| Kamis, 07 Juli 2005 | SALA |
"Apa Mobilnya Mau Diisi Solar...?"
KOTA - Jika semula yang habis hanya premium atau bensin, maka kemarin pertamax juga habis. Penjual eceran yang biasa membeli di stasiun penjualan bahan bakar umum (SPBU) kemarin tak lagi bisa dilayani. Selasa lalu ketika kekosongan premium mulai terjadi beberapa pemilik mobil atau motor terpaksa mengisi dengan pertamax, namun kemarin stok pertamax juga habis sehingga beberapa SPBU hanya melayani mobil diesel karena tinggal solar yang tersedia. "Tinggal solar. Apa mobilnya mau diisi solar?" tanya seorang petugas SPBU Pucang Sawit mencandai pengemudi mobil bensin yang nekat masuk meski sudah dipasang pengumuman "Premium Habis". Antrean panjang terjadi di SPBU-SPBU sejak pagi, kemarin. Selasa malam lalu beberapa truk tangki memasok SPBU yang melayani dalam 24 jam, namun pasokan itu tidak bertahan lama karena hanya dalam tiga-empat jam seluruh pasokan ludes. SPBU yang dipasok pagi hari tidak sampai siang langsung tutup karena habis. Sejak dini hari masyarakat rela antre ketika mereka tahu ada truk tangki masuk SPBU membawa pasokan premium. "Kalau sudah begini, apa mungkin mobil diisi air? Mau tidak mau ya antre. Itu pun hanya bisa memperoleh maksimal 20 liter. Lebih dari itu tidak boleh karena yang mengantre ribuan kendaraan," kata Ripto, warga Jebres yang mengaku antre sejak dini hari di SPBU Pucangsawit. Eceran Hilang Tidak hanya pemilik mobil yang kelabakan mencari bensin, pengecer pun terkena dampaknya. SPBU yang memperoleh pasokan tidak melayani pembeli yang kulakan bensin untuk kemudian dijual eceran. "Hanya mobil dan motor yang dilayani. Itu pun dibatasi, mobil maksimal 20 liter dan motor 5 liter. Untuk sementara jerigen tidak dilayani," kata petugas SPBU di Palur. Akibatnya, beberapa kendaraan yang membawa jerigen terpaksa balik kanan pulang lagi karena tidak dilayani. Meski memaksa, petugas SPBU tidak mau karena sudah menjadi keputusan pemilik. "Untuk sementara yang diutamakan pemilik kendaraan. Yang kulakan berhenti dulu, nanti malah diprotes yang punya mobil," lanjutnya. Tentu saja bensin eceran yang sehari sebelumnya masih bisa diperoleh meski dengan harga Rp 3.000/liter (harga resmi di SPBU Rp 2.400/liter-Red) akhirnya hilang. Yang masih punya stok memilih menyimpan untuk kebutuhan sendiri, tidak dijual. "Sementara tidak jualan bensin. Mendingan dipakai sendiri, wong dapat untung lumayan tapi antre lagi tak boleh sama SPBU," kata Wagimin, pemilik kios bensin eceran di Semanggi. Kekesalan masyarakat atas kelangkaan premium makin menjadi-jadi ketika mereka merasa hal itu tidak segera diselesaikan. Suharto, salah seorang pemilik mobil merasa jengkel karena saat kelangkaan bensin terjadi di mana-mana, pemerintah ternyata masih mengatakan persediaan BBM cukup. "Mulai presiden, menteri, sampai pejabat di bawah ngomong seragam : persediaan BBM cukup 15 hari, 19 hari, tapi kenyataan omong thok! Kalau memang ada, mbok ya dikeluarkan, jangan pidato saja," ujarnya jengkel. Masyarakat memang dibuat kesal karena seakan-akan kelangkaan premium masih dianggap sepele dan yang digembar-gemborkan hanya upaya menghemat BBM. "Apa selama ini kita menghambur-hamburkan BBM, dibuangi di jalanan? Aneh, kok ada seruan penghematan. Kalau mau berhemat, mestinya larang saja orang jualan kendaraan. Batasi kepemilikan, wong orang kaya mobilnya sampai puluhan. Mungkin justru pejabat yang ngomong itu yang menghambur-hamburkan BBM," kata Ratno, warga Jaten. Mereka tidak bisa membayangkan jika kelangkaan premium terjadi terus dan dalam seminggu ini tidak tertangani. "Bayangkan, apa waktu kita hanya habis untuk mengantre bensin seperti ini? Kapan kita bekerja ?" ungkapnya. (an,G18-27h) Komentar Masyarakat Suparno, Jaten : Saya heran, katanya stok bensin masih banyak, kok SPBU tutup semua. Sebenarnya ada apa ini? Apa disengaja agar nanti ada alasan bagi pemerintah untuk menaikkan lagi harga BBM? Kalau memang stok masih ada mbok jangan pidato thok, keluarkan dong. Dapur bisa tidak ngebul kalau begini. La wong mau kerja tidak bisa berangkat. Indra, Jebres : Saya membatalkan pergi ke luar kota karena bensin habis. Tidak hanya itu, kalau sekarang bisa mengisi penuh tetapi di tempat tujuan juga langka bensin, apa jadinya? Mestinya pemerintah terus terang, ada apa sebenarnya? Bagaimana menyelesaikan? Jangan hanya teriak-teriak pasokan ditambah, tapi kenyataannya nol. Ningsih, Kerten Kemarin (Selasa-Red) masih bisa beli pertamax, tapi hari ini (kemarin-Red) sudah habis. Saya tidak bisa membayangkan kalau nanti angkota berhenti beroperasi karena kehabisan BBM, apa jadinya kota ini? Pergi sendiri tidak bisa, naik angkota tak bisa. Apa libur saja? Atik, Nusukan : Jangan-jangan ini kerjaan pengusaha pertamax sehingga premium langka dan masyarakat membeli pertamax. Kalau begitu ya repot. Harganya selangit, tidak sesuai dengan gaji yang kita terima. Sebaiknya pemerintah membatasi penjualan motor dan mobil agar kebutuhan BBM berkurang. (an,G18-27h) |