| Selasa, 05 Juli 2005 | PANTURA |
PesisiranCinta bagi Siapa punOleh: ES PrasojoINGATAN penulis merasa seperti baru kemarin saja kejadian itu berlangsung dan masih membekas ketika membawa seorang pasien tanpa uang sesenpun mengutarakan keluhan ke dokter Basyir. Tanpa prasangka negatif, Pak Basyir menerimanya dengan baik, bahkan memberi bimbingan dan semangat untuk kesembuhan pasien itu. Waktu itu terasa teduh seperti di bawah pohon beringin dalam tiupan angin dan panas ketenangan menyergap. Saat ini mungkin perasaan dokter Basyir tak bisa dilukiskan lewat kata-kata. Biji yang dulu ditanam tak sia-sia. Biji tersebut sekarang berbuah menjadi banyaknya harapan masyarakat Kota Pekalongan yang menginginkan keteduhan darinya. Suka cita bersatu padu berbaur dalam kegembiraan dan kesedihan. Dan proses demokrasi pun terus berjalan meninggalkan nilai-nilai lama untuk menegakkan perubahan, demi mencapai harmonisasi pada pemilih tua dan muda yang mempunyai keinginan sama yakni memajukan Kota Pekalongan yang selalu mengacu pada kesamaan obsesi dalam membangun bidang apapun untuk kepentingan semua golongan. Di depan mata seorang anak daerah yang bernama Basyir itu banyak pekerjaan menunggu, dan itu bukan merupakan hal yang ringan. Dalam mengatasi pekerjaan itu perlu kerja keras dan kecerdasan serta mendapat dukungan dari berbagai macam elemen masyarakat yang tidak hanya berlangsung sehari dua hari, namun berkelanjutan supaya langkah terjaga dengan baik. Sebuah pengorbanan diperlukan untuk membangun kepentingan yang lebih besar. Di sini, siapapun Wali Kota Pekalongan nanti, merupakan hal yang tidak penting. Namun, bagaimana masyarakat mau memahami hakikat pembangunan sebenarnya untuk siapa? Dan munculnya seorang Basyir adalah proses alam. Kelahiran menjadi wali kota sekarang berlangsung tidak spontan, tapi melalui berbagai macam proses yang memakan waktu tidak hanya satu atau dua bulan saja, tapi bertahun-tahun untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Bisa dikatakan bahwa segala pengorbanan sudah banyak dilakukan. Di sisi lain, sebagian rasa sakit hati atau belum adanya kebagian jatah itu merupakan hal wajar karena manusia tidak lepas dari segala keterbatasan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita menilai dengan kejujuran serta sikap legawa yang perlu ditancapkan ke hati kita. Yakinlah inspirasi baru akan mengejar kita! Kita semua harus mengakui bahwa empat pasangan calon wali kota Pekalongan (Sigit-Fredy, Basyir-Mafachir, Antoni-Hasyim, Timur-Urip) dari pasangan itu pasti mempunyai masalah dan masa lalu yang baik dan buruk. Sekarang bagaimana kita menyikapi dengan bijaksana atau bahkan dengan kecerobohan yang pada gilirannya tidak ada keuntungan bagi siapapun, selain sang provokator yang akan menari-nari di atas pertikaian antar saudara. Sebenarnya tidak perlu terjadi jika selalu mengedepankan arti Pancasila. Tanpa sadar, sudah lama kita meninggalkannya karena kepentingan kelompok atau golongan yang membuat cinta kebersamaan dalam dinamika hilang terbawa angin. Banyaknya elemen LSM menyerang masakah KUT (Kredit Usaha Tani) kepada wali kota terlipih merupakan hal wajar, karena bagaimana pun juga mereka harus diterima dengan baik hati dan rasa cinta mendalam supaya menjadi catatan bagi seorang wali kota di kemudian hari. Untuk menjadi perhatian bersama, bagaimana wali kota terpilih nanti bisa merangkul semua elemen LSM yang berseberangan menjadi sinergi bagi langkah-langkah Kota Pekalongan selanjutnya. Sudah saatnya, kita harus menghentikan pertikaian yang bisa membawa kehancuran bersama. Detik ini, hari ini, harus lebih baik menghembuskan nafas persaudaraan demi mewujudkan apa yang kita inginkan bersama dari hati ke hati menutup segala kekurangan. Kemenangan Rakyat Kalau kita mau jernih berfikir, kondisi sekarang dengan kemenangan Basyir-Mafachir merupakan juga kemenangan rakyat Pekalongan. Jika saat ini ada sebagian saudara kita menyerang atau menggugat atas kemenganan Basyir-Mafachir, hal itu merupakan kekeliruan jangka pendek atau pun panjang. Mengapa bisa begitu? Tentu, sebab kemenangan mereka atas kehendak sebagian besar rakyat Pekalongan dan bukan semata-mata murni keinginan mereka. Bila ada beberapa elemen LSM tidak setuju atau mempermasalahkan mereka, seharusnya ditujukan kepada rakyat pemilih sebanyak 51.934 orang tersebut, bukan kepada wali kota terpilih. Mereka tidak salah, yang salah rakyat pemilih karena mempunyai banyak keterbatasan akhirnya bersikap begitu. Memilih tanpa mendengar hati nurani dan perkembangan informasi terakhir tentang calon yang dipilih. Lalu apa yang terjadi? Hitam dan putih masa depan Pekalongan ditentukan arti kebersamaan hari ini. Singkirkan para siluman yang menerima amplop di balik aksi demonstrasi. Membangun kesadaran atas kemengan lawan diperlukan pemahaman, juga kebesaran jiwa untuk membentuk tonggak baru menjadi pegangan kita bersama. Kita masih mempunyai waktu! Kita masih mempunyai kesempatan! Lima tahun ke depan bisa menjadi catatan bahwa sudahkah rakyat Pekalongan membangun SDM lebih baik? Karena kebanyakan pertikaian terjadi yang disebabkan oleh SDM yang tidak merata. Kalau sudah begitu, mari kita evaluasi tindak-tanduk DPRD dalam menghabiskan anggaran, sebenarnya untuk kepentingan siapa? Jadikan pilkada pusat introspeksi. Bisakah? Bisa! Kalau kita mau belajar dari segala penjuru kesalahan jadikan Pekalongan yang terbaik bagi daerah-daerah lain. Buanglah seribu prasangka hari ini dan ke depan melangkahlah saling mengoreksi dan bahu membahu memberi kesejahteraan juga keadilan bagi siapapun. Melihat Basyir saat ini yang sedang menjadi bidikan elemen tertentu karena dianggap bermasalah, alangkah baiknya kita semua merenung untuk sebuah kemenangan bersama. Tak perlu saling menggugat apalagi menandingi, tunjukkan sebuah kekuatan cinta untuk menjemput bintang di langit diperlukan hati bersih dan lapang dada. Kalau perlu mengajak semua komponen putra daerah untuk duduk satu meja, makan bersama. Kemudian berdialog dari hati ke hati, sekali lagi memperbaiki lima tahun ke depan mengembangkan arti asih, asah, asuh. Karena, sesungguhnya saat ini yang dibutuhkan adalah kekuatan cinta seorang pemimpin bagi siapapun. Untuk menggalang kekuatan bagi sebuah kebersamaan, sungguh sangat berarti sekali. Penulis adalah aktivis lingkungan hidup tinggal di Pekalongan.(19hs) |