logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 Juli 2005 NASIONAL
Line

Di Balik Kelangkaan BBM

"Ngangsu" Bensin hingga Larut Malam


TEMPAT TEDUH: Tiga orang berbincang-bincang di tempat yang teduh sambil menunggui jerigennya yang berderet di SPBU Tanjungkarang, Kudus. Minimnya pasokan BBM di Kudus menyebabkan konsumen harus antre untuk mendapatkan premium.(57v) SM/Prayitno

PERISTIWA kelangkaan BBM terutama untuk jenis premium (bensin) dan solar di sejumlah kota di Jateng sungguh membuat repot banyak orang. Namun, dari krisis itu, faktanya juga mendatangkan keuntungan bagi sejumlah pihak.

"Ya, saya yang pada hari-hari ketika bensin lancar-lancar saja biasanya menjual Rp 2.600/liter, kemarin bisa menjual Rp 2.700/liter. Bahkan, saat kelangkaan paling serius bisa menjual Rp 3.000/liter," kata Saeri (40), penjual bensin eceran di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kudus.

Selama kelangkaan BBM terjadi, sedikitnya bensin sebanyak 35 liter sudah ludes dalam rentang waktu tak sampai sehari di tangan pengecer. Bahkan, untuk pengecer sebesar Saeri, saat puncak kelangkaan bisa menjual 250-an liter selama sehari.

Meski urusannya dagang, Saeri yang mengaku telah jualan bensin eceran sejak 1989 tak lalu "gelap mata", bila mengetahui yang membeli bensin di kiosnya tetangga sendiri. "Kalau sama tetangga ya saya tetap menjualnya Rp 2.600/liter," tuturnya.

Bensin tersebut dia peroleh dari SPBU dengan harga sebagaimana tertera pada pompa yakni Rp 2.400/liter. Tapi, karena para pengecer tersebut diposisikan ngangsu, pada akhirnya masih dikenai ongkos tambahan oleh karyawan yang melayani mereka.

"Per jerigen biasanya dikenai tambahan biaya Rp 1.000, namun ada juga SPBU yang minta Rp 2.000/jerigennya," katanya. Pengakuan Saeri dibenarkan sejumlah pengecer bensin lain. Jerigen yang dipakai ngangsu para pengecer kebanyakan mampu menampung bensin sebanyak 35 liter.

Tahan Bersabar

Keuntungan besar, namun jalan mendapatkannya juga lebih sulit dilalui daripada hari-hari biasa. Para pengecer harus memiliki kesabaran ekstra dan energi yang berlebih untuk ngangsu bensin di pompa-pompa bensin. Mereka pun terpaksa harus bergadang atau bermalam di SPBU, diterpa dinginnya embun.

Menunggu ketidakpastian tersebut, sebagaimana para pengendara kendaraan bermotor, para pengecer bensin akhirnya juga ada yang tidak tahan untuk antre. "Saya akhirnya kembali pulang tanpa membawa setetes pun bensin, setelah menunggu lebih dari 10 jam di pompa bensin di Tanjungkarang," ujar Sutris, tetangga Saeri.

Sutris masih mencoba bertahan, ketika pada pagi hari ada informasi pukul 13.00 truk tangki pengangkut bensin sudah akan datang. Tapi, begitu ditunggu sampai jam tersebut pasokan tak jadi datang dan ada informasi ralat bensin baru akan datang sore hari, kesabaran Sutris akhirnya habis. Dia pun memutuskan pulang dengan tangan hampa.

Menurut Saeri, kelangkaan terlama di SPBU Tanjungkarang terjadi pada Selasa hingga Rabu malam lalu. "Saya saat itu antre sejak pukul 01.00 (Rabu), dan pasokan baru datang pada Rabu malam pukul 19.00," jelasnya. Kelangkaan yang sama ketika itu juga terjadi di SPBU lain di Kota Kretek.

Dia menerangkan, pasokan yang datang sebanyak 8.000 ton di SPBU Tanjungkarang pun langsung ludes dalam lima jam. "Karena itu, saya tak hanya antre di Tanjungkarang," tambahnya. Lelaki yang juga memiliki toko suku cadang sepeda motor tersebut juga mengantrekan jerigennya di SPBU yang terdapat di jalan lingkar tenggara Kudus, SPBU Papringan (Kaliwungu), dan SPBU di dekat Matahari.

Saat kelangkaan diperkirakan akan berlangsung lama, dia juga tak segan-segan ngangsu hingga di SPBU di Karanganyar (jalur pantura), Demak serta SPBU Trengguli, Kecamatan Karanganyar Demak. Saeri, juga para pengecer lainnya, mondar-mandir menyibak dinginnya malam dari satu pompa bensin ke pompa bensin lainnya.

Apa yang dialami pengecer sangat berbeda dari nasib nelayan.

"Yen jenenge nelayan susah, iku kawit mbiyen. Yen ana nelayan gak susah tambah katon wagu, gek-gek wonge gak beres," celetuk Mastukan (35), nelayan yang mangkal di lambiran Kali Serang (SWD II) Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Jepara. Beberapa rekannya yang duduk di atas perahu menimpalinya dengan sesekali melontarkan sindiran-sindiran pedas ke pemerintah.

Tentunya dengan bahasa khas kaum pesisir, terkesan kasar dan belaka sutha. "Dino iki ono aturan, dino iki ugo iso dilanggar,"timpal yang lain yang tiba-tiba menuduh, meski dengan bahasa sedikit samar.

Namun arah pembicaraan kemudian makin jelas kalau mereka sedang apatis terhadap nasibnya akhir-akhir ini. Para nelayan yang sedang berkumpul itu memang sedang tidak ada kerjaan. Tidak melaut?

Empat bulan lalu tiap hari mereka menghidupkan mesin perahu, berangkat ke laut untuk menangkap ikan. Sore berangkat, pagi tiba untuk menjual ikan. Atau pagi berangkat, sore jual ikan. Walau mereka mengaku lebih sering susah. Tak banyak ikan yang dapat ditangkap, karena keterbatasan alat tangkap dan mulai rusaknya ekosistem laut, ditambah harga ikan yang terus merosot.

Namun ada yang lebih penting di balik kesusahan itu. "Tiap hari toh kami bisa mengais rupiah, memberikan nafkah kepada keluarga. Walau tak seberapa hasilnya, asal tiap hari bisa mendapat uang, masih bisa untuk bertahan hidup," kenang Mastukan tentang "nasib baik"-nya empat bulan lalu.

Sekarang?

Akibat kelangkaan minyak tanah, sejak harga BBM naik per 1 Maret 2005, para nelayan mulai tercekik dengan keadaan. Awalnya mereka bisa bertahan dengan mengoplos solar yang naik harga menjadi Rp 2.000/liter dengan minyak tanah seharga Rp 1.000/ liter.

Begitu solar naik menjadi Rp 2.400/liter dan minyak tanah menjadi Rp 1.500/liter (bahkan ada yang Rp 1.700/liter), mereka lantas meninggalkan solar seratus persen. Kalaupun menggunakan solar, mereka hanya mampu membeli solar bekas yang relatif lebih murah. Tapi saat ini sebagian besar mereka sudah tidak lagi menggunakan solar sebagai campuran, tapi murni minyak tanah.

Mereka kembali terpukul karena kebutuhan besar akan minyak tanah menyebabkan BBM jenis ini langka. Kuota Jepara untuk minyak tanah 3.600 kilo liter/ bulan, sementara kebutuhan mencapai 3.750 kilo liter/bulan, atau kurang 150 kilo liter/bulan.

Jika nelayan terpaksa memilih minyak tanah untuk kebutuhan melaut, maka kebutuhan bahan bakar ini makin kurang. Ibu-ibu rumah tangga banyak yang mengeluh.

"Untuk masak saja harus antre dulu untuk beli minyak tanah,"ujar Anik (35), warga Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara, yang termangu di rumahnya dekat muara Sungai Demaan.

Mastoah (42), warga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, merasakan sulitnya memperoleh minyak tanah, terutama dalam sebulan terakhir.

"Tidak setiap hari saya bisa dapatkan minyak tanah. Kalah cepat, tidak kebagian," ujarnya yang selalu antre untuk mendapatkan barang empat liter minyak tanah/ hari. (Muhammadun Sanomae, Prayitno-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA