| Sabtu, 02 Juli 2005 | SALA |
Di Balik Kegagalan Incumbent (3-Habis)Slogan Pilih dengan Hati Nurani Belum Laku DijualPEMILIHAN kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Boyolali telah usai. Pesta rakyat itu telah berakhir dengan lancar, damai, dan sukses. Secara de facto pasangan calon bupati (cabup) Sri Moeljanto dan calon wakil bupati (cawabup) Seno Samodro yang dicalonkan Partai Golkar memenangi pilkada. Pasangan ini memperoleh 43.7655 suara atau 42,94%. Kemenangan pilkada berarti memenangi pesta rakyat. Pilkada yang merupakan perwujudan demokratisasi itu memang disambut dengan antusiasme rakyat. Mereka menyambut dengan luapan kegembiraan dan berharap mendapat pimpinan yang dikehendaki rakyat. Mereka mengaku tidak lagi memilih kucing dalam karung. Sebelum dipilih, semua cabup dan cawabup telah "dipamerkan" kepada rakyat. Mereka dicalonkan partai dengan seleksi yang ketat. Masing-masing partai mempunyai mekanisme tersendiri dalam memilih dan menentukan calon. Apapun mekanisme pada hakekatnya untuk mendapatkan calon yang berkualitas dan dikehendaki rakyat. Setelah mekanisme dilalui, pasangan cabup dan cawabup berhadapan dengan rakyat. Pasangan satu dengan lainnya berlomba-lomba mencari simpatik dengan menjual program dan janji-janji, bahkan untuk merebut hati rakyat, tidak segan-segan melakukan berbagai cara. Dalam merebut hati rakyat memang banyak cara dilakukan. Misalnya yang dilakukan oleh pasangan Suhadi-Muhadjir yang dicalonkan PKS dan Partai Demokrat, yakni dengan menggunakan slogan "Pilihlah dengan Hati Nurani". Pasangan yang berlatar belakang pendidik itu lebih mengedepankan kejujuran dan hati yang tulus dalam memilih calon pemimpin. Tergiur Materi Pasangan itu beranggapan dengan slogan "Pilihlah dengan Hati Nurani" rakyat akan bicara apa adanya, dan menentukan pilihan dengan hati yang bersih, bahkan pasangan itu juga mempunyai obsesi agar rakyat tidak akan tergiur oleh materi. Tetapi harapan dan kenyataan ternyata tidak mesti sama. Hati nurani tampaknya belum layak dijual. Terbukti pasangan ini hanya berada di peringkat ke empat dengan memperoleh 10.091 suara atau 9,90%. Namun demikian, Suhadi mengaku tidak berkecil hati menerima kekalahan ini. Dia mengaku sudah berbuat yang terbaik untuk rakyat atau massa pendukungnya. "Itulah hasil terbaik yang telah kami jual kepada rakyat. Bila ternyata belum dikehendaki kami terima dengan ikhlas dan legawa," tandas Suhadi. Ketua Partai Demokrat, Lilik Haryanto punya pendapat lain. Masyarakat masih memerlukan waktu yang lama, bahkan mencapai puluhan tahun untuk menuju ke slogan tersebut. Bila kehidupan masyarakat sudah tertata dan demokrasi sudah berjalan baik, maka hati nurani layak dijual. Sekarang ini tampaknya masih mengarah kepada materi. "Tapi kami bisa menerima dan legawa. Ini sebuah realitas yang harus diterima dengan kebesaran jiwa," tegas Lilik. Pasangan KH Habib Masturi-P Sarijo yang diberangkatkan oleh PKB, PPP, dan PKPB, tidak mau kalah dengan pasangan Suhadi-Muhadjir. Pasangan ini lebih mengedepankan pendekatan personel dan memperkuat komunitas organisasi keagamaan. Habib adalah Wakil Ketua Rois Syuriah Pimpinan Cabang (PC) NU Boyolali. Dengan bekal pimpinan organisasi keagamaan, mantan wakil Bupati Boyolali itu menjelajah desa dengan melakukan pengajian. Dalam sehari Habib mengaku melakukan pengajian sebanyak 4-5 kali. Bila dihitung selama satu setengah bulan dia sudah melakukan pengajian sebanyak 150 kali. Dalam berbagai pengajian, Habib mengaku tidak pernah memberi apa-apa dan tidak pernah pula memberi aspal dan semen. "Yang kami jual adalah moral dan kejujuran. Kalau pun kami akhirnya kalah, paling tidak kami tidak melakukan kebohongan," kata Habib. (Suti Harjoyo-36h) |