logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juli 2005 PANTURA
Line

Banyak Hutan dan Persawahan

MEMASUKI wilayah Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, kita akan disuguhi indahnya perbukitan Gunung Dieng. Hawa sejuk, jalan panjang berkelok-kelok, tebing maupun jurang itu memberi kesan tersendiri bagi mereka yang kebetulan melintasi maupun singgah di tempat itu.

Paninggaran berada pada ketinggian 600-700 meter dari permukaan laut (dpl), dengan jarak dari Ibu Kota Kajen sekitar 25 kilometer. Jumlah penduduknya mencapai 36.591 jiwa, terdiri atas 18.496 laki-laki dan 18.095 perempuan. Daerah itu dapat dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam, dengan kendaraan roda dua maupun mobil.

Sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani dan peternak. Hal yang membuat daerah ini lebih menarik lagi adalah masyarakatnya yang cukup ramah ketika diajak berinteraksi oleh para pendatang.

Namun siapa sangka wilayah tersebut masuk kategori daerah endemis malaria. Bahkan penyakit itu setiap tahun selalu menyerang penduduk. Meski demikian, jumlah penderita tidak dapat ditentukan (pasang surut).

Hingga kini, kenyataan seperti itu belum juga berubah. Padahal upaya untuk mengantisipasi penyakit malaria selalu dilakukan oleh petugas kesehatan setempat.

Menurut Kepala Puskesmas Kecamatan Paninggaran dokter Iskandar Zulkarnaen, berdasarkan data yang ada sampai Juni 2005, ditemukan 10 penderita malaria. Mereka berasal dari tiga desa endemis, yaitu Desa Paninggaran, Lumeneng, dan Notogiwang. Jumlah itu, menurut dia, cenderung menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebab, jumlah penderita pada tahun sebelumnya mencapai ratusan orang.

Iskandar juga menyatakan untuk menanggulangi penyakit malaria itu, berbagai upaya telah dilakukan termasuk memerintahkan 10 personel juru malaria dari puskesmas melakukan survei ke tiap-tiap desa. Mereka ditugaskan untuk mencari warga yang terindikasi menderita malaria, mengambil contoh darah mereka, dan melakukan pemeriksaan.

Kendala

Namun upaya yang dilakukan petugas mengalami banyak kendala karena minimnya sarana infrastruktur wilayah, terutama sarana jalan. Hal itu menghambat mobilitas petugas kesehatan untuk terjun ke 15 desa yang tersebar di daerah pegunungan tersebut. Kondisi wilayah juga membuat penanganan dengan cara pengasapan dinilai kurang efektif.

Padahal di wilayah tersebut, terdapat tempat-tempat tertentu yang disinyalir sebagai sarang perkembangbiakan nyamuk, di antaranya genangan air Sungai Genteng yang melintasi ketiga desa. Selain itu, di sekitar wilayah Paninggaran terdapat banyak areal hutan dan persawahan.

"Karena wilayah itu lembab, banyak genangan air, dan memiliki areal hutan, nyamuk berkembang biak lebih cepat," katanya.

Kondisi demikian diperparah dengan masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan arti penting kesehatan lingkungan. Warga yang masih terbiasa membuang sampah di sembarang tempat dan belum memperhatikan kebersihan lingkungan. Bahkan jumlah sarana prasarana mandi, cuci, kakus (MCK) masih sedikit.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan dokter H Sutanto Setyobudi MKes ketika dimintai konfirmasi mengatakan, pihaknya telah gencar melakukan penanganan, termasuk sosialisasi, penyuluhan kepada warga mengenai pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan arti penting kesehatan dan kebersihan lingkungan. Namun hingga kini upaya tersebut hanya mampu mengurangi saja, belum sampai memberantas secara total. Karena itu, dia berharap ada dukungan penuh dari warga untuk mewujudkannya.

Menurutnya, penyebab utama endemis di Paninggaran karena letaknya berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara yang dikenal sebagai daerah endemis malaria. (Wawan Hudiyanto-37m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA