| Senin, 04 Juli 2005 | WACANA |
tajuk rencanaMuhammadiyah, Pemosisian Pilar Kebangsaan- Ketidaksediaan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif untuk kembali memimpin Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, dan penegasan Prof Dr HM Amien Rais untuk tidak akan mencalonkan diri, memberi gambaran tentang regenerasi kepemimpinan yang pasti akan terjadi di tubuh ormas Islam itu. Memang, Muktamar ke-45 yang tengah digelar di Malang secara strategis tidak hanya akan mengolah dan memilih pimpinan. Tetapi bagi sebuah persyarikatan sebesar Muhammadiyah, sorotan mengenai kepemimpinan tetap merupakan sentrum terpenting. Mau tidak mau, fokus ini akan terkait dengan bobot representasi, prospek kualitas gerak dan kinerja organisasi menghadapi berbagai persoalan umat Islam dan bangsa Indonesia sekarang dan di masa depan. - Tidak dapat dimungkiri, Muhammadiyah telah menjadi salah satu pilar kebangsaan di antara pilar-pilar lain dalam menyangga keutuhan bangsa. Peran penting ormas Islam itu sangat dirasakan di panggung sejarah, di semua masa yang dihadapi republik ini. Ketokohan kader Muhammadiyah memberi warna kuat dalam kehidupan bangsa, yang terasa dari dakwah kulturalnya di ranah keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga politik. Tidaklah mengherankan, setiap kali persyarikatan ini menggelar muktamar, perhatian seluruh elemen masyarakat terasa begitu besar. Siapa yang akan dipercaya untuk memimpin ormas ini bakal menjadi pusat perhatian nasional. Hal itu sekaligus berarti arah, gerak, dan dinamika Muhammadiyah pun akan dinilai dari bobot para calon pemimpinnya. - Menjelang muktamar, Amien Rais menyampaikan pemetaan tujuh persoalan bangsa, yaitu tingginya angka kemiskinan dan kelemaratan sebagai problem utama, pengrusakan ekologi, maraknya korupsi di birokrasi, BUMN, dan sektor privat. Berikutnya separatisme di Aceh dan Papua, lalu peredaran narkoba yang makin menggila, serta hilangnya kepercayaan diri bangsa. Persoalan-persoalan ini membutuhkan jawaban, setidak-tidaknya sikap dari semua pilar kebangsaan. Kita melihat, Muhammadiyah dengan kuantitas keanggotaan yang memberi warna tersendiri juga berada di tengah pusaran tersebut. Jadi bagaimana memainkan peran untuk memberi kontribusi pemecahan persoalan, tentu menjadi bagian dari tuntutan pembahasan muktamirin. - Di bawah beragam tipe kepemimpinan figur-figur ketua umumnya, Muhammadiyah mengarungi problem-problem bangsa ini pada zaman masing-masing. Amien Rais yang belakangan lebih memilih berkiprah di Partai Amanat Nasional (PAN), memberi kontribusi besar bagaimana seharusnya pemimpin persyarikatan dan pemimpin politik bersikap. Sebagai ''sentrum'', dia mundur pada saat yang tepat, dan tidak memaksa bertahan di PAN sebagai bentuk pembelajaran politik kepada para kadernya. Syafii Maarif menghadirkan kewibawaan Muhammadiyah melalui langkah-langkah taktis yang mampu membangun jarak berimbang dengan kekuatan-kekuatan politik dan pusat kekuasaan. Pernyataan-pernyataannya selalu mengetengahkan bobot moral. - Bobot moral yang dibawa Syafii inilah yang mestinya mendapat ruang pemihakan luas dalam kepemimpinan Muhammadiyah periode mendatang. Mati-matian dia menjaga agar persyarikatan tidak terseret ke ranah politik. Kehadiran kepemimpinannya betul-betul dirasakan sebagai ''penjaga moral'', bersama-sama sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan ormas yang lain memberi tekanan berorientasi kebangsaan pada setiap gejolak. Sikapnya terhadap kemarakan korupsi misalnya, sangat dirasakan sebagai dukungan moral bagi gerakan-gerakan antikorupsi di Tanah Air. Kalau dia mengingatkan agar Muhammadiyah tidak terseret ke politik praktis, itulah spirit yang dibangun dan sepatutnya terus dibangun oleh siapa pun penggantinya nanti. - Godaan politik dan kekuasaan terbukti ''menamatkan'' karisma banyak tokoh publik dan intelektual. Ini yang secara konsisten perlu diingatkan bagi ormas seperti Muhammadiyah. Membangun kualitas kader secara sistematis tentunya lebih bernilai ketimbang berpikir instan tentang kekuasaan. Dari ormas ini lahir ulama-ulama intelektual di berbagai ranah kiprah. Maka, lahan garapan mestinya lebih difokuskan ke civil society lewat dakwah kultural, karena dari ''sawah'' inilah persemaian kader untuk menjawab tujuh persoalan yang dipetakan oleh Amien Rais banyak diharapkan. Bagaimana memberi warna dalam ikut mengurai dan menyelesaikan problem-problem kebangsaan, merupakan kiprah yang terus-menerus diharapkan dari Muhammadiyah. |