logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Juli 2005 RAGAM
Line

TASAWUF INTERAKTIF

Nikah, Takdir atau Usaha Manusia

T: Prof Amin Syukur yang saya hormati, saya ingin menanyakan beberapa hal:

1. Apa yang disebut jodoh?

2. Siapa pasangan kita kelak dan kapan kita menikah, apakah sudah ditentukan oleh Allah ataukah berdasarkan usaha kita?

3. Perceraian adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, tetapi bukankah itu juga takdir?

4. Bila dalam pernikahan tidak ada keturunan, bercerai untuk menikah dengan orang lain dengan harapan mendapatkan anak, apakah merupakan usaha yang dibenarkan?

5. Sekedar usulan, bagaimana kalau rubrik interaktif tasawuf ini nantinya dirangkum dalam sebuah buku? Terima kasih atas jawabannya.

Anik di Semarang

J: Saudari Anik, perlu dipertegas dulu pengertian jodoh. Yakni apakah jodoh itu takdir Tuhan atau usaha (ikhtiyar) manusia. Jodoh yang berarti ''berpasangan'' adalah takdir Tuhan, karena Dia menciptakan segala sesuatu dalam keadaan berpasangan (QS.Al-Dzariyat/51:49). Ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada senang ada susah, ada jantan ada betina, dsb. Jodoh yang berarti berpasangan tersebut juga berlaku pada diri manusia, artinya manusia juga diciptakan Tuhan dengan dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan (QS. Al-Najm/53:45). Jadi, jodoh yang berarti ''berpasangan'' berlaku bagi semua ciptaan Tuhan dan itu adalah takdir-Nya.

Sementara itu jodoh juga berarti ''pasangan hidup'' (suami dan istri). Jodoh dalam pengertian ini sangat terkait dengan usaha manusia. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pasangan hidupnya masing-masing. Apakah dia ingin mendapatkan pasangan hidupnya (menikah) atau tidak, siapa pasangan hidup yang dikehendaki dan kapan ingin menikah? Manusia diperintah untuk berusaha lalu berserah diri kepada-Nya (QS. Ali Imran/3:159).

Perceraian juga termasuk dalam lingkup usaha manusia. Dalam perkawinan, manusia memiliki dua pilihan, antara menjaga kelangsungan perkawinan atau berakhir dalam perceraian. Dalam hadis Nabi saw. dinyatakan cerai adalah perbuatan yang diperbolehkan untuk dilakukan tetapi sangat dibenci oleh Tuhan (HR.Abu Daud dan Hakim).

Menikah, sesuai dengan UU No.1/1974 adalah peristiwa hidup manusia yang sakral. Karena mengemban misi sebagai sarana menciptakan kehidupan manusia yang harmonis, penuh dengan ketenangan, cinta, kasih dan sayang serta rahmat dari Tuhan (al-Rum/30:21). Disamping itu menikah adalah untuk mendapatkan keturunan dan melestarikan generasi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu manusia diharapkan untuk menikah dalam hidupnya dengan tujuan tersebut, bukan sekedar untuk memuaskan hawa nafsu, habis manis sepah dibuang.

Dalam pernikahan, tujuan tersebut di atas memang tidak sepenuhnya tercapai, seperti tidak mendapatkan keturunan (anak). Tidak mendapatkan keturunan bukan alasan untuk mengakhiri pernikahan, karena keturunan bukan satu-satunya tujuan perkawinan. Kalau manusia tetap berharap memiliki keturunan, diperbolehkan mencari cara untuk mendapatkannya. Sebagai contoh, seiring dengan kemajuan teknologi, pasangan suami istri dapat memperoleh keturunan melalui cara bayi tabung, atau kalau tidak mampu secara finansial, dapat pula mengadopsi anak.

Perlu disadari betul, bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia termasuk anak, adalah amanat dari Tuhan sekaligus menjadi sarana untuk menguji sejauhmana tingkat keimanan dan ketaqwaan manusia (Al-Ankabut/29:1-3 dan Al-Anfal/8:28). Kalau pasangan tidak mempunyai keturunan, ada beberapa kemungkinannya; pertama, ada masalah ketidak-sesuaian dengan sunnatullah pada salah satu pasangan, sehingga tidak dapat memiliki keturunan. Kedua, ada hikmah tersembunyi yang untuk sementara waktu belum diketahui. Itulah rahasia Tuhan, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Mengenai usulan Anda untuk membukukan rubrik Tasawuf Interaktif ini, sangat kami hargai, dan itu telah kami lakukan dengan terbitnya buku pertama yang berjudul Tasawuf Kontekstual, Solusi Problem Manusia Modern oleh Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA. yang dapat Anda peroleh di toko-toko buku. Demikian, wa Allah a'lam bi al-shawab.(12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA