| Selasa, 05 Juli 2005 | BUDAYA |
Menyikapi Rob dengan SenyumanDENGAN dada membusung dan senyum mengembang, seorang pejabat memperkenalkan Kota Semarang. Kepada khalayak ia mengatakan, Semarang merupakan hunian nyaman yang bebas banjir dan genangan. Namun, dari balik tabir berlukis pemandangan kota yang indah dengan gedung-gedung menjulang, seorang warga menguras air yang menggenangi di rumahnya. Eko Wahyu memaparkan ironi tersebut dalam "Festival Kartun Semarang Tertawa" yang diselenggarakan Semarang Cartoonist Club (Secac) di Gedung Pandanaran Semarang, 2-3 Juli. Ia dengan karyanya hendak menertawakan pemegang otoritas yang menurutnya acap memutarbalikkan kenyataan. Dengan semangat serupa, Priyo Puji Raharjo memaparkan ironi Adipura. Dalam sebuah karyanya, Penjabat Wali Kota Semarang Saman Kadarisman ia gambarkan mengirab penghargaan untuk kota terbersih itu di atas sungai yang penuh sampah. Ya, ironi-ironi yang terjadi di seputar Kota Semarang menjadi sasaran bidik 70 kartunis peserta festival tersebut. Mereka adalah para kartunis dari Secac, Terminal Kartun Ungaran (Terkatung) dan Komunitas Kartunis Kaliwungu (Terkatung). Para kartunis itu mengangkat persoalan aktual Kota Lumpia, seperti banjir, rob, penggusuran, ciblek, Bonbin Tinjomoyo, Wonderia hingga soal pilkada. Paling Menarik Di antara tema-tema tersebut, rob tampaknya menjadi isu paling menarik. Terbukti dari sekitar seratus karya yang terpajang, hampir separuhnya mengangkat tema tersebut, seperti karya Joko Susilo, Imam Sahri, Boedy HP, Tonno, Muchid Rohmad, Erie, dan Loekis Haryadi. Joko Susilo misalnya, menggambar seorang penyelam yang terjun ke dasar lautan. Alangkah terkejutnya sang penyelam manakala ia melihat kota Semarang ada di sana. Sementara dalam karya Loekis Haryadi, seorang bocah pengamen bertanya kepada lelaki yang berdiri di sebuah pemberhentian bus. "Mau ke Semarang Om?" Rupa-rupanya pertanyaan itu terlontar lantaran celana panjang sang lelaki dalam kondisi terlingkis ke atas. Meski kritik yang disampaikan dalam karya-karya tersebut cukup tajam. Toh tak membuat pihak yang menjadi sasaran tembak mereka menjadi gerah dan lantas menyimpan dendam. Lihat saja sejumlah pejabat Pemkot yang hadir dalam acara pembukaan, seperti Asisten Pembangunan Tata Pradana dan Kepala Dinas Pariwisata Agus Sudarmaji. Mereka menanggapi kritik tersebut dengan senyuman. Berbeda dengan pameran-pameran kartun yang pernah digelar sebelumnya, "Festival Kartun Semarang Tertawa" tak terlampau banyak diminati pengunjung. Selama dua hari acara, ruang pamer terlihat lengang. Apakah itu tengara popularitas kartun di Semarang telah memudar? "Ah, jangan berprasangka sejauh itu. Sekarang kan lagi musim pendaftaran sekolah. Orang mungkin masih sibuk mengurus kelanjutan studi anak mereka. Jadi nggak punya waktu untuk nonton," seloroh seorang pengunjung kepada Suara Merdeka. Aha, moga-moga saja hal itu benar adanya. (Rukardi-43) |