| Kamis, 07 Juli 2005 | SEMARANG |
Dana Kontingensi 2004 Dinilai Tak Tepat SasaranBALAI KOTA - Dana kontingensi 2004 senilai Rp 19.450. 000.000 dinilai tidak tepat sasaran. Dana bantuan pembangunan sarana dan prasarana yang seharusnya difokuskan untuk bidang pendidikan itu justru lebih banyak untuk keperluan lain. Penilaian itu disampaikan oleh anggota Komisi B DPRD Kota Semarang Ari Purbono, kemarin. Menurut keterangan Ari, pada awal penyusunan anggaran tahun lalu sebagian besar dana kontingensi dianggarkan untuk perbaikan gedung SD, SMP, SMA, SMK, MI, dan MTs. Namun pada realisasinya, hanya Rp 4,017 miliar yang untuk merenovasi gedung SD/MI. Sementara itu, renovasi untuk gedung SMP, MTs, dan SMA hanya Rp 700 juta. ''Anggaran terbesar justru untuk sarana dan prasarana senilai Rp 11 miliar, renovasi rumah dinas dan balai kelurahan Rp 850 juta serta pengadaan aspal dan semen Rp 1,15 miliar,'' ujarnya. Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Agung Budi Margono mencatat ada 1.109 ruang kelas SD yang rusak berat. Sebanyak 649 ruang kelas SD negeri di Kota Semarang tercatat rusak ringan. Jumlah ruangan SD negeri yang rusak, ujar Agung, 57% dari total ruang kelas SD negeri di Kota Semarang yang jumlahnya 3.054 ruang. ''Data itu baru SD negeri, belum MI dan SD swasta. Ada kemungkinan, jumlah ruang kelas yang rusak lebih banyak,'' ungkap anggota Fraksi PKS itu. Menurut keterangan dia, kerusakan ruang kelas diperbaiki dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2004. Tahun lalu, DAK dan dana pendamping Pemkot yang dialokasikan untuk perbaikan gedung sekolah sekitar Rp 1,1 miliar. Selama setahun, ada 20 bangunan SD dan 2 bangunan MI yang mendapat guyuran dana renovasi. Tiap sekolah mendapatkan Rp 45,5 juta dari DAK dan Rp 5 juta dari dana pendamping Pemkot. Ganggu Proses Pembelajaran Agung menekankan, kerusakan ruang kelas mengganggu proses pembelajaran. Sejumlah SD di kawasan Semarang Utara misalnya, rusak berat karena sering tergenang rob. Ketinggian rob bahkan meningkat satu meter dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Sejumlah SD di Kalibanteng Kidul juga rusak berat. Meski para siswa tidak sampai diungsikan, bangunan sekolah itu sangat memprihatinkan. ''Atap beberapa ruang kelas banyak yang berlubang dan nyaris runtuh,'' ujarnya. Lebih lanjut Ari Purbono menyebutkan, alokasi dana kontingensi yang salah sasaran itu menjadi salah satu penyebab masih banyaknya ruang kelas yang rusak berat. Hal itu juga mengakibatkan banyak sekolah yang memungut uang sumbangan gedung dari orang tua siswa baru. Dia mencontohkan, SMA Negeri 3 Semarang mengandalkan dana pengembangan sekolah Rp 2,4 miliar/tahun dari Komite Sekolah. ''Jika dana kontingensi bisa tepat sasaran, pungutan-pungutan itu seharusnya makin kecil,'' tandasnya. Pihaknya mengimbau, agar penggunaan Dana Kontingensi 2005 tepat sasaran. Apalagi, tahun ini Pemkot tidak mendapatkan DAK dari Pemerintah Pusat. Tahun ini, dana yang dialokasikan Rp 19.800.000.000. Sebesar Rp 12.440.000.000 dialokasikan untuk sarana dan prasarana, renovasi gedung SD dan MI Rp 4,5 miliar, renovasi bangunan SMP, SMA, SMK sekitar Rp 1 miliar, serta untuk aspal dan semen lebih kurang Rp 750 juta. (H5-60j) |