logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 Juli 2005 NASIONAL
Line

Din SyamsuddinTerpilih Aklamasi

MALANG - Seperti diduga sebelumnya, dalam Muktamar Ke-45 Muhammadiyah di Malang, Din Syamsuddin akhirnya terpilih sebagai ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005 - 2010. Formatur yang terdiri atas 13 anggota tetap PP Muhammadiyah, secara aklamasi memilih Din sebagai ketua umum.

Sebelumnya, ia memang diunggulkan karena dalam pemilihan 13 anggota tetap PP, ia memperoleh 1.718 suara dan cukup jauh jaraknya dengan perolehan suara yang diraih oleh anggota lainnya. Haedar Nashir, misalnya, yang menduduki urutan kedua, memperoleh 1.374 suara, dan urutan berikutnya, Muhammad Muqoddas memperoleh 1.285 suara.

Pemilihan yang diadakan di ruang rektorat kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berlangsung secara tertutup.

Namun Din Syamsuddin dalam keterangan persnya menggambarkan bahwa pemilihan berlangsung secara lancar, anggun, beradab, damai, dan penuh canda tawa.

Didampingi oleh enam anggota PP Muhammadiyah terpilih, yakni Bambang Sudibyo, Haedar Nashir, Yunahar Ilyas, Goodwill Zubir, Muhammad Muqoddas, dan Dahlan Rais, Din mengatakan siap menerima amanah dan akan berkomitmen untuk memimpin Muhammadiyah dengan sebaik-baiknya.

"Inilah tradisi dan budaya Muhammadiyah. Selalu berpegang teguh pada Islam,"ungkapnya.

Proses pemilihan yang lancar itu, kata Din, menunjukkan bahwa tak ada kubu-kubuan di Muhammadiyah. "Kalaupun ada isu dukungan atau penolakan terhadap suatu kubu, maka itu tidak terbukti. Ketua umum dipilih secara aklamasi dan disertai dengan canda tawa. Jadi tidak ada ketegangan,"tegasnya.

Politik Dakwah

Sesuai dengan agenda muktamar, ke-13 anggota PP terpilih mempunyai satu tekad untuk melanjutkan gerakan dakwah Muhammadiyah. "Satu kata kunci yang menonjol dari kesepakatan seluruh anggota PP terpilih adalah adanya revitalisasi gerakan. Harapan ke depan, Muhammadiyah dapat lebih tampil bagi umat manusia dan kemanusiaan," tandasnya.

Haedar Nashir yang turut memberikan pernyataan pers, juga mengungkapkan bahwa proses pemilihan ketua umum PP Muhammadiyah berjalan penuh keikhlasan. Pada bagian lain ia menjelaskan, ada empat kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah. Pertama, kekuatan sistem yang dimiliki oleh Muhammadiyah, berupa sistem kepemimpinan kolektif kolegial. Kedua, kepercayaan masyarakat luas kepada Muhammadiyah. Kepercayaan itu akan digunakan sebagai modal untuk melangkah. Ketiga, amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah yang berjumlah ribuan dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Keempat, sumber daya manusia yang dimiliki Muhammadiyah telah terdidik dan memiliki kemampuan yang memadai sebagai pilar bangsa. "Dengan keempat kekuatan tersebut, maka pencerahan yang selalu didengungkan bukanlah sesuatu yang utopis," katanya.

Menanggapi banyaknya pernyataan seputar peran politik Muhammadiyah, Din menuturkan bahwa Muhammadiyah tidak bergerak dalam politik praktis, tetapi bergerak dalam politik dakwah. Karena itu, Muhammadiyah mengambil jarak yang sama dengan partai politik mana pun termasuk PAN.

"Sesuai kesepakatan dalam sidang pleno, anggota PP Muhammadiyah tidak diperkenankan untuk merangkap jabatan di partai politik mana pun sehingga sudah menjadi suatu konsekuensi logis jika anggota PP terpilih harus meninggalkan jabatannya di partai politik.

Anggota PP Muhammadiyah terpilih masih akan melakukan serangkaian pembahasan yang berkenaan dengan kelengkapan kepengurusan. Rapat kedua ini akan dilaksanakan pada tanggal 17 Juli mendatang di Yogyakarta.

Figur yang Cocok

Hajriyanto Y Thohari, Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah periode 2000 - 2005, menilai Din Syamsuddin cocok memimpin Muhammdiyah lima tahun ke depan. Pada periode itu, katanya, dibutuhkan pimpinan Muhammadiyah yang mempunyai pemahaman keislaman yang cukup dikaitkan dengan kemodernan. "Pak Din itu belajar Islam tidak hanya sampai S1, tapi S2 dan S3. Ia mempunyai kualifikasi untuk memimpin organisasi ini ke depan."

Pada sisi lain, Din belajar di Amerika. Dengan demikian, ia sangat memahami kemodernan. "Saya kira ia akan mampu menghubungkan secara organis antara keislaman dan kemodernan secara pas," imbuhnya. Hajriyanto menggambarkan tantangan yang akan dihadapi Muhammadiyah ke depan. Pertama, Muhammadiyah harus terjun ke arena globalisasi. Kedua, Muhammadiyah dihadapkan pada perkembangan perubahan politik, baik nasional, maupun internasional. Ketiga, tantangan lain yang bersifat klasik dan klise dalam Muhammadiyah seperti peningkatan dakwah di berbagai aspek kehidupan dan tantangan untuk meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat.

Menurutnya, tantangan yang pertama dan kedua, ke depan sangat penting. "Kita tahu bahwa Indonesia adalah sebuah negara muslim terbesar di dunia, tetapi peranannya di dunia internasional masih periferal dan marjinal.

"Ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin bangsa muslim terbesar di dunia yang jumlah umat Islamnya itu lebih besar dari penduduk muslim di negara-negara Arab, tetapi perannya masih marjinal dan periferal," tanyanya.

Sementara itu, tambahnya, kepemimpinan di Muhammadiyah ke depan harus memiliki elemen-elemen pemahaman yang cukup tentang perkembangan dan dinamika politik nasional sehingga tidak salah dalam mengambil sikap-sikap politiknya.

Untuk membawa Muhammadiyah ke panggung internasional, maka diperlukan tokoh yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia internasional dan kemampuan berbahasa yang dapat mendukung keberhasilan peran tersebut guna membawa Muhammadiyah ke panggung internasional.(Tim SM-41v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA