| Jumat, 08 Juli 2005 | EKONOMI |
Rupiah Mendekati Rp 10.000/Dolar ASJAKARTA-Setelah sempat menguat di level Rp 9.691 per dolar AS, menyusul kebijakan BI menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan menjadi 8,5 persen, Kamis kemarin, mata uang rupiah kembali mendekati posisi semula, Rp 9.800. Pelaku pasar mengkhawatirkan menguatnya dolar AS terhadap mata uang regional, berkaitan dengan kemungkinan bank sentral AS menaikkan suku bunga. Kebijakan BI menaikkan suku bunga SBI diharapkan bisa mengangkat rupiah di posisi Rp 9.200 - Rp 9.400 per dolar AS. Sebab kurs rupiah saat ini masih undervalued. ''Kurs rupiah seharusnya berada di kisaran Rp 9.200 per dolar AS sesuai kondisi ekonomi saat ini,'' kata Halim Alamsyah, Direktur Direktorat Pengkajian Strategis dan Humas BI. Pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah langsung bertengger ke level Rp 9.775 per dolar AS. Namun penguatan itu tidak berlangsung lama, karena rupiah kembali tertekan terus selama perdagangan hari ini. Seorang analis menilai penguatan rupiah hanyalah bersifat sementara untuk merespons langkah yang baru saja dikeluarkan BI dan pemerintah. ''Kebijakan itu dimaksudkan untuk meredam gejolak rupiah. Tetapi sudah cukup terlambat,'' katanya. Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga minyak dunia hingga 61,35 dolar AS per barel. Kondisi kurang menggembirakan juga terjadi di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun 9,409 poin di posisi 1.108,403. Indeks LQ 45 turun 2,345 poin menjadi 243,752, JII turun 1,738 poin di level 186,448, MBX tertekan 2,652 poin menjadi 297,916 dan DBX turun 1,565 poin pada level 245,237. Lonjakan Minyak Sentimen negatif masih melanda bursa, terutama dipicu melemahnya rupiah dan jatuhnya sejumlah bursa utama dunia. Kondisi ini terjadi akibat lonjakan harga minyak yang berimbas ke pasar saham Indonesia. Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 12.420 kali dengan saham yang berpindah tangan sebanyak 2.374.048 lot senilai Rp 1,056 triliun. Tercatat harga 30 saham naik, 92 saham turun, dan 241 saham konstan. Saham-saham yang harganya tertekan, di antaranya Astra International (ASII) turun Rp 500 menjadi Rp 12.200, Bank Danamon (BDNM) turun Rp 150 menjadi Rp 4.900, Indosat (ISAT) turun Rp 150 menjadi Rp 5.300, Medco Energi (MEDC) turun Rp 125 menjadi Rp 3.725, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 50 menjadi Rp 12.700. Sedangkan saham yang mencatat kenaikan harga, antara lain Semen Gresik (SMGR) naik Rp 100 menjadi Rp 19.950, United Tractor (UNTR) naik Rp 75 menjadi Rp 3.725, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 50 menjadi Rp 3.925, International Nickel (INCO) naik Rp 50 menjadi Rp 14.550, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 25 menjadi Rp 2.425. Dirjen Perbendaharaan Negara, Mulia P Nasution, mengatakan pemerintah kembali menerbitkan surat utang negara (SUN) seri FR0031 (reopening) dengan jangka waktu 15 tahun dan seri FR0032 dengan jangka waktu 5 tahun pada 26 Juli mendatang. Dari penjualan surat utang itu diharapkan pemerintah bisa meraup dana Rp 2 triliun. Mulia menjelaskan, lelang SUN ini merupakan hal rutin untuk memenuhi APBN. Pemerintah menargetkan penerbitan obligasi hingga Rp 43 triliun selama tahun 2005. Mengenai rencana pembelian kembali atau buyback, pemerintah akan melaksanakannya pada pertengahan Juli mendatang. Sepanjang tahun 2005, total buyback ditargetken sebesar Rp 1,1 triliun, yang ditujukan untuk meringankan beban utang pemerintah di masa mendatang. (wa-33) |