| Rabu, 06 Juli 2005 | BUDAYA |
Pentas Teater MandiriCara Putu Wijaya Menghibur IndonesiaJAKARTA - Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya bersiap menggelar lakon Jangan Menangis Indonesia, di Graha Bhakti Budaya TIM, 15 dan 16 Juli 2005. Pentas yang akan diperkuat oleh Butet Kartaradjasa dan Rieke Dyah Pitaloka ini akan menyoroti berbagai krisis yang menerpa Indonesia, dari krisis ekonomi hingga moral. Pentas ini merupakan cara unik Putu Wijaya dan Teater Mandiri untuk menghibur Indonesia agar jangan menangis menghadapi berbagai krisis. Ilustrasi musik masih dipercayakan kepada DKSB pimpinan putra almarhum Harry Roesly. "Sebenarnya tidak ada hal baru yang ingin kami sampaikan kepada penonton," tutur Putu Wijaya di Graha Bhakti TIM, Jakarta, kemarin. Dengan membidik persoalan krisis ekonomi, politik, teror bom, tsunami, gempa bumi, ketikdakberdayaan hukum hingga korupsi, Teater Mandiri ingin mengajak penonton untuk tetap memelihara moralitas. "Sebagaimana kita ketahui, institusi yang diperkuat oleh orang-orang terpercaya pun ternyata sama kotornya dengan yang lain," kata Putu. Teater Mandiri masih setia dengan bentuk teror mental kepada penontonnya. "Sebagaimana teater Koma (pimpinan Nano Riantiarno) yang tidak akan mungkin memainkan bentuk teater Mandiri. Teater Mandiri pun tidak akan mungkin memainkan bentuk teater Koma," kata Putu. Putu selalu memanfaatkan idiom gerak tubuh untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Dia juga meyakini teater sebagai sebuah proses pembelajaran pada kehidupan. "Saya tidak berani berkata sejauh mana efektifitas pesan (lakon) ini akan sampai kepada penikmatnya," tutur Putu, didampingi Jose Rizal Manua dan Butet Kartaredjasa. Namun, tambah dia, paling tidak dia telah berbuat sesuatu untuk Indonesia, agar jangan terus menangis. (G20-43) |