logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Juli 2005 BUDAYA
Line

68 Tahun Ngesti Pandowo

Tetap Pentas untuk Menutup Defisit

DUA orang bocah tiba-tiba menyeruak masuk ke atas panggung. Dari matanya terlihat ketertegunan tatkala melihat dua wajah seram yang berdiri tepat di depannya. Oleh kedua raksasa tersebut, salah satu anak tersebut diberi mainan kuda kepang.

Merasa tidak mendapat jatah mainan kuda, seorang bocah lainnya langsung balik ke dalam panggung dengan wajah cemberut. Ditunggu beberapa saat bocah itu tidak muncul-muncul, raksasa tersebut merayu bocah tadi agar mau kembali ke panggung.

Bahkan rengekan bak anak kecil tak membuat bocah tersebut bergeming. Sementara itu, salah satu bocah yang ada di panggung malah terlihat asyik memainkan kuda kepangnya, seolah tak menggubris adegan rengekan itu.

Tentu saja adegan lucu tersebut mengundang tawa ratusan penonton yang memadati gedung Ki Nartosabdo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu malam (2/7).

Begitu balik ke panggung, tawa penonton kembali menyeruak. Pasalnya, bocah itu diberi mainan kuda kepang yang berukuran besar. Terang saja dia kewalahan memainkannya. Sang bocah pun kembali mutung masuk ke panggung.

Penggalan adegan itu terekam dalam pementasan "Abimanyu Gendong (Semar Tambal)" yang dilakonkan Wayang Orang Ngesti Pandowo dalam rangka ulang tahunnya yang ke-68.

Ya, enam dasawarsa lebih WO Ngesti Pandowo mampu bertahan di belantika kesenian tradisional. Enam dasawarsa itu pula perjalanan kelompok kesenian legendaris tersebut banyak melewati pasang surut.

Tonggak Sejarah

Sejak berdiri 1 Juli 1937, Ngesti Pandowo memberikan banyak tonggak sejarah dunia kesenian di Semarang. Dari mulai gedung pementasan, jadwal main, kisah hidup pemain, hingga ke masalah honor, mengungkapkan banyak kisah tersendiri.

Dalam pementasan malam itu, diceritakan Arjuna (Sunar Wiwik) pergi meninggalkan keluarganya. Sang istri, Subadra (Lestari), bersama putranya, Abimanyu (Bambang Yasa Rajasa Sadono) mengadu kepada kakaknya, Prabu Baladewa.

Oleh Baladewa, Subadra akan dijodohkan dengan raja dari negara Tiris Dento, yakni Prabu Tedjomurti. Rupanya itu hanya merupakan siasat agar Arjuna mau kembali ke tengah keluarga. Yang bisa menenangkan Arjuna hanyalah Semar (Djoko Sungkono).

Setelah dinasihati Semar, Arjuna menyadari kekeliruannya dan disuruh meminta maaf kepada Prabu Kresna (Bambang S) yang selalu bisa menjernihkan suasana.

Sebelumnya, pada 1 Juli, seluruh anggota berziarah ke pemakaman Bergota. ''Kami ziarah ke makam Sastrosabdo, Ki Nartosabdo, Sastrosudirjo, dan Kusni. Sebenarnya ada lima tokoh pendiri, akan tetapi berhubung makam Dardosabdo berada di Surabaya kami mengurungkannya," ujar Cicuk Sastrosoedirdjo BcHK selaku pimpinan.

Saat ini, anggota Ngesti Pandowo berjumlah 90 orang. Mereka rata-rata masih aktif mengisi pementasan seminggu sekali di Gedung Kinartosabdo TBRS Semarang. "Setiap bulannya kami selalu devisit Rp 2-3 juta. Untuk menutup kekurangan itu kami selalu mengadakan pementasan rutin tiap minggu," jelasnya. (Fahmi ZM-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA