| Sabtu, 02 Juli 2005 | WACANA |
Aisyiyah dan Dinamika DakwahOleh: Mufnaetty ShofaSEJARAH membuktikan, ketika kemerdekaan perempuan terpasung oleh budaya Jawa, KH A Dahlan, Pimpinan Muhammadiyah, berhasil memotivasi aktivitas perempuan tidak hanya menghabiskan waktunya dalam kegiatan domestik. Aisyiah komponen perempuan Muhammadiyah didirikan, sebagai bagian gerakan dakwah sosial, khususnya untuk kemajuan dan peningkatan harkat perempuan Indonesia sesuai kebutuhan saat itu. Dari muktamar ke muktamar, Aisyiyah selalu berusaha memperbarui dan meningkatkan perannya dalam memperjuangkan terbentuknya masyarakat madani sebagaimana pesan dalam Alquran, Surat Ali Imran: 110. Pada Muktamar Ke-45, 3-8 Juli 2005 di Malang, Aisyiyah mengagendakan program, meliputi bidang kesehatan, tablig, pengaderan dan pembinaan generasi muda, pendidikan, ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan sosial, partisipasi kebangsaan, pengkajian dan iptek, hukum dan hak asasi manusia, serta konsolidasi. Terdapat program khusus dalam menghadapi globalisasi, yaitu pembinaan keluarga untuk terwujudnya keluarga sakinah di tengah ancaman budaya global yang penuh dengan mengejar kesenangan dan kenikmatan materi serta konsumerisme. Program tersebut bukanlah hal yang baru, tetapi juga bukan hal yang usang, karena terbuka untuk berubah dan diperbarui. Gerakan dakwah Aisyiyah tidak mengenal kemapanan, namun tetap mapan dalam tujuan. Aisyiyah selalu berusaha inovatif. Berbagai amal usaha yang telah didirikan dan menyentuh hampir seluruh kehidupan, membuktikan mampu membaca kebutuhan masyarakat dan mampu melayani masyarakat. Kualitas layanan masyarakat yang dilakukan tidak sama antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, masing-masing memiliki keunggulan di samping kekurangan. Untuk inilah, selalu dilakukan peningkatan pembinaan amal usaha, konsolidasi kepemimpinan dan anggota. Menyadari pentingnya gerakan dakwah sosial di tengah bahaya ancaman budaya globalisasi, Aisyiyah berkepentingan meningkatkan dinamika gerakan dakwah. Tema Muktamar Aisyiyah kali ini, yang pelaksanaannya bersamaan dengan Muktamar Muhammadiyah, adalah "Meningkatkan Dinamika Gerakan Dakwah Sosial". Pimpinan Aisyiyah kembali meneguhkan peningkatan kepemimpinan yang memiliki visi, kompetensi, serta komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan mampu melakukan komunikasi dalam tatanan pergaulan lokal, nasional maupun global. Untuk memperoleh kualitas kepemimpinan tersebut dari satu orang bukanlah hal yang mudah, tetapi karena kepemimpinan bersifat kolegial, kualitas tersebut dapat dipenuhi dengan kepemimpinan kolektif dalam sebuah tim yang terdiri dari berbagai keahlian. Kepemimpinan kolegial akan bermakna ketika pimpinan mampu menghidupkan kerjasama dalam menghimpun dan mengombinasikan sumberdaya yang ada serta mampu menghidupkan permusyawartan. Optimalisasi pembaruan dan peningkatan tidak saja dilakukan dalam wadah Aisyiyah saja tetapi telah berproses memasuki struktur kepemimpinan Muhammadiyah. Sidang Tanwir di Makassar 2003 mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mengadakan perubahan anggaran dasar pada Muktamar Ke-45 Muhammadiyah, tentang penempatan perempuan dalam kepemimpinan Muhammadiyah. Keberadaan perempuan dalam kepemimpinan Muhammadiyah memang bukan hal yang baru karena pernah terealisasi pada tahun enam puluhan. Utamakan Amalan Perhatian Aisyiyah terhadap permasalahan kemanusiaan kadang menimbulkan tanda tanya bagi sebagian orang. Diakui atau tidak dalam menjalankan misinya Aisyiyah lebih mengutamakan amalan nyata dan kurang memperhatikan publikasi. Publikasi rutin dilakukan melalui Pers Aisyiyah yaitu Suara Aisyiyah sebagai sarana informasi dan komunikasi pimpinan dan anggota di seluruh Indonesia. Banyak produk rekomendasi yang berupa nilai-nilai kemanusiaan hasil permusyawaratan dari Muktamar Aisyiyah tingkat pusat, musyawarah wilayah sampai daerah dan cabang. Sikap Aisyiyah yang menolak pengiriman peserta kontestan pada acara pemilihan Miss Universe 2005, yang diwakili personal Pimpinan Pusat, bukanlah hal yang baru apalagi sikap reaktif tanpa dasar. Apa yang dilakukan adalah bagian dari perjuangan untuk meningkatkan harkat perempuan baik dalam pergaulan nasional maupun dalam pergaulan global. Keprihatinan Aisyiyah adalah karena pada tahapan serta proses penilaian ratu kecantikan Miss Universe peserta belum berdaya menolak tampil dengan kostum minimalis yang lengket dengan kulit dan dipertontonkan. Keikutsertaan dalam kontes ratu kecantikan Miss Universe bukan satu-satunya cara hadir dalam pergaulan global. Memasuki pergaulan global memang perlu dan sah-sah saja tetapi mempertahankan budaya nasional yang kental dengan nilai-nilai agama serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan khususnya harkat perempuan adalah jauh lebih utama. Kita tidak boleh menghindari tuntutan pergaulan global. Sejauh ini pernahkah kita mencoba menembus sistem pemilihan ratu kecantikan Miss Universe tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang kita miliki? Masih banyak cara yang arif, bijaksana dan rasional untuk membuktikan eksistensi bangsa ini dalam pergaulan global. Di Jawa Tengah Aisyiyah memiliki puluhan panti asuhan putri yang tersebar di beberapa daerah. Setiap tahunnya siap menampung anak-anak yang membutuhkan santunan dan bimbingan langsung sesuai fasilitas yang ada. Selalu siap dan siaga terhadap kemungkinan keadaan darurat yang membutuhkan tambahan layanan karena musibah atau bencana alam sehingga banyak korban menjadi duafa dan yatim piatu. Terhadap kasus busung lapar dan kurang gizi serta lumpuh layu yang mencuat di media belakangan ini juga tidak luput dari perhatian. Secara resmi Pimpinan Pusat Aisyiyah mengintruksikan dilaksanakannya pekan PIN di rumah sakit, rumah bersalin dan balai pengobatan yang tersebar di daerah-daerah termasuk Jawa Tengah. Upaya mengaktifkan dan meningkatkan layanan posyandu yang berdomisili di ranting-ranting juga telah dilakukan. Legalnya amal usaha di kesehatan, panti asuhan putri dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), serta pendidikan setingkat akademi seperti Akbid, Akper dll makin memantapkan aktivitas dan selalu siap melayani masyarakat serta dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai kerjasama telah dilakukan Aisyiyah baik tengah pemerintah setingkat maupun dengan pihak swasta dalam dan luar Negeri serta kerjasama dengan organisasi wanita setingkat. Mudah-mudahan Muktamar ke -45 ini, dinamika gerakan dakwah Aisyiyah semakin dapat dinikmati oleh masyarakat. (11) -Dra Hj Mufnaetty Shofa, Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jateng. |