logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Juli 2005 SALA
Line

Solo hingga Ngawi Langka BBM

SRAGEN - Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di sepanjang jalan raya Solo hingga Ngawi, kemarin langka bahan bakar minyak (BBM). Sejumlah SPBU tutup dan memasang tanda ''Maaf BBM Habis'' atau ''Premium habis''. Banyak pengemudi sedan dan motor kecewa karena premium habis. Sementara itu, solar hanya bisa diperoleh di SPBU-SPBU yang tidak berada di tepi jalan utama, seperti di SPBU Taman Asri dan SPBU Bantar, Kecamatan Karangmalang.

Sejumlah truk yang kehabisan solar di tepi jalan raya terpaksa membeli ireks atau oplosan minyak solar dengan minyak tanah di tepi jalan.

''Ada sejumlah SPBU di sepanjang jalan raya Sragen tutup karena tidak punya BBM,'' tutur AKP Harjito, Kapolsek Karangmalang, yang memantau di jalan raya, kemarin.

Berdasarkan hasil pengamatan, sejumlah SPBU di sepanjang jalan raya Solo hingga Ngawi, antara lain SPBU Kebakkramat, Duyungan, Punthukrejo Masaran, Sine depan Kejari, SPBU Sragen Kota, SPBU Pilangsari, dan SPBU Lemahbang hingga Mantingan, Ngawi (Jatim) kehabisan BBM. Sementara itu, SPBU Tunjungan dan SPBU Taman Asri Jalan Veteran, Sragen yang masih memiliki sedikit BBM pada pukul 09.00-14.00 diserbu pembeli.

Yoyok, petugas SPBU Taman Asri, mengungkapkan, begitu tangki BBM datang pukul 08.00 sudah ditunggui pembeli. ''Seusai bongkar, tangki tronton Pertamina berisi 16.000 liter premium diserbu antrean pembeli yang tidak putus-putus,'' ujarnya. Karena pasokan Depo Pertamina Solo juga menipis, sejumlah SPBU kehabisan stok premium.

Mengetahui ada kelangkaan BBM, beberapa pengecer mematok harga bensin (premium) Rp 3.500 per botol. Namun, pengecer di pinggiran Sragen masih mematok harga Rp 3.000 - Rp 3.200 per botol. Sementara itu, penjual bensin eceran menjual kepada langganannya hanya Rp 2.800 per botol. Ukuran botol bensin eceran itu berisi setara 0,85 liter.

Di Klaten

Antrean panjang juga tampak di sejumlah SPBU di Klaten, kemarin. Berdasarkan pengamatan di lapangan, antrean panjang tampak terutama di SPBU yang tergolong besar, seperti SPBU Jonggrangan Klaten Utara, Krapyak Klaten Tengah, dan Kraguman, Kecamatan Jogonalan.

Menurut beberapa petugas SPBU, antrean terjadi karena adanya pengurangan suplai. Di SPBU Jonggrangan, misalnya, sebelum ada pengurangan, stoknya sekitar 32.000 liter, bahkan kadang sampai 40.000 liter. Tapi setelah ada pembatasan, hanya 16.000 liter per hari, atau setengah dari kebutuhan. ''Karena di mana-mana antre, saya terpaksa cari SPBU yang biasanya sepi, walau jauh, sehingga masih ada stok bensin. Kalau seperti ini terus, wah susah,'' kata Mukti (33), warga Sumberejo saat mengisi mobil jipnya, kemarin.

Wakil Ketua Hiswana Migas Klaten, Sulistyo mengakui masalah kekurangan BBM di Klaten terjadi sejak tiga minggu lalu, ketika kiriman dari Depot Rewulu Yogyakarta ke Semarang terlambat. Akibatnya, 20 persen armada pengangkut BBM ke Klaten dipakai untuk membantu pengiriman suplai BBM ke Semarang.

Selain itu, sejak dua minggu lalu ada pembatasan suplai BBM antara 10 sampai 15 persen. Sebelumnya, suplai BBM ke Klaten mencapai 230.000 liter/hari atau 230 ton bensin, 140.000 liter/hari atau 140 ton solar, dan 127.000 liter/hari minyak tanah.(nin,F5-16j,a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA