| Senin, 04 Juli 2005 | KEDU & DIY |
115 PUS Ikuti KB Susuk GratisTEMANGGUNG - Sebanyak 115 ibu-ibu pasangan usia subur (PUS) mengikuti KB implant (susuk) yang dilakukan oleh petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Temanggung, di ruang Dharma Wanita dan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Sekretariat Daerah (Sekda), baru-baru ini. Mereka berasal dari 20 Kecamatan di Temanggung. Kegiatan yang diselenggarakan Polres Temanggung dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-59 ini merupakan kali keduanya. KB susuk gratis yang pertama dilaksanakan 10 Juli 2005 di RSU Temanggung, yang diikuti 150 PUS. Dengan demikian, total peserta KB susuk dalam HUT Bhayangkara ini berjumlah 265 PUS. ''Ini telah melebihi target karena sebetulnya kami hanya menargetkan 250 orang. Meski demikian, tidak ada masalah sebab kami juga telah menyiapkan cadangan susuk,'' ujar Kepala Kantor Pelayanan Keluarga Berencana (KB), Edi Hartanto. Selama ini, ujarnya, yang menyediakan berbagai alat kontrasepsi untuk keperluan KB di puskesmas maupun RSU di Temanggung adalah Kantor Pelayanan KB. Para peserta KB dalam acara ini, diantar oleh petugas KB di tiap-tiap Kecamatan. Susuk indoplan yang dipasangkan pada PUS itu berjangka waktu tiga tahun. Menurut keterangannya, kesadaran ber-KB di Temanggung ini termasuk tinggi. Karena hampir 80% dari 143.090 PUS di Temanggung telah mengikuti KB. Mereka telah menggunakan berbagai alat kontrasepsi, seperti IUD (spiral), kondom, susuk, suntik, medis operatif wanita (MOW), dan untuk pria (MOP). Hingga bulan Mei kemarin yang paling banyak digunakan adalah KB dengan cara suntik, yakni 45.817 PUS. Menurut Kepala DKK Temanggung, Masruchi, tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pelayanan KB kepada keluarga menengah ke bawah, karena mereka terkadang masih kesulitan biaya. ''Pemasangan susuk biasanya hanya dilakukan di RSU. Kalau di puskesmas, meskipun pemasangan alat kontrasepsi dan perawatan KB gratis, tetapi tidak melayani pemasangan susuk gratis,'' katanya. Golongan menengah ke bawah ini, lanjutnya, belum dapat melakukan KB mandiri sebagaimana golongan menengah ke atas. Karena KB yang sifatnya mandiri tersebut juga berkaitan dengan biaya pribadi. Meskipun di era reformasi ini KB sering kali distigmakan sebagai program orde baru, tetapi sebenarnya masih kontekstual. Hal tersebut berkaitan dengan tujuan KB untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin tinggi. Di samping itu juga untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. ''Kalau jarak kehamilan dapat dijaga, kesehatan ibu maupun perawatan anak kemungkinan besar dapat terjamin,'' ujarnya. (hsf-55d) |