| Jumat, 08 Juli 2005 | WACANA |
tajuk rencanaKasus BBM, Tak Cukup Hanya dengan Pernyataan- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat untuk tidak panik dan berusaha menghemat pemakaian BBM, khususnya premium. Pemerintah bertekad mengatasi kelangkaan dengan menjamin ketersediaan pasokan. Meskipun hal itu mengandung konsekuensi dari segi biaya dan kuota yang dianggarkan dalam APBN. Begitulah penegasan SBY seusai menggelar rapat konsultasi dengan seluruh pimpinan lembaga negara di Kantor Presiden. Ketua MPR, DPR, DPD, BPK, MK, dan MA hadir, di samping Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Pertemuan itu begitu penting untuk membicarakan masalah krusial yang dihadapi menyangkut kelangkaan pasokan BBM yang merata di seluruh Tanah Air. - Tentu kita merasa lega, persoalan itu telah diangkat ke permukaan dan dibahas secara intensif oleh pemerintah yang sekaligus merumuskan langkah-langkah untuk mengatasi masalah. Sayangnya berbeda dari pernyataan, kenyataan di lapangan masih sama. Antrean panjang di SPBU makin meluas sehingga mengakibatkan spekulasi pedagang yang menjual harga premium Rp 4.000 per liter sampai dengan Rp 15.000 per liter di luar Jawa. Beberapa SPBU terlihat sudah tak beroperasi karena tak memiliki stok lagi. Masyarakat resah, menggerutu, dan mulai mempertanyakan kredibilitas pemerintah. Semua itu wajar-wajar saja, sebab mereka belum pernah merasakan keadaan seperti sekarang. Sudah harga dinaikkan masih juga langka. - Pernyataan pemerintah dan SBY juga tak menjelaskan secara persis apa masalahnya dan sampai di mana tingkat kegawatannya. Juga tak pernah menjamin secara pasti mulai hari apa, jam berapa pasokan BBM sudah bisa diatasi di seluruh Tanah Air. Rasanya tak habis mengerti karena di satu sisi kita diminta tidak panik, tetapi kenyataannya sama sekali belum ada perbaikan dari segi kelancaran. Buktinya sudah terlihat jelas, antrean panjang terjadi di mana-mana dan pembatasan pembelian untuk setiap orang mulai diberlakukan. Apa sebenarnya yang terjadi? Dan mengapa tak segera teratasi? Bukankah pemerintah memiliki akses dan kemampuan yang sudah teruji selama berpuluh-puluh tahun untuk masalah ini. Terus terang kita tak habis mengerti. - Sampai-sampai muncul pikiran negatif, jangan-jangan ada yang memang ''bermain'' dan mencoba ''mengerjain'' pemerintah. Untuk menimbulkan citra negatif atau mencoba mengalihkan perhatian atas suatu masalah yang sedang menjadi fokus. Katakanlah penegakan hukum dan penanganan kasus-kasus KKN yang sekarang makin gencar. Tetapi pikiran seperti itu pun sama sekali tak ada dasarnya apalagi bukti-bukti. Semua hanya karena ketidakmengertian, bagaimana mungkin pemerintah yang begitu kuat dan besar seperti tak mampu berbuat apa-apa mengatasi masalah kelangkaan BBM dalam kurun waktu berminggu-minggu. Di mana letak kesalahan itu. Kendati kita mengetahui adanya kesulitan keuangan karena terjadinya beban tambahan akibat kenaikan harga minyak dunia. - Berbagai penjelasan teknis telah diberikan mulai dari Direktur Utama Pertamina Widya Purnama sampai Menteri Energi Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Tetapi bukannya lebih paham, masyarakat makin dibuat bingung. Karena tak pernah cocok antara pernyataan dan kenyataan di lapangan. Misalnya dijanjikan pasokan BBM segera dilancarkan, sedangkan yang dijumpai di lapangan tetaplah kesulitan memperoleh premium. Jadi sudah tak perlu lagi pernyataan-pernyataan atau sekadar ajakan untuk tidak panik. Yang lebih penting bukti dan kenyataan yang dihadapi sehari-hari. Ukurannya jelas, kalau sudah tak ada antrean dan masyarakat dapat dengan mudah membeli premium seperti sediakala berarti tak ada lagi masalah itu. - Pemerintah perlu lebih tanggap dan selalu ingat ini masalah sensitif. Dengarlah keluhan masyarakat yang kemudian membandingkan dengan masa-masa dulu. Masa pemerintahan sebelumnya yang tak pernah merasakan kesulitan seperti ini. Benar memang ada masalah terkait dengan dana subsidi BBM yang pasti akan membengkak hebat karena terjadinya kenaikan tajam harga minyak dunia dan juga kemerosotan rupiah. Dan kita bukan tidak mau tahu masalah ini. Hanya menginginkan hal itu diprioritaskan karena bagaimanapun BBM dan sektor transportasi adalah urat nadi perekonomian. Adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat dalam menjalankan aktivitas. Kalaupun segera perlu ada langkah penghematan, mari kita rumuskan bersama. Yang penting pasokan BBM diamankan dulu. |