logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 07 Juli 2005 PANTURA
Line

Bunuh Ego Hadapi Liku-liku Hidup

  • Dari Pementasan "Bunga dalam Mulut"

"AH, sudah kelihatan! Anda memang orang yang sangat tenang... Anda ketinggalan kereta?" tanya seseorang yang laki-laki berpakaian rapi dan berdasi.

"Satu menit saja, bayangkan! Aku sampai di stasiun dan kulihat keretanya berangkat di depan mata," jawab orang itu.

Dialog itu membuka pementasan Teater Q "Bunga Dalam Mulut" di Auditorium Universitas Pancasakti, Jalan Halmahera Kota Tegal, Jumat malam (1/7).

Seseorang yang ketinggalan kereta karena ulah isterinya yang senang berbelanja dan membuat dia harus menghabiskan waktu untuk membawakan belanjaan itu.

Hal itu terungkap dari dialog dua tokoh tanpa nama di dalam pentas yang mengadaptasi naskah sastrawan Italia Luigi Pirandello. Mereka berargumentasi mengenai permasalahan mereka masing-masing. Orang pertama adalah orang dengan permasalahan pelik tetapi masih dapat menikmati hidup, sedang orang kedua selalu mengeluhkan permasalahan yang dihadapinya, termasuk isteri yang senang berbelanja.

"Oh, masalahku banyak, seandainya saja Anda tahu!" ujar orang kedua. Kemudian orang pertama menimpalinya dengan mengatakan, "Bersyukurlah kalau hanya masalah saja. Ada yang lebih menyedihkan lagi, Tuan."

Maksud dari kalimat "ada yang menyedihkan lagi" itu kemudian diketahui bahwa orang tersebut divonis mati karena kanker mulut atau epitelioma. Namun isterinya begitu mencintai, hingga rela melukai bibirnya dengan peniti agar ikut mati bersama karena tertular penyakit tersebut.

Paling Manis

Pementasan teater itu banyak menggunakan kalimat kasar dan tidak enak didengar, namun hal tersebut menurut sutradara Mohammad Rudiyanto S Th I atau Rudi Iteng, justru untuk menggambarkan hal yang paling manis.

"Karya Pirandello bercirikan kalimat pejal dan dinamis. Kisah-kisahnya penuh dengan absurditas kehidupan manusia," papar dia dalam dialog yang digelar usai pementasan. Dengan demikian, kalimat-kalimat yang dimunculkan oleh penderita kanker mulut itu sebenarnya untuk menunjukkan rasa cintanya kepada si istri. Dia mencontohkan dalam kalimat "Ia selalu mengawasiku dari jauh dan percayalah, terkadang aku ingin sekali menendangnya untuk mengusirnya....Tapi ia seperti seekor anjing tak bertuan, keras kepala, semakin ditendang, semakin menempel di kaki Anda."

Menurut, Rudi Iteng, maksud kalimat tersebut adalah tokoh tersebut tidak ingin istrinya ikut memikirkan kematian yang sudah dekat. Cinta istrinya terhadap dia begitu menyiksanya karena dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kematian yang siap menjemputnya itu. Karena itu, dia kemudian titip salam kepada anak dan isteri teman bicaranya karena lebih beruntung dari dirinya yang sebentar lagi harus meninggalkan harta kesayangan itu.

Sementara itu, seniman Kota Tegal Nur Hidayat Poso menilai pementasan garapan Rudi Iteng cukup bagus. "Pementasan sangat ketat. Sutradara dapat mengadaptasi pesan dari naskah asli dengan sebaik-baiknya." Padahal naskah asli yang ditulis sastrawan Italia pemenang hadiah nobel sastra pada 1934 itu, sangat sulit dipahami. Namun, lanjut dia, sutradara "Bunga Dalam Mulut" mampu mengantarkan pesan kepada penonton. Menurut dia yang sekaligus sebagai penonton, dirinya bisa mengambil pesan bahwa seseorang seharusnya dapat membunuh ego untuk menghadapi liku-liku kehidupan.

Mengenai properti yang digunakan yaitu sepeda dan kursi, menurut sutradara, untuk menyampaikan pesan bahwa kehidupan selalu berjalan seperti roda sepeda, sedangkan kursi untuk memperkuat karakter tokoh. (Siti Kholidah-52m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA