| Jumat, 08 Juli 2005 | EKONOMI |
Persaingan Bisnis Pelumas (2-Habis)Pertamina Bertahan sebagai Pemimpin PasarSELURUH pelumas yang diproduksi Pertamina selama ini, pada dasarnya dibuat untuk memenuhi persyaratan internasional dan original engine manufacturer (OEM). Djaelani Sutomo mengakui, pelumas Pertamina tidak dibuat asal-asalan, tapi sesuai kaidah teknologi. Hal itu dilakukan, dengan harapan masyarakat mau menerimanya dengan baik. Demikian juga, base oil yang dihasilkan Pertamina telah memenuhi syarat sesuai ketentuan. Teknologi yang digunakan pun sudah maju, utamanya untuk mengimbangi teknologi mesin yang semakin melaju. Satu hal yang jelas relevan dengan teknologi pelumas adalah teknologi base oil-nya. Salah satu kekuatan pelumas terletak di base oil ini. Sementara antara base oil mineral dan base oil sintetic tidak ada bedanya. Meski untuk mengonstruksikan pelumas yang powerfull (kekuatan penuh), base oil superior sekalipun tetap harus didukung dengan aditif yang terintegrasi dengan baik.American Petroleum Institute (API) membagi tipe base oil menjadi lima kategori, yaitu base oil grup I sampai dengan grup V. API menilai, base oil grup I merupakan yang paling sederhana dan hampir 90 persen populasi pelumas dunia masih menggunakan base oil ini. Produk oli yang dihasilkan dari tipe ini, kualitasnya sudah baik dan harganya pun bersaing. Menurut API, hal ini diacu perusahaan minyak dunia, termasuk Pertamina yang selalu menjunjung tinggi norma terbaik bisnis pelumas. Base oil grup ini mempunyai kandungan sulfur sedikit di atas 0,003 persen, kandungan senyawa hidrokarbon jenuh lebih kecil dari 90 persen, stabilitas viscositas terhadap perubahan temperatur yang akrab disebut viscosity index lebih kecil dari 80-120.Produk Pertamina sampai generasi sekelas Prima XP, sebagian besar difasilitasi base oil ini dan hasilnya harus diklaim sebagai pelumas mineral. Sementara base oil grup II, syaratnya hampir sama dengan grup I, tapi batasnya lebih superior. Kandungan sulfurnya lebih kecil dari 0,003 persen, senyawa hidrokarbon jenuh lebih besar dari 90 persen dan viscosity index 80-120.Base oil ini jelas lebih baik dari base oil grup I. Tapi di dunia, populasinya belum begitu besar walaupun kecenderungan dunia mengarah pada oli jenis ini. Sedang base oil grup III, kualitasnya jelas lebih unggul. Base oil grup ini kandungan sulfurnya kecil yakni di bawah 0,003 persen dan kandungan senyawa hidrokarbon jenuhnya di atas 90 persen. Hebatnya, menurut API, viscositas indeksnya minimal harus 120.Karena itu, tidak heran jika pelumas-pelumas yang menggunakan plat-form base oil grup III ini, merupakan jajaran produk yang benar-benar premium baik dari segi kualitas maupun harganya. Pertamina sebagai pemain lokal nasional, dua tahun lalu telah mempersembahkan pelumas dengan kategori ini, yaitu Fastron Synthetic Oil 10W-40, yang dikhususnya untuk mobil-mobil kelas atas. Sementara itu, base oil grup IV diakui banyak kalangan sebagai base oil paling kampiun. Karenanya, tidak heran jika mobil-mobil Formula I menggunakan pelumas jenis ini. Oleh API, kategori pelumas ini hanya dialokasikan jatahnya untuk senyawa sintetis kimia yang dinamakan Poly Alpha Olifin (PAO). Tapi Pertamina, untuk men-support para pembalap di tanah air, menyediakan pelumas Fastron Full Synthetic OW-50. Masih Unggul Kesimpulannya pelumas produk Pertamina masih tetap unggul dibanding pelumas lain, termasuk yang diiklankan secara berlebihan. Bukti lain keunggulan pelumas ini, dengan diterimanya sertifikat pengakuan mutu dari lembaga sertifikasi internasional (API dan ACEA) untuk beberapa pelumas unggulan, seperti Fastron dan Prima XP. Dengan dasar itu, lembaga sertifikasi internasional terus memonitor oli produk Pertamina di pasar, khususnya terhadap pelumas yang mendapatkan pengakuan mutu. Contohnya pelumas Fastron, yang diperuntukkan bagi kendaraan keluaran terbaru atau tahun 1997 ke atas. Tapi pelumas ini juga bisa untuk kendaraan keluaran sebelum tahun 1997 sebagai pelumas mesin bensin dan sepeda motor empat tak. Fastron, pelumas semi sintetis ini berstandar mutu API SF/CF (API Donut SF- sertifikasi dengan tingkat mutu API Service SJ/CF) dan sertifikasi dari Eropa (ACEA) dengan klarifikasi A2-98/B2-98. Di samping itu, oli merek Prima XP, selain memperoleh sertifikat API, juga mendapat sertifikat dari sejumlah produsen mobil seperti Mercedes Benz dengan registrasi MB 226.1. Bahkan, pelumas Prima XP telah diuji bersama pelumas yang sering menggunakan selebritis untuk promosi. Dalam sebuah uji mesin selama 175 jam, ternyata setelah dievaluasi, baik dilihat dari perbandingan keausan, sludge (lumpur), varnish maupun perbandingan kandungan angka batas total (total base number/TBN) dan kekentalan, dapat disimpulkan Prima XP lebih baik kualitasnya. Dengan hasil uji mesin seperti itu, membuktikan produk oli yang populer karena diiklankan secara gencar, belum tentu merupakan produk yang kualitasnya lebih baik. Hasil uji mesin seperti itu seharusnya dipublikasikan secara luas, sehingga masyarakat, khususnya pemakai pelumas tidak terprovokasi iklan yang menyesatkan. Bukan itu saja, untuk mempertahankan mutu, Unit Pelumas Pertamina mendirikan laboratorium pengembangan produk oli. Laboratorium ini berhasil mengembangkan suatu uji mesin untuk pengujian pelumas, menggunakan dinamometer dengan mesin uji Toyota 7K-E yang digunakan pada mesin Toyota Kijang selama 175 jam. Metode ini dapat membedakan tingkat kualitas minyak pelumas, ditinjau dari aspek kemampuan pelumas menjaga keberhasilan komponen mesin serta mencegah keausan. Melihat uraian di atas, dapat disimpulkan pelumas produk Pertamina kualitasnya tidak diragukan lagi. Harganya pun bersaing, karena didukung tiga pabrik yang berlokasi di Jakarta, Cilacap dan Surabaya serta pabrik gemuk (grease plant) di Jakarta. Apalagi setelah 30 tahun Pertamina berkiprah di bisnis pemulas ini, tidak ada pemakai oli Pertamina yang mengklaim mesinnya rusak. Akhirnya, tidaklah salah bila dikalangan masyarakat kini muncul perkataan, pakai oli Pertamina, siapa takut? (Eko Suksmantri-33) |