revolusi Iran jilid kedua. Sebab selama pemerintahan Khatami, Rafsanjani yang modert barat pun juga tetap menekan Teheran. Akan tetapi bila wajah konservatif dan garis keras yang dikedepankan, maka secara geo politik Iran yang sudah di kepung oleh AS di Afghanistan, Iran dan Israel akan mudah dimemicu invasi AS lebih lanjut. Dua buah pilihan yang sama-sama pahit bagi pemimpin baru Iran. Dengan spirit revolusi Iran yang ditakuti barat dan nasionalisme Iran bersama ideologi Syiah, Bush Jr akan berfikir lima kali untuk melakukan pertualangan militer di Iran. Jadi perang diplomasi, embargo ekonomi, intelejen dan uraf sarat akan menghantui hubungan Teheran-Washington di era Presiden Mahmoud Ahmadinejab. (11) -Eddy Maszudi, Ketua Umum Centre Strategic for Development
and International Relations (CSDIR), Pengamat Masalah Politik Internasional.
|