| Selasa, 05 Juli 2005 | INTERNASIONAL |
Irak-Iran Semakin EratBEIRUT - Irak menjalin hubungan makin erat dengan Iran, negara tetangga yang pernah menjadi musuh bebuyutannya. Awal persahabatan ini ditandai dengan hubungan perdagangan kedua negara. Kedua belah pihak juga telah sepakat menghidupkan kembali proyek penyaluran minyak melalui jaringan pipa, dari daerah-daerah minyak Irak ke pusat-pusat penyulingan Iran di Abadan. Irak menyatakan Senin kemarin, negeri itu akan membeli 250.000 ton tepung dari Iran. Pembelian tepung itu sekaligus menandai perubahan kebijakan impor Bagdad. "Kesepakatan membeli tepung Iran itu dilakukan dengan tiba-tiba. Hal itu menunjukkan besarnya pengaruh Iran pascaperang di Irak. Teheran tidak kekurangan teman," kata seorang pedagang Irak. Perang yang dia maksud adalah perang Irak-Iran pada 1980-an. Dia menambahkan, kesepakatan itu disahkan oleh sebuah komisi baru setingkat kabinet yang dibentuk PM Ibrahim al-Jaafari. Politik luar negeri yang dianut Jaafari memang jauh berbeda dari pemerintahan sementara sebelumnya yang ditunjuk oleh Amerika. Pemerintahan Jaafari menginginkan hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Iran. Keamanan Buruk Bagdad dan Teheran belum lama ini membuat kesepakatan untuk meningkatkan hubungan perdagangan. Kedua pihak juga mengadakan perundingan tahun lalu untuk memanfaatkan pelabuhan Bandar Khomeini, Iran, sebagai tempat menerima ekspor tepung Australia untuk Irak. Pasalnya, situasi keamanan di Umm Qasr (pelabuhan utama Irak) sangat buruk lantaran sering menjadi sasaran serangan gerilya dan operasi-operasi militer. Agar mendapatkan pemasok dari negara-negara lain, Irak juga bernegosiasi untuk membeli 850.000 ton gandum dari AS dan 500.000 ton lainnya dari Australia. Apabila tercapai kesepakatan, itu merupakan transaksi terbesar yang dilakukan oleh Irak sejak negara tersebut diinvasi AS dua tahun lalu. "Perundingan tentang gandum itu belum mencapai kata akhir. Masih ada hambatan soal kuantitas dan kendala lain. Irak mengajukan tawaran 216 dolar AS per ton gandum. Tampaknya, AS dan Australia menolak tawaran harga itu," kata seorang pedagang Arab kepada Reuters. (rtr-ben-25) |