| Rabu, 06 Juli 2005 | KEDU & DIY |
Terkena Erosi, Tanah Kelenteng AmblesKEBUMEN - Tempat Peribadataan Tri Dharma atau Kelenteng Kong Hwie Kiong Jalan Pramuka 41 Kebumen saat ini terancam ambles. Bahkan tanah di barat kelenteng itu sudah turun dua meter tergerus aliran Sungai Luk Ulo. Tembok kelenteng di bagian barat yang berdekatan dengan tebing Sungai Luk Ulo juga sering bergerak. Bahkan tembok bagian luar, kamar mandi, dan gudang penyimpanan peralatan sesaji, kini telah retak. Menurut bio kong atau perawat kelenteng Ismanto (52), tanah kelenteng ambles sejak Desember tahun lalu. Lama kelamaan, tanah yang bengkah itu meluas dan menjorok ke tembok. Akibatnya, tembok itu retak-retak. Drs Yunarto Arief, pengurus kelenteng itu menambahkan, pihaknya saat ini tidak berani melakukan pengurukan. Sebab setiap diuruk, tanah selalu ambles atau turun ke bawah. Dia menduga, tanah di bawah kelenteng itu nyaris habis setelah terus-menerus terkena aliran sungai. ''Yang tersisa tinggal lumpur sehingga tak kuat menahan beban. Bahkan tembok dalam yang dulu sudah kami tambal, kini retak lagi,'' jelas Arif. Pihaknya semula menutup sebidang tanah di barat kelenteng itu dengan pagar keliling. Namun kini, separo lebih pagar tembok telah runtuh dan masuk ke sungai. Tanah di atasnya dulu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, baik peribadatan maupun atraksi. Erosi tersebut juga mengancam sejumlah rumah dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kelurahan Kebumen atau Kampung Pasar Rabuk. Melapor Menurut Kades Kutosari M Fadlan, pihaknya telah berulang-ulang melapor ke Pemkab dan meminta tebing sungai di Jetis Kutasari tersebut diamankan agar longsoran tidak meluas. Wakil Ketua Komisi D DPRD Kebumen Miftahul Ulum menyatakan akan berkoordinasi dengan eksekutif meminta Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto (PWSSB) di Sempor secepatnya mengamankan tebing sungai tersebut.(B3-39m) |