logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 06 Juli 2005 NASIONAL
Line

600 Tahun Cheng Ho di Singapura (1)

Menjual Laksamana, Menangguk Dolar Mancanegara


TARIAN ANTARBANGSA : Para penari dari Indonesia, India, Malaysia, Singapura, China, dan Iran, dan Kenya (masing-masing sepasang) membawakan tarian antarbangsa pada pembukaan Zheng He Festival Village, salah satu rangkaian Singapore Zheng He 600 th Anniversary Celebration, di Marina Bay, Raffles Avenue. (30) - SM/Ali Arifin Muhlish

Selama empat hari (29 Juni-2 Juli) wartawan Suara Merdeka Ali Arifin Muhlish diundang Singapore Tourism Board (STB) untuk menghadiri sekaligus meliput Perayaan 600 Tahun Perjalanan Muhibah Laksamana Cheng Ho dan agenda tahunan The Great Singapore Sale. Berikut laporannya secara bersambung.

APAKAH Laksamana Cheng Ho (Zheng He) dalam perjalanannya keliling dunia pernah singgah di Singapura? Hingga saat ini masih menjadi perdebatan masyarakat di negeri bekas koloni Inggris itu.

Di kalangan kaum birokrat dan pebisnis, singgah atau tidaknya armada Cheng Ho, bukan menjadi masalah besar. Bagi mereka (mungkin) yang penting bisa menjual nama besar sang Laksamana dari Negeri China (pada masa kekuasaan Kaisar Ch'eng Tsu dari Dinasti Ming), itu untuk menangguk dolar dari kocek para turis mancanegara.

Bahkan, pada saat membuka Zheng He Festival Village (salah satu rangkaian Singapore Zheng He 600 th Anniversary Celebration-red) di Marina Bay, Raffles Avenue, 30 Juni, Menteri Luar Negeri Goerge Yeo menegaskan bahwa Sang Laksamana pernah singgah di Negara Kota itu.

Pada pidatonya, Yeo menceritakan tujuh perjalanan muhibah Sang Laksamana memimpin armada berjumlah 27.000 pasukan dan mengendarai 62 kapal Jung. Kapal Jung yang terbesar berukuran panjang sekitar 500 meter dan lebar sekitar 200 meter.

"Dari China, Cheng Ho mengunjungi Malaysia, Singapura, Indonesia, India, Iran, dan Kenya. Pada pelayaran perdana, saat berada di Pulau Sumatera (Palembang) yakni tahun 1406, pasukannya menangkap kawanan perompak yang dipimpin Chen Tsui. Kawanan perompak itu sangat ditakuti para pedagang yang melewati Sungai Musi. Perompak itu dibawa pulang ke Negeri China dan menerima hukuman dari Sang Kaisar Ch'eng Tsu dari Dinasti Ming, pada 1407," katanya.

Namun ketika saya dan tiga wartawan Indonesia yang juga diundang STB, mendapat pernyataan lain yang bertolak belakang. Adalah Loh Kwa Faj, Deputi Direktur National Library Board (NLB) yang berkantor di Jl Victoria 100, saat menerima kami pada Jumat (1/7). "Dalam perjalanan muhibahnya, Cheng Ho tidak pernah singgah di Singapura," kata Faj.

Namun, buru-buru wanita keturunan etnis Tionghoa itu meneruskan pernyatannya. "Tetapi, negara mana pun berhak merayakan ulang tahun perjalanannya. Sebab, Cheng Ho bukan hanya milik bangsa China, atau negara-negara yang pernah disinggahi saja. Tapi sudah milik dunia."

Gegap-gempita

Tapi sudahlah, pro-kontra apakah Cheng Ho pernah singgah di Singapura, memang tak perlu disoal lagi. Yang pasti, negeri itu sudah menggelar peringatan 600 tahun perjalanan muhibah Sang Laksamana secara gegap-gempita.

Seluruh rangkaian acara dikemas dalam bentuk pesta yang meriah. Perpaduan MC yang piawai, sound system yang mendukung, dan ratusan kembang api yang menebar pesona di atas Pantai Marina, semuanya menjadi serba mengagumkan. Seluruh detail acara benar-benar ditangani secara profesional.

"Kami bangga dengan kebijakan multi-etnis yang sudah diberlakukan oleh negara-negara peserta pameran. Sebab, Singapura bisa menjadi negara maju karena memiliki kebijakan seperti itu.

Yakni, tidak membeda-bedakan etnis, ras, agama, atau golongan," tegas Goerge Yeo, sebelum membuka Zheng He Festival Village. (29 )


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA