logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Juli 2005 PANTURA
Line

Pembangunan Tanggul Penahan Gelombang Dikebut

PEKALONGAN - Pembangunan tanggul penahan gelombang di Pantasari, Kota Pekalongan dikebut. Proyek senilai Rp 900 juta itu diperkirakan selesai September mendatang. Hal itu dikemukakan Manajer Proyek PT Seputra Adi Ajinugraha, Wiyono, kemarin.

Selaku rekanan, pihaknya berusaha menyelesaikan pekerjaan itu secepat mungkin. Karena itu, sebuah alat berat jenis begu didatangkan untuk mempermudah pekerjaan. Sebab yang akan digunakan sebagai bahan baku penahan gelombang itu adalah batu-batu berukuran besar, dengan diameter rata-rata di atas 30 sentimeter.

"Kalau mengandalkan tenaga manusia, pekerjaan itu baru selesai dalam waktu yang cukup lama."

Untuk memperkuat konstruksi bangunan, bagian dasar penahan gelombang itu dilapisi geotekstil terlebih dahulu. Cara itu, kata dia, juga untuk menahan pasir agar tidak masuk.

"Geotekstil dengan ukuran lebar enam meter dan panjang 400 meter itu kami datangkan dari Jakarta."

Berada di Tengah

Wiyono juga menjelaskan, tanggul yang akan dibangun panjangnya 381 meter dengan ketinggian 125 cm dari permukaan air laut normal. Pekerjaan tersebut dimulai dari depan RM Wiroto sampai jembatan depan pabrik pengolahan ikan.

Kontruksinya, lanjut dia, tanggul berada di tengah, sedang sebelahnya ditata pecahan batu besar sehingga bisa memecah gelombang air laut.

Selain itu, akan dibuat beberapa lubang saluran sehingga air laut juga bisa keluar masuk. Dengan demikian, beban tanggul karena serangan gelombang akan terkurangi.

Sementara itu, sejumlah warga Pantaisari mengaku senang dengan dimulainya pembangunan tanggul tersebut. Sebab mereka telah meminta tanggul itu sejak lama. Bahkan menurut Agus Siswanto (30), mantan Ketua Karang Taruna Pantaisari, warga telah mengajukan pembangunan penahan gelombang yang kuat sejak 1989.

Karena hampir setiap musim angin timur dan barat, wilayah itu tergenang air laut hingga lebih dari satu meter.

Kondisi itu membuat warga kerepotan karena harus mengamankan seluruh isi rumah jika terjadi rob.

Selain itu, rob juga banyak merugikan warga, seperti jalan sepanjang Pantaisari yang semula diaspal mulus kini rusak parah dan lingkungan yang menjadi kumuh karena air laut campur limbah rumah tangga tidak bisa mengalir ke laut.

"Yang jelas, dengan konstruksi itu, gelombang air laut tidak menyerang permukiman warga lagi. Kami pun bisa hidup dengan tenang." (H17-52m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA