| Senin, 04 Juli 2005 | SALA |
Hujan, Malapetaka bagi Petani TembakauCURAH hujan yang cukup tinggi di kawasan Gunung Merapi, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, sejak beberapa pekan belakangan ini merupakan malapetaka bagi petani tembakau. Harapan untuk memetik tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi, tampaknya hanya tinggal impian. Petani tembakau tidak terlalu banyak berharap memetik tembakau yang berkualitas tinggi. Sarman (45), salah seorang petani di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, kemarin menuturkan, curah hujan yang sangat tinggi merupakan momok bagi petani. Sebab, tanaman tembakau harus dijauhkan dari curah hujan. Kalau pun membutuhkan air, itu hanya sekadarnya dan juga bila diperlukan saja. Dampak curah hujan, tidak saja menurunkan kadar nikotin tetapi juga daun tembakau menjadi busuk. ''Kalau sudah begitu, apa yang bisa saya harapkan?'' katanya. Pada musim tanam tahun ini, dia menanam tembakau seluas 2.500 m2. Untuk biaya produksi, dia harus mengeluarkan uang Rp 1,5 juta. Bila tidak ada curah hujan, tembakau bisa laku sekitar Rp 2,5 juta. Namun, perkiraan itu meleset karena sebagian tanamannya sulit dipetik hasilnya. Pada panen awal Agustus mendatang, kemungkinan hanya mendapat penghasilan sekitar Rp 1 juta. Beberapa petani lainnya mengungkapkan hal yang sama. Mereka tidak menduga akan ada curah hujan. Mereka memperkirakan akan terjadi kemarau panjang, sehingga memengarui kualitas tembakau. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, bila dalam satu tahun rugi, maka tahun berikutnya mendapat keuntungan. ''Pada tahun ini, saya memperkirakan akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda, karena tahun sebelumnya sudah rugi, menyusul rendahnya harga tembakau. Ternyata perkiraan itu meleset, dan tahun ini merugi lagi,'' kata Ranto, warga Desa Samiran, yang tahu ini menanam tembakau seluas 3.000 m2. Masih Muda Camat Selo, Luwarno, mengatakan, curah hujan yang tinggi sebenarnya tidak begitu memengaruhi kualitas tembakau. Sebab, daun tembakau yang diguyur hujan masih muda, sehingga sebagian besar masih bisa diselamatkan. Namun diakui, curah hujan memengaruhi kadar nikotin sehingga berdampak pada harga tembakau, yang di pasaran menjadi cenderung menurun. Luas tanaman tembakau di Kecamatan Selo pada musim tanam tahun ini mengalami penurunan, hanya sekitar 350 hektare. Jauh sebelum petani menanam tembakau, pihaknya sudah memberitahu melalui perangkat desa tentang pembatasan tanaman tembakau. Kalau tidak diberitahu, dikhawatirkan akan kelebihan produksi, sehingga harga jualnya anjlok. ''Karena itu, petani harus membatasi tanaman tembakau,'' katanya. Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, Mulyatno, mengatakan, curah hujan yang cukup tinggi sebenarnya tidak begitu banyak berpengaruh. Sebab, daun tembakau yang terguyur hujan cepat tuntas. Artinya, air yang membasahi daun tembakau cepat hilang, sehingga tidak begitu berpengaruh. Namun bila curah hujan terus menerus, memang akan memengaruhi kualitas. ''Karena itu, bila memang daun tembakau telanjur membusuk, lebih baik cepat dipanen untuk diganti tanaman lain,'' tandasnya.(Suti Harjoyo-42a) |