| Senin, 04 Juli 2005 | OLAHRAGA |
Arief Wiyarta PrakarsaPemula yang BerjayaKECIL-kecil cabe rawit. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan prestasi atlet wushu Arief Wiyarta Prakarsa. Pada Kejuaraan Daerah (kejurda) Wushu-Taolu Jawa Tengah 2005 yang berlangsung di Rita Mall Tegal, 26-27 Juni lalu, bocah berusia sepuluh tahun itu meraih sekaligus tiga medali emas. Medali-medali itu turut mengantarkan Sasana Garuda Emas (GE) Semarang menjadi juara umum dan merebut Piala Bergilir Gubernur Jateng. Mantan atlet nasional wushu Sutantyo Purnamadjaja yang kini menjadi pelatih di sasana itu memuji penampilan anak asuhnya yang bertarung di kelompok yunior tersebut. Pada babak final nomor golok dan toya, usia lawan yang dihadapi terpaut jauh di atasnya. Namun, Arief tidak gentar dan mengeluarkan segenap kebolehan yang dimiliki. Hasilnya, dia pun membuktikan diri sebagai yang terbaik. "Mental bertandingnya sudah bagus. Bahkan, lebih baik dibandingkan saat latihan biasa," jelas Sutantyo. Padahal sebenarnya dia harus bertanding di kelompok pemula. Tapi, karena kategori ini tidak dilombakan, kelompok yunior pun diarunginya. Satu emas kejurda lagi dipersembahkan Arief dari nomor favoritnya, chang quan. Anak kelahiran Semarang 25 Oktober 1995 itu mulai berlatih wushu sejak awal 2004. Di SD Karangturi tempatnya sekolah, wushu merupakan salah satu cabang olahraga ekstrakurikuler. Setiap Sabtu siang, dia mengikutinya di bawah bimbingan pelatih Diah Kusuma Dewi dan Tri Joko. Tidak lama kemudian, putra pasangan Jimmy Prakarsa dan Yenita Ekowati itu bergabung dengan GE yang aktif memantau perkembangan anak-anak Karangturi. Filosofi Pelatih GE Sutantyo adalah peraih medali perak SEA Games 1997 di Jakarta untuk nomor toya dan menyabet medali emas chang quan untuk Jawa Tengah pada PON tahun 2000 di Jawa Timur. Dengan polesannya, kemampuan Arief berkembang pesat. Event pertama yang diikuti adalah Kejurnas Wushu Yunior tahun 2004 yang dilangsungkan di Yogyakarta. Pada saat itu, pemilik tinggi badan 130 cm dan berat 32 kg tersebut hanya bertengger di peringkat keenam. Kejurda Jateng di Tegal kemarin adalah kali kedua dia turun bertanding. Di dalam cabang olahraga ini, terdapat peraturan yang mengharuskan maksimal menguasai tiga nomor. Arief diarahkan untuk menekuni spesialisasi chang quan pada tangan kosong, golok dan toya. Meskipun setiap hari, kecuali Sabtu, harus berlatih, kewajiban sebagai pelajar tidak dilupakannya. Di sela-sela antara waktu sekolah dan berlatih, dia juga masih mengikuti les tambahan. "Dia termasuk anak yang memiliki nilai di atas rata-rata," kata ibunya, Yenita. Di sekolahnya, Arief yang punya hobi menyanyi juga ikut tim paduan suara. Kepala SD Karangturi, Megasari W SPd pernah memilihnya untuk tampil mewakili sekolah dalam sebuah program televisi lokal. Saat itu, kelihaiannya memainkan jurus-jurus tangan kosong dan senjata wushu ditunjukkan. (Abduh Imanulhaq-22) |