logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 Juli 2005 NASIONAL
Line

Bom Guncang London, 40 Tewas

  • Diduga Dilakukan Kelompok Al Qaedah

JAGA LOKASI: Sejumlah polisi menjaga lokasi di dekat bus yang hancur akibat ledakan bom di Lapangan Tavistock, London, Kamis (7/7). Aktivitas kota London lumpuh akibat empat ledakan bom berturut-turut di stasiun bus dan terowongan kereta bawah tanah. Sedikitnya 40 orang tewas dan ratusan luka-luka akibat peristiwa tersebut. (57v)

LONDON - Empat ledakan mengguncang London, ibu kota Inggris, pada saat jam sibuk Kamis pagi waktu setempat (Kamis sore WIB). Paling sedikit 40 orang dilaporkan tewas dan 300 mengalami luka-luka.

Menurut berbagai media Barat, antara lain Reuters, BBC, dan AP, tiga ledakan terjadi di jaringan kereta api bawah tanah dan satu lainnya di sebuah bus bertingkat.

Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang sedang mengikuti KTT G8 (kelompok delapan negara kaya dunia) di Gleneagles, Skotlandia, langsung meninggalkan KTT dan kembali ke London.

Konferensi tingkat tinggi yang melibatkan para pemimpin AS, Kanada, Jepang, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia itu pun terancam kelangsungannya. Seluruh Eropa bersiaga guna menghadapi kemungkinan serangan serupa.

Masih menurut media Barat, suatu kelompok yang menyebut dirinya ''Organisasi Rahasia Al Qaedah di Eropa'' mengklaim bertanggung jawab atas keempat ledakan itu.

Dikatakan, klaim tersebut termuat dalam suatu situs internet. Organisasi itu, yang belum pernah terdengar sebelumnya, menyatakan serangan bom di London merupakan pembalasan atas keterlibatan Inggris di Irak dan Afghanistan.

Namun, keautentikan klaim lewat internet tersebut hingga pukul 22.30 WIB semalam belum mendapatkan konfirmasi. Organisasi Rahasia Al Qaedah di Eropa juga mengancam melancarkan serangan di Italia dan Denmark.

Organisasi itu mengklaim sebagai pelaku serangan-serangan besar akhir-akhir ini di Eropa, termasuk peledakan sejumlah kereta api di Madrid, ibu kota Spanyol, pada Maret 2004 yang menewaskan 191 orang.

Penuhi Janji

Dalam pernyataan lewat internet, kelompok tersebut menyatakan: ''Kaum mujahidin yang heroik melancarkan serangan di London. Sekarang Inggris terbakar ketakutan dan teror, mulai dari utara sampai selatan, dari barat ke timur.''

''Kami memperingatkan Pemerintah Inggris dan rakyat Inggris, bahwa kami telah memenuhi janji kami untuk melancarkan serangan di bumi Inggris,'' tambah pernyataan itu. ''Kami juga terus memperingatkan pemerintahan-pemerintahan Denmark dan Italia, bahwa mereka akan mendapatkan hukuman yang sama jika tidak menarik pulang dengan segera pasukan mereka dari Irak dan Afghanistan.''

Menurut BBC, ledakan di tiga stasiun KA bawah tanah dan sebuah bus bertingkat itu terjadi secara berurutan antara pukul 08.30 dan 09.30 waktu setempat. Sebagai tindakan darurat, para pejabat berwenang segera menutup pelayanan KA bawah tanah dan bus kota London. Padahal, jutaan orang biasa memanfaatkan pelayanan KA bawah tanah dan bus kota setiap hari. Lalu lintas umum di ibu kota Inggris itu pun lumpuh selama beberapa jam.

''Terjadi kekacauan,'' kata Gary Lewis (32), yang dievakuasi dari sebuah KA bawah tanah di Stasiun King's Cross. ''Saya tidak dapat melupakan wajah seorang korban yang hitam karena asap bom dan berdarah-darah.''

Blair, yang diapit para pemimpin lain G8, termasuk Presiden AS George W Bush, mengatakan: ''Apa pun yang mereka lakukan, kita telah bertekad untuk menggagalkan upaya mereka menghancurkan negeri ini dan negeri-negeri bangsa beradab di seluruh dunia.''

Dia kemudian berbegas naik helikopter dan terbang ke London. Menurutnya, pertemuan para pemimpin G8 - yang akan membahas penghapusan utang sejumlah negara miskin di Afrika - akan terus berlangsung.

Bursa efek Eropa anjlok tajam rata-rata dua persen, setelah ledakan di London itu. Saham perusahaan-perusahaan asuransi dan biro perjalanan paling terpukul. Nilai mata uang pound (Inggris) juga jatuh. Harga emas, sebaliknya, meningkat. Pihak berwenang Inggris belum mengumumkan angka-angka korban. Namun para pejabat keamanan AS, yang minta tidak disebutkan nama-nama mereka, mengatakan angka korban tewas 45 sebenarnya mereka dapatkan dari para pejabat keamanan Inggris.

Para pejabat tujuh rumah sakit besar yang ditanyai The Associated Press mengatakan 334 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 120 di antara mereka dibolehkan pulang setelah mendapatkan pengobatan. Wali Kota London Ken Livingstone mengatakan, ledakan-ledakan tersebut ''suatu pembunuhan massal'' oleh para teroris yang telah berubah jadi penjagal tanpa pandang bulu.

Jay Kumar, seorang pengusaha yang kantornya tidak jauh dari ledakan yang menghancurkan bus bertingkat di Russell Square, pusat kota London, mengatakan dia keluar dari tokonya ketika mendengar suara ledakan keras.

''Saya melihat atap dek atas bus tingkat itu telah tiada, hancur akibat ledakan. Para penumpamg di dek atas berjatuhan ke dek bawah. Mereka tampaknya terluka parah,'' katanya, kepada The Associated Press.

Sir Ian Blair, kepala Kepolisian London, mengatakan dia merasa kecolongan karena ledakan-ledakan itu tampaknya terencana. Tetapi, dia tidak berani berspekulasi tentang siapa pelakunya. (ed-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA