| Jumat, 08 Juli 2005 | NASIONAL |
Ulama Intelektual Berjaringan GlobalSETELAH melalui berbagai rumor soal calon Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005- 2010, Prof Dr HM Din Syamsuddin MA akhirnya terpilih secara aklamasi untuk menduduki posisi tersebut. Sebagai seorang kader Muhammadiyah sejati, namanya sudah sangat mengakar di tingkat akar rumput Muhammadiyah. Dia seperti menjadi representasi kalangan generasi muda yang terpilih menjadi anggota PP Muhammadiyah pada muktamar di Jakarta, lima tahun lalu. Dengan terpilihnya sebagai ketua umum pada muktamar kali ini, Din ibarat meteor yang melejit. Dia menjadi pengurus persyarikatan Muhammadiyah hanya dengan melangkahi sekali muktamar. Pada pemilihan 13 anggota PP saat muktamar di Jakarta, Din berada pada urutan kedua di bawah Ahmad Syafii Maarif. Dia mengumpulkan 1.048 suara, sedangkan Syafii 1.282 suara, disusul A Malik Fadjar di urutan berikutnya (1.041 suara), dan Rosyad Sholeh (1.034 suara). Sementara di muktamar ke-45, di tengah pengepungan berbagai pihak selama penghitungan suara, Din mengungguli Haedar Nasir dengan selisih suara yang cukup meyakinkan. Sementara, posisi ketiga ditempati silih berganti antara Muhammad Muqoddas dan A Malik Fadjar. Din meraih 1.718 suara, disusul Haedar (1.374), Muqoddas (1.285), dan Malik di urutan berikutnya (1.277). Din Syamsuddin dikenal sebagai ulama intelektual, organisator ulung, serta tokoh yang memiliki pergaulan luas. Dia amat dikenal oleh kelompok-kelompok Islam maupun umat agama-agama lain, baik di dalam maupun luar negeri. Pria kelahiran Sumbawa Besar 31 Agustus 1958 itu dikenal berkepribadian santun dan simpatik, tetapi pada saat yang sama sangat berpendirian tegas jika sudah bicara soal kebenaran dan keadilan. Tak aneh jika dia dikatakan sebagai ulama intelektual. Din lulusan KMI Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo (1975) dan Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1982). Lantas, dia meraih gelar Master of Art (1988), dan Doctor of Philosophy (1996) bidang pemikiran politik Islam dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat. Pada April 1999, Din dipromosikan sebagai guru besar (profesor) di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang belakangan berganti nama menjadi Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah. Selama menjalani pendidikan, dia menguasai sedikitnya empat bahasa asing, yakni Arab, Inggris, Persia, dan Prancis. Dari Bawah Mengawali aktivitasnya di Muhammadiyah betul-betul dari bawah, Din masuk menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hingga menjabat posisi Ketua Dewan Pimpinan Pusat (sementara) IMM pada 1985. Di Pemuda Muhammadiyah, Din juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat periode 1989-1993. Pascamuktamar di Banda Aceh (1995), dia menjadi anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah. Semasa Syafii Maarif menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din duduk menjadi wakil ketua. Di birokrasi, Din pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Departemen Tenaga Kerja. Di luar itu, dia pun tercatat sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, anggota Majelis Tinggi Dakwah Islam Internasional yang berpusat di Tripoli, dan Presiden Konferensi Asia untuk Agama dan Perdamaian yang berpusat di Tokyo. Dalam kurun waktu terakhir, dia menjadi Ketua Panitia Dialogue on Interfaith Cooperation: Community Building and Harmony atau Dialog Kerja Sama Antaragama: Membangun Kebersamaan dan Keharmonisan di Yogyakarta pada 6-7 Desember 2004 yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat lintas agama dan pemerintahan se-Asia Pasifik. Kemudian, selama sepekan mengunjungi Australia memenuhi undangan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer. Selain itu, bertemu sejumlah tokoh lintas agama, baik Kristen, Yahudi, maupun Islam untuk tukar menukar pengalaman guna membangun kerukunan antarumat beragama. Dia juga pernah menghadiri simposium internasional dan dialog tokoh-tokoh lintas agama di Moskow pada 7-8 Juni 2005 dengan tema "Agama dan Perdamaian: Dari Terorisme hingga Etika Global". Selain itu, dia bertemu anggota Russia-Islamic World Group, sebuah kelompok di parlemen Rusia yang memberikan perhatian bagi kerja sama Rusia dengan dunia Islam. Terakhir, 22 Juni lalu, dia tampil sebagai panelis di International Conference on Interfaith Cooperation for Peace (Konferensi Internasional tentang Kerja Sama Antaragama untuk Perdamaian) di markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat. Ya, semua itu merupakan bukti bahwa Din merupakan sosok ulama intelektual berjaringan global. (Tim SM-46) |