| Senin, 04 Juli 2005 | KEDU & DIY |
Sekjen Dephan: Sistem Pendidikan Mendesak DibenahiBOROBUDUR - Sekjen Departemen Pertahanan Letjen Syafri Sjamsoeddin mengatakan bahwa infrastruktur, kesejahteraan guru serta sistem pendidikan (kurikulum) mendesak untuk dibenahi. ''Penanganannya harus dilakukan secara disiplin. Karena bagaimanapun juga, kalau masuknya unggul, pasti keluarnya juga unggul,'' katanya, Sabtu (2/7) usai mewisuda lulusan SMA Taruna Nusantara Tahun Ajaran 2004/2005. Ia menyatakan prihatin lulusan SMA saat ini mengalami dilema, jika dilihat dari aspek kuantitas. Dilema di sini bukan dalam arti rusak atau dunia pendidikan Indonesia gelap. melainkan secara makro ada yang perlu dibenahi terkait dengan hasil didikannya. Meski demikian, itu jangan dijadikan sebagai alasan untuk terus-menerus khawatir. Apalagi secara kualitas, masih ada sekolah-sekolah yang bisa melahirkan SDM unggulan. ''Seperti SDM lulusan SMA Taruna Nusantara (TN) yang akan berpartisipasi sebagai tulang punggung bangsa di masa depan,'' tandasnya. Ia menegaskan, pendidikan di SMA TN tidak diorientasikan untuk pertahanan, tetapi diarahkan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa masa depan, baik militer maupun nonmiliter. Sistem Pertahanan Dephan adalah lembaga utama dalam merumuskan kebijakan pertahanan yang meliputi pertahanan militer dan nonmiliter. Komponen utama dalam sistem pertahanan militer adalah TNI, sedangkan komponen pertahanan nonmiliter adalah sumber daya nasional. ''Termasuk putra putri yang perlu kita lihat sejauh mana pontensi efektifnya,'' katanya. Karena itu, sejak 1990, Dephan (waktu itu Dephankam) berpikir bagaimana menginvestasikan SDM unggulan dengan membentuk SMA TN. Saat ini, sekitar 2.500 lulusannya sudah masuk angkatan kerja. Dibanding dengan yang masuk militer dan Polri, lulusan SMA TN justru lebih banyak yang masuk angkatan kerja nonmiliter. Hal ini membuktikan bahwa ke depan, manajemen pertahanan negara itu bisa ditopang oleh SDM unggulan seperti yang ada sekarang ini. Siswa SMA TN yang mengikuti ujian nasional 2004/2005 ada 293 orang. Dari program IPA 262 lulus 100%, sedangkan IPS dari 31, hanya satu yang ditunda kelulusannya. Lima lulusan meraih penghargaan, yakni tiga orang meraih Bintang Garuda Trisaksi Tarunatama, yakni Intan Nur Asma Hardani (emas), Burhanudin Arif Rahman (perak), dan Dimas Gery Anuraga (perunggu), sedangkan dua lainnya menerima penghargaan Bintang Kartika Cendekia, yaitu Rosa Vanda Meliana (IPA) dan Piki Tresna Hidayat (IPS). Dari seluruh lulusan, yang sudah diterima di berbagai perguruan tinggi 92 orang, yakni di ITB (18), UGM (70), IPB (2) dan ITS (2). Lainnya sedang dalam proses akhir seleksi calon Taruna TNI/Polri. Rinciannya, TNI Angkatan Darat (58), Angkatan Laut (15), Angkatan Udara (23), dan Polri (18). (pr-55m) |