logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Juli 2005 SEMARANG
Line

Panti Pijat yang Kian Merebak (1)

Dari "Teh Celup" sampai "Kopyok Ndog"

Belakangan ini panti pijat kembali merebak di Kota Semarang. Tak hanya di hotel, kawasan elite, dan ruko, bahkan di sekitar pemukiman warga pun gampang ditemui. Wartawan Suara Merdeka, Fahmi Z Mardizansyah, Rukardi, dan Purwoko Adi Seno, menelusuri fenomena menjamurnya panti pijat itu, yang dituangkan dalam bentuk laporan mulai hari ini.

JALAN Kedungmundu boleh jadi merupakan parameter nyata dari kemerebakan panti pijat di Kota Semarang. Betapa tidak, pada ruas jalan sepanjang kurang lebih 1,5 km itu, paling sedikit ada sembilan tempat yang menawarkan kebugaran melalui jasa pelayanan pijat.

Jika Anda berjalan dari barat selepas Jembatan Mrican, akan dijumpai nama-nama seperti Bu Ts, GSS, Bu Tk, Ars, WK, Kns, Whn, RS, dan Llk. Beberapa tempat menyebutkan spesialisasi dari pijat capai untuk pria dan wanita, shiatsu ataupun pijat kesehatan. Sebagian lain tanpa menerakan embel-embel sama sekali.

Jika diamati, tempat-tempat pijat tersebut baru beberapa tahun ini berdiri. Kalaulah ada yang lama, paling cuma satu-dua. Merebaknya panti-panti pijat di Kedungmundu seiring perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Pembangunan kawasan perumahan di sisi timur kota membuat jalan tersebut menjadi jalur utama. Untuk menampung banyaknya pengguna jalan, Jalan Kedungmundu pun dilebarkan. Bersamaan dengan itu, lahan-lahan di kanan-kiri jalan yang semula kosong mulai jadi hunian.

Kecenderungan serupa --dalam sekala lebih kecil-- terjadi pada beberapa tempat lain di Semarang. Sebut saja Jalan Soekarno Hatta, Jalan Kartini, dan kawasan perumahan Puri Anjasmoro. Adapun yang terdapat di hotel, bisa ditemui di Hotel PS, Rn, PG.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi fenomena tersebut? Dalam pengamatan Suara Merdeka, para pengunjung panti pijat berjumlah cukup banyak. Di panti pijat WK misalnya, dalam satu hari pengunjung yang datang puluhan. Itu belum kalau hari libur atau malam minggu. Mereka, mulai yang berjalan kaki sampai bermobil. Tak hanya yang berusia remaja, usia lanjut pun terlihat mengantre di sofa ruang tamu.

Hidupi Anak

Saskia (30) --nama samaran-- salah seorang pemijat di sebuah panti di Jl Kedungmundu Raya menuturkan, pekerjaan itu baru dilakoninya sebulan. Sebelumnya, dia bekerja sebagai seorang penjahit selama beberapa tahun. Profesinya berubah ketika pada awal Februari 2005 suaminya meninggal dunia. Sejak itu dia harus kerja banting tulang untuk menghidupi dua anaknya yang berumur delapan dan empat tahun.

Warga Tanah Mas itu tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Hasil kerja sebagai seorang penjahit tidak mencukupi untuk biaya sekolah dan keperluan dua putranya. Penghasilan sebagai penjahit antara Rp 50.000-Rp 150.000 sebulan.

Karena kekurangan, dia beberapa kali mencoba mencari pekerjaan lain tetapi hasilnya nihil. Begitu mendapat tawaran kerja dari temannya, dia langsung menyanggupi. Awalnya dia kaget, begitu tahu kerjaan yang ditawarinya adalah menjadi pemijat.

Keluarganya tidak ada yang tahu kalau dia menjalani profesi sebagai tukang pijat. "Saya bilangnya bekerja di restoran daerah Ketileng," ungkapnya.

Soal pijat plus, memang tidak semua panti menawarkan pelayanan semacam itu. Ada yang benar-benar memberikan pelayanan pijat kesehatan. Namun ada pula panti yang menawarkan jasa tambahan, alias pijat plus. Pijatan plus yang dimaksudkan Saskia adalah pelayanan seks. Istilah yang digunakan untuk pijatan plus pun beragam. Dari teh celup, mandi kucing, pijet remet hingga kopyok ndog.

Istilah-istilah tersebut memang agak membingungkan, terutama bagi yang belum pernah mendapat pelayanan semacam itu.

"Teh celup" misalnya, merupakan istilah pengganti untuk oral seks dan diteruskan dengan hubungan badan. Istilah "mandi kucing", pemijat menjilati seluruh bagian tubuh pelanggannya. Lalu apa yang disebut pijet remet dan kopyok ndog? Kedua istilah itu digunakan untuk pelayanan masturbasi.

Harga pelayanan tambahan itu beragam. Misalnya untuk teh celup dan kopyok ndog sekitar Rp 100.000. Untuk mandi kucing dan pijet remet, tarifnya Rp 50.000-Rp 100.000.

Bagaimana kalau pelanggan sekadar pijat? Wanita berambut pendek itu mematok tarif 30.000 dan sewa kamar Rp 15.000. "Rata-rata tiap hari saya bisa menerima tamu 1-5 orang. Namun kadang malah tidak dapat sama sekali," tuturnya.

Tempat untuk memijat berupa bilik kamar berukuran 2 x 2,5 meter, itu pun hanya ditutup dengan sebuah gorden. Di dalam bilik terdapat meja kecil, tempat tidur dari kayu, kasur, dan sebuah bantal. Dilengkapi kipas angin kecil, sebuah cermin, dan sebuah handuk.

Salah seorang pengelola mengatakan, panti miliknya berdiri sejak tujuh bulan lalu. "Kami coba-coba saja, barangkali menguntungkan. Tempat kami perizinannya resmi," ungkap pemilik panti pijat A, yang enggan disebut namanya.(18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA