logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 Juli 2005 NASIONAL
Line

IMM Tolak Penjumudan Gerakan Tajdid

MALANG- Beruntunglah Muhammadiyah karena telah mampu melahirkan generasi yang menjadi lahan subur bagi berseminya pengembangan pemikiran dan gerakan untuk melakukan "tajdid gerakan" dari "gerakan tajdid" Muhammadiyah yang secara terus menerus dihidupkan. Barangkali inilah tanda sejarah bagi kebangkitan kembali gerakan Islam modernis untuk mencerahkan peradaban yang tidak dapat dihindari kalangan mana pun.

"Inilah era bagi lahirnya para mujadid. Namun disayangkan karena pengingkaran terhadap lahirnya para mujadid ini disambut keras sebagian kalangan elite Muhammadiyah yang punya kharisma."

Pendapat tersebut dikemukakan sejumlah ketua DPD IMM dalam pertemuan yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Media Center Muktamar Ke-45 Muhammadiyah di Malang, kemarin.

Tampil sebagai pembicara antara lain M Khoirul Muttaqin (Ketua DPP IMM), M Hasan Surahman (Ketua DPD IMM Jawa Barat), Dhoni Gunarto (Ketua DPD IMM DKI Jakarta), dan H Habib (Ketua DPD IMM NAD).

Menurut mereka , hal ini tidak dapat dibiarkan terus menerus sebab akan terjadi kekerasan yang tidak manusiawi dan bersifat mengideologis. Keluarga besar IMM menolak keras atas terjadinya proses penjumudan gerakan tajdid Muhammadiyah yang dilakukan sebagian kalangan dengan dalih pemurnian dan menjaga ideologi Muhammadiyah.

Sayangkan

Selain itu, keluarga besar IMM menyayangkan atas terjadinya tragedi kekerasan wacana dan penyingkiran terhadap JIMM (Jaringan Intelektuan Muda Muhammadiyah) dan PSAP (Pusat Studi Agama dan Peradaban) Muhammadiyah dengan tuduhan bagian dari

Islam liberal yang dilakukan oleh sebagian kalangan dengan mengatasnamakan kelompok ideologis Muhammadiyah atau Muhammadiyah fundamentalis.

"Kita akan tetap pertegas dan menjaga bahwa Muhammadiyah adalah organisasi gerakan Islam pembaharu," tandas M Khoriul Muttaqin mewakili sejumlah pembicara lainnya.

Dia menegaskan, IMM bersama dengan aktivis Muda Muhammadiyah yang pro terhadap tajdid gerakan akan terus melakukan gerakan kepeloporan untuk melangsungkan dan menyempurnakan gerakan dakwah Muhammadiyah. Dalam pada itu, perdebatan mengenai pemahaman antara tarjih dan tajdid juga diungkap oleh salah satu peserta sidang Komisi B Drs Fakhrurrazi R Sutan.

Hal ini disebabkan karena dalam memahami tarjih dan tadjid sering dianggap satu kesatuan yang utuh. Bahkan acapkali terjadi praktik generalisasi konsep yang mengakibatkan tumpang tindih dalam memberikan suatu kesimpulan pada permasalahan tertentu. Tarjih yang dimaksud di sini adalah memenangkan suatu argumentasi atas argumentasi lain terhadap suatu kasus hukum atau fikih.

"Tarjih membuat fatwa-fatwa tertentu ketika berhadapan pada masalah-masalah kontemporer," ungkap dosen FAI Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Sedangkan tajdid mengandung arti sebagai perubahan yang dilakukan untuk berorientasi pada pembaharuan dan dapat mengakibatkan perubahan yang baru. "Pembaharuan yang dilakukan ini lebih cenderung ke filsafat atau berpikir secara mengakar berdasarkan akal manusia," katanya.

Ketika ditanyakan apakah tema Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-45 "Jelang Satu Abad Muhammadiyah, Tajdid Gerakan Untuk Pencerahan Peradaban" dengan program kerja periode 2005 2010 ada relevansinya, dia mengatakan, itu boleh-boleh saja dan sah namun harus dibedakan antara tajdid dalam tema dengan pembaharuan pada program nanti.

"Tajdid dalam tema tersebut cenderung ke politis, sedangkan perubahan dalam program itu lebih ke implementasinya." (Tim SM-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA