logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 06 Juli 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Sanggupkah Sutanto Mengemban Tugas Itu?

- Setelah dinyatakan lulus dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi III DPR RI dan disetujui sidang paripurna, langkah Komisaris Jenderal (Polisi ) Sutanto untuk menduduki posisi puncak di Polri akan mulus. Satu-satunya pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan segera dilantik sebagai kepala Kepolisian Republik Indonesia yang baru menggantikan Jenderal Polisi Da'i Bachtiar. Tampaknya lulusan terbaik Akabri Kepolisian tahun 1973 itu sudah lama menjadi incaran SBY, kawan seangkatan. Pada tahun yang sama SBY juga menjadi lulusan terbaik dari Angkatan Darat. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengganti posisi puncak di Polri. Sekaranglah waktu yang dianggap tepat dan tidak ada hambatan politik apa pun dalam pergantian kapolri ini.

- Berbagai kalangan, termasuk anggota DPR, menyambut baik pencalonan Sutanto yang kelahiran Comal Pemalang 55 tahun silam karena memiliki track record yang meyakinkan. Bahkan, dikenal sebagai figur yang bersih dan agak ''ekstrem'' karena berani melawan perjudian, narkoba, dan penyelundupan serta dikenal tegas dalam penegakan hukum. Oleh kalangan pers, Sutanto dijuluki Mr Untouchable. Ketika menjabat Kapolda Sumatera Utara, gebrakannya memberantas perjudian membuat kalang-kabut mafia perjudian termasuk aparat yang menjadi beking. Sampai-sampai ada seloroh yang menyebutkan Sutanto singkatan Sumut Tanpa Togel. Begitu juga ketika memimpin Polda Jawa Timur sebelum akhirnya membentur ''tembok'' dan dipindahkan ke lembaga pendidikan dan pelatihan Polri.

- Bisa jadi Sutanto bukan figur yang disukai di dalam tubuh Polri sendiri. Maklumlah, dalam urusan perjudian, penyelundupan, dan gerakan mafia hitam lainnya, banyak perwira Polri yang-baik langsung maupun tidak-terlibat. Maka yang menjadi tugas berat justru berawal dari ''pembersihan'' di dalam sebelum melakukan gebrakan di luar. Dengan perkataan lain, hambatan yang akan dihadapi tidaklah ringan mengingat selama ini sebagian biaya operasional kepolisian berasal dari sana. Alasannya klasik, yakni keterbatasan anggaran kepolisian dan minimnya sarana dan prasarana. Dalam situasi demikian, shock therapy tidak bisa dengan mudah dilakukan, karena kalau tidak berhati-hati bisa menjadi bumerang alias berdampak negatif. Perlawanan dan pembelotan bisa terjadi di dalam tubuh Polri.

- Justru itulah yang menjadi tugas kapolri baru, yakni membuat lembaga kepolisian tidak terus-menerus terbelit lingkaran setan yang menjadi pembenaran atas ulah mereka selama ini. Terus terang citra kepolisian sudah mulai membaik setelah Polri berhasil mengungkap kasus peledakan bom, terorisme, dan juga membongkar korupsi beberapa pejabat. Namun semua itu belum cukup untuk memperbaiki citra Polri yang sudah telanjur merosot. Kepercayaan masyarakat sama sekali belum pulih karena sampai sekarang masyarakat tetap banyak yang enggan berurusan dengan kepolisian karena takut malah akan ''babak belur''. Polisi sebagai tukang pungli jauh menjadi kesan yang melekat ketimbang sebagai pengayom masyarakat. Bahkan di era reformasi kesan itu makin kuat.

- Terlalu tinggikah harapan kita pada Jenderal Sutanto terhadap upaya pembersihan dan pembenahan di tubuh Polri. Setidak-tidaknya harapan itu ada karena pada dasarnya dia memiliki modal keberanian, sikap yang tegas, dan komitmen kuat. Seperti ditunjukkannya selama ini. Ketika menjalani fit and proper test di DPR pun, Sutanto sudah berbicara tegas soal langkah-langkahnya untuk memberantas perjudian, menindak pengoplos BBM, menyapu illegal logging, menghilangkan pungli, dan membenahi sistem pelayanan SIM, STNK, dan BPKB di Samsat seluruh Indonesia yang selama ini dikenal sebagai sarang korupsi. Kita percaya terhadap figur Sutanto, namun masih perlu waktu untuk menguji ketangguhannya. Bukan karena kita meragukan komitmen itu, melainkan karena beratnya situasi di lapangan yang dihadapi.

- Memang tidak mungkin melakukan perombakan, pembenahan, dan pembersihan dalam waktu singkat. Tetapi kalau tekad sudah dicanangkan dan gerakan sudah diluncurkan, secara bertahap akan ada hasil dan yang penting kepastian langkah menuju perbaikan. Masyarakat akan dapat menilai langsung karena sehari-hari mereka bergaul, berhubungan, dan berurusan dengan polisi. Gebrakan atau langkah apa pun yang dilakukan akan terlihat dan dapat diukur. Benar bila dikatakan jangan terlalu berharap yang muluk-muluk dulu. Yang penting ada sikap yang jelas. Selama ini kita merasakan makin sulit mencari figur perwira dan pimpinan Polri seperti Sutanto, apalagi sosok Jenderal Hoegeng di masa lalu. Sanggupkah Sutanto mengemban tugas berat itu?


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA